Merdeka Post News
No Result
View All Result
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 3
    • Home – Layout 4
    • Home – Layout 5
  • Berita Terkini
  • Headline
  • Nasional
  • Peristiwa
Subscribe
Merdeka Post News
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 3
    • Home – Layout 4
    • Home – Layout 5
  • Berita Terkini
  • Headline
  • Nasional
  • Peristiwa
No Result
View All Result
Merdeka Post News
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita Terkini
  • Headline
  • Nasional
  • Peristiwa
Home Berita Terkini

Hanjeli, Alternatif Pangan Lokal untuk Memperkuat Ketahanan Pangan di Jawa Barat

by PIMRED
Oktober 17, 2026
in Berita Terkini
0
Hanjeli, Alternatif Pangan Lokal untuk Memperkuat Ketahanan Pangan di Jawa Barat
Share on FacebookShare on Twitter

Kab.Bandung, Merdekapostnews.top

Program Laboratorium Hidup Citarum mengajak petani dan mitra desa mengembangkan pangan lokal sekaligus mengintegrasikan pengelolaan air, limbah, dan pertanian.

Di tengah kebutuhan pangan masyarakat yang masih sangat bergantung pada beras, pengembangan sumber pangan lokal menjadi salah satu langkah penting untuk memperluas pilihan konsumsi masyarakat. Melalui program riset “Laboratorium Hidup Citarum untuk Diversifikasi Pangan Lokal”, tim peneliti memperkenalkan budi daya hanjeli sebagai salah satu alternatif pangan yang layak dikaji dan dikembangkan bersama petani di Kabupaten Bandung.

Hanjeli (Coix lacryma-jobi L.), yang juga dikenal sebagai jali, merupakan tanaman serealia lokal yang dapat diolah menjadi bahan pangan. Tanaman ini berpotensi dikembangkan di luar sistem persawahan konvensional, termasuk pada lahan yang sesuai dengan persyaratan agronomisnya.

Dalam penelitian ini, benih yang digunakan adalah hanjeli pulut kultivar lokal Watani. Pengembangan budi daya hanjeli dirancang untuk dilakukan di lahan sempadan Sungai Citarik, Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung.

Kegiatan riset berlokasi di Desa Cibodas dan Desa Padamukti, Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung. Kedua desa tersebut menjadi ruang pembelajaran bersama untuk menguji praktik budi daya, mengumpulkan data kondisi lingkungan, serta memahami kebutuhan petani dan pemerintah desa.

Pengembangan diversifikasi pangan tidak cukup hanya dengan memperkenalkan komoditas baru. Upaya tersebut juga membutuhkan dukungan pengetahuan mengenai teknik budi daya, akses pengolahan hasil panen, peluang pasar, serta penguatan kelembagaan lokal agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Kami ingin melihat hanjeli bukan hanya sebagai tanaman, tetapi sebagai pintu masuk untuk membangun pilihan pangan lokal yang lebih beragam dan memperkuat hubungan antara pertanian, lingkungan, dan ekonomi masyarakat,” ujar Irfan Rachman Raharja, Koordinator Riset Laboratorium Hidup Citarum.

Integrasikan Pengembangan Pangan dengan Pengelolaan Lingkungan

Selain mengembangkan pangan lokal, tim peneliti juga menempatkan pengelolaan lingkungan sebagai bagian penting dalam sistem pangan. Hal ini karena kualitas air Sungai Citarik, pengelolaan limbah, dan aktivitas pertanian memiliki keterkaitan satu sama lain.

Untuk memahami kondisi lingkungan, tim menggunakan data dasar (baseline) kualitas air sebagai acuan dalam menentukan kondisi awal serta menyusun kebutuhan pemantauan berikutnya.

Hasil pengujian kualitas air akan ditafsirkan dengan mempertimbangkan informasi mengenai lokasi dan waktu pengambilan sampel, metode laboratorium, serta prosedur kendali mutu. Langkah ini diperlukan agar hasil kajian dan rekomendasi yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan.

Melalui pendekatan tersebut, pengembangan hanjeli tidak hanya diarahkan pada peningkatan pilihan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memahami keterkaitan antara pertanian dan kondisi lingkungan di sekitar Sungai Citarik.

Petani Melihat Peluang Budi Daya dan Nilai Ekonomi Hanjeli

Bagi petani, pengembangan komoditas baru perlu mempertimbangkan kesesuaian lahan, risiko budi daya, serta peluang pendapatan. Hanjeli menjadi salah satu tanaman yang menarik untuk diuji lebih lanjut, terutama dengan memperhatikan hasil panen pada demonstrasi awal dan potensi nilai ekonominya.

Ketua Kelompok Tani Hanjeli Desa Cibodas, Tito Warsito, mengatakan bahwa pengembangan tanaman tersebut tetap membutuhkan pendampingan dan pencatatan hasil produksi secara konsisten.

“Bagi kelompok tani, pilihan komoditas perlu mempertimbangkan kondisi lahan, risiko budi daya, dan peluang pendapatan. Hanjeli menarik untuk dicoba berdasarkan hasil panen saat demonstrasi pertama dan nilai ekonominya. Namun, untuk budi daya, harus dilakukan melalui pendampingan serta pencatatan produksi yang konsisten,” kata Tito Warsito.

Sejumlah petani juga menyampaikan bahwa berdasarkan pengalaman mereka di lapangan, tanaman hanjeli dinilai relatif tidak banyak mengalami gangguan dari tikus dan burung. Pengalaman tersebut merupakan hasil pengamatan petani dari kelompok tani yang dibentuk untuk mengembangkan hanjeli.

Meski demikian, pengamatan tersebut masih perlu didokumentasikan secara sistematis selama beberapa musim tanam agar dapat menjadi bahan evaluasi yang lebih terukur.

