Bandung, Merdekapostnews.top
Upaya memutus siklus pencemaran di kawasan Sub-Daerah Aliran Sungai (Sub-DAS) Citarik, Kabupaten Bandung, membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Melalui pendekatan Living Lab, tim riset Laboratorium Hidup Citarum berupaya mengintegrasikan pengelolaan air, limbah, dan pangan di Desa Cibodas dan Desa Padamukti.
Pada 17 Oktober 2026, tim riset menegaskan bahwa persoalan pencemaran sungai tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu jenis penanganan. Di kawasan Sub-DAS Citarik, persoalan kualitas air, pengelolaan limbah, dan aktivitas pertanian saling berkaitan sehingga membutuhkan solusi yang terpadu dan berkelanjutan.
Berdasarkan pemetaan proses bisnis (Business Process Model and Notation/BPMN) serta analisis akar masalah (Root Cause Analysis/RCA), tim mengidentifikasi praktik pembuangan limbah domestik, termasuk blackwater dan greywater, serta limbah industri ke saluran terbuka tanpa pemilahan sebagai salah satu persoalan utama yang perlu ditangani.
Tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan perilaku masyarakat, tetapi juga keterbatasan pengelolaan limbah sejak dari sumbernya serta belum terintegrasinya berbagai pihak dalam satu sistem penanganan.
“Kita perlu melihat persoalan ini sebagai satu rangkaian, bukan masalah yang berdiri sendiri. Ketika limbah tidak dikelola sejak sumbernya, beban pencemar dapat terbawa ke saluran dan sungai. Karena itu, diperlukan inovasi sosial untuk mendorong perubahan kebiasaan yang berjalan beriringan dengan perbaikan infrastruktur,” ujar Irfan Rachman Raharja, Koordinator Riset Living Lab Citarum.
Pencemaran Sungai Berkaitan dengan Pangan dan Penghidupan Petani
Pencemaran sungai tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan sektor pangan dan penghidupan masyarakat, khususnya petani.
Kualitas air yang digunakan untuk irigasi memiliki kaitan dengan kegiatan budi daya, hasil panen, dan kesejahteraan petani. Karena itu, dalam kerangka Theory of Change (ToC), tim riset menempatkan persoalan pencemaran dan kualitas air sebagai bagian dari rangkaian masalah yang perlu dikaji bersama kondisi pertanian serta kesejahteraan masyarakat.
“Jika kualitas air irigasi terganggu, dampaknya perlu dikaji sampai ke praktik budi daya dan produktivitas pertanian. Karena itu, kami ingin mengumpulkan bukti dan memahami hubungan antarpersoalan sebelum menyusun rekomendasi,” kata Jaenudin, salah satu periset.
Melalui kajian tersebut, tim berupaya memahami hubungan antara kondisi lingkungan, aktivitas pertanian, dan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, rekomendasi yang dihasilkan diharapkan dapat menjawab persoalan secara menyeluruh.
Living Lab, Menguji Solusi Bersama Masyarakat
Melalui program “Laboratorium Hidup Citarum untuk Diversifikasi Pangan Lokal”, tim mengembangkan model Water–Waste–Food Nexus, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan pengelolaan air, limbah, dan pangan.
Model tersebut diuji melalui pendekatan Living Lab, yakni ruang pembelajaran dan eksperimen di lokasi nyata. Melalui pendekatan ini, peneliti dan para mitra dapat menguji solusi, mengevaluasi hasilnya, serta melakukan perbaikan berdasarkan pengalaman dan kondisi di lapangan.

Program ini menerapkan kolaborasi Quadruple Helix yang melibatkan empat kelompok, yaitu akademisi atau peneliti, pemerintah, komunitas masyarakat, dan pelaku usaha.
Keempat kelompok tersebut diharapkan tidak hanya menjadi penerima hasil penelitian, tetapi juga terlibat aktif dalam merancang dan menguji solusi yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, serta kondisi setempat.
Ketua Tim Periset, Reni Suwarso, menjelaskan bahwa pendekatan integratif diperlukan agar penyelesaian persoalan lingkungan tidak berhenti pada rekomendasi teknis semata.
Melalui pembelajaran bersama, uji coba secara bertahap, dan evaluasi berkala, tim riset bersama para mitra diharapkan dapat menemukan pola kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik desa.
Dari Pemetaan Menuju Tindakan Nyata
Tahapan selanjutnya meliputi penguatan data kondisi awal, penyempurnaan pemetaan peran dan proses, serta pengujian intervensi bersama para mitra.
Hasil pemantauan akan dikaji dengan memperhatikan kualitas data dan kondisi nyata di lapangan. Langkah ini diperlukan agar rekomendasi yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dan lebih mudah diterapkan oleh masyarakat maupun pemerintah setempat.
Tujuan akhir program ini bukan sekadar menghasilkan model di atas kertas, melainkan membangun pola kerja kolaboratif yang dapat membantu mengurangi pencemaran, memperbaiki pengelolaan limbah, serta memperkuat keterkaitan antara kelestarian lingkungan dan sistem pangan lokal.
Melalui keterlibatan berbagai pihak, pendekatan ini diharapkan menjadi salah satu upaya untuk mendorong penanganan pencemaran di kawasan Sub-DAS Citarik secara terpadu dan berkelanjutan.
Tentang Program Laboratorium Hidup Citarum
“Laboratorium Hidup Citarum untuk Diversifikasi Pangan Lokal: Model Integrasi Water–Waste–Food Nexus Berbasis Budi Daya Hanjeli” merupakan riset aksi transdisipliner yang menghubungkan persoalan air, limbah, dan pangan melalui kolaborasi lintas pihak.
Program ini didukung oleh Bestari Saintek (Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi), yang diinisiasi oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Informasi lebih lanjut:
Kontak: Irfan Rahman Raharja
Jabatan: Koordinator Riset
Nama riset: Laboratorium Hidup Citarum untuk Diversifikasi Pangan Lokal: Model Integrasi Water–Waste–Food Nexus Berbasis Budi Daya Hanjeli
Telepon/WhatsApp: 0812-9604-1620
Sekretariat: PUSKAPITA UI, Gedung H Lantai 6, FISIP Universitas Indonesia, Depok.