Selain potensi budi daya, petani juga melihat peluang ekonomi dari penjualan biji hanjeli. Salah seorang petani, Bapak Iwan, menyebutkan bahwa harga yang pernah ditemuinya dapat mencapai Rp10.000 per kilogram untuk biji hanjeli dalam kondisi kering.

Harga tersebut merupakan informasi berdasarkan pengalaman di lapangan dan tidak dapat dianggap sebagai harga pasar yang berlaku secara umum. Nilai jual hanjeli dapat berubah sesuai dengan mutu produk, bentuk pengolahan, volume penjualan, lokasi, dan waktu transaksi.

Karena itu, pencatatan hasil produksi dan perkembangan harga menjadi bagian penting dalam menilai kelayakan ekonomi budi daya hanjeli bagi petani.

Didukung Penelitian Agronomi Sebelumnya

Pengembangan hanjeli di Jawa Barat juga memiliki landasan penelitian agronomi yang telah dilakukan sebelumnya. Sejumlah penelitian dari Universitas Padjadjaran telah mengkaji keragaman genetik, komponen hasil, serta respons pertumbuhan dan produktivitas tanaman hanjeli.

Salah satu penelitian yang dilakukan Ruminta dan tim pada 2017 membahas respons pertumbuhan dan hasil tanaman hanjeli (Coix lacryma-jobi L.) terhadap jarak tanam dan pemberian pupuk pelengkap cair. Penelitian tersebut menjadi salah satu referensi dalam memahami pentingnya teknik budi daya yang sesuai bagi pertumbuhan dan hasil tanaman.

Berbagai kajian tersebut menunjukkan bahwa pemilihan genotipe dan penerapan teknik budi daya perlu disesuaikan dengan kondisi setempat. Hasil panen juga tidak dapat digeneralisasi begitu saja karena dipengaruhi oleh kondisi percobaan, karakteristik lahan, dan faktor lingkungan lainnya.

Dengan demikian, pengembangan hanjeli di Desa Cibodas dan Desa Padamukti perlu didukung pengujian lapangan serta pencatatan yang konsisten agar potensi tanaman tersebut dapat dinilai secara lebih objektif.

Living Lab Dorong Kolaborasi Lintas Pihak

Melalui pendekatan Living Lab dan kolaborasi Quadruple Helix, program Laboratorium Hidup Citarum mempertemukan empat kelompok pemangku kepentingan, yaitu peneliti atau akademisi, pemerintah, kelompok tani dan masyarakat, serta pelaku usaha.

Kolaborasi ini diarahkan untuk menghasilkan bukti berdasarkan kondisi lapangan, menyempurnakan praktik budi daya dan pengelolaan limbah, serta menyusun rekomendasi yang dapat dimanfaatkan oleh mitra desa dan pemerintah daerah.

Pendekatan Living Lab memungkinkan berbagai solusi diuji bersama para pihak yang terlibat dalam konteks nyata. Hasil pengujian selanjutnya dievaluasi sebagai dasar untuk menentukan langkah perbaikan dan pengembangan program.

Hasil pengujian berikutnya juga akan menjadi bahan pertimbangan untuk menilai kelayakan penerapan model serta kemungkinan pengembangannya di lokasi lain.

Melalui kerja sama tersebut, pengembangan hanjeli diharapkan tidak hanya memperluas pilihan pangan lokal, tetapi juga mendukung penguatan ekonomi masyarakat dan mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih terpadu.

Tentang Program Laboratorium Hidup Citarum

“Laboratorium Hidup Citarum untuk Diversifikasi Pangan Lokal: Model Integrasi Water–Waste–Food Nexus Berbasis Budi Daya Hanjeli” merupakan riset aksi interdisipliner yang menghubungkan isu air, limbah, dan pangan.

Program ini menggunakan pendekatan Living Lab, yaitu pengembangan dan pengujian solusi bersama para pengguna dalam konteks nyata.

Program tersebut didukung oleh Bestari Saintek (Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi), yang diinisiasi oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Informasi lebih lanjut:

Kontak: Irfan Rachman Raharja

Jabatan: Koordinator Riset

Program: Laboratorium Hidup Citarum untuk Diversifikasi Pangan Lokal

Telepon/WhatsApp: 0812-9604-1620

Sekretariat: PUSKAPITA UI, Gedung H Lantai 6, FISIP Universitas Indonesia, Depok.

Referensi dan Catatan Verifikasi

Ruminta, dkk. (2017). “Respons pertumbuhan dan hasil tanaman hanjeli (Coix lacryma-jobi L.) terhadap jarak tanam dan pupuk pelengkap cair.” Jurnal Agrikultura. https://journals.unpad.ac.id/agrikultura/article/view/14958/0

Tim Peneliti (2026). Dokumen internal Program Laboratorium Hidup Citarum serta catatan wawancara dan observasi lapangan.

Previous Post

Putus Siklus Pencemaran Citarik, Perlu Kerja Sama Semua Pihak

Next Post

Pembegalan Terjadi di Jalan YC Oevang Oeray Sintang, Korban Patah Tulang Kaki dan Jari Tangan, Pelaku Kabur

Next Post
Pembegalan Terjadi di Jalan YC Oevang Oeray Sintang, Korban Patah Tulang Kaki dan Jari Tangan, Pelaku Kabur

Pembegalan Terjadi di Jalan YC Oevang Oeray Sintang, Korban Patah Tulang Kaki dan Jari Tangan, Pelaku Kabur

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Pembegalan Terjadi di Jalan YC Oevang Oeray Sintang, Korban Patah Tulang Kaki dan Jari Tangan, Pelaku Kabur
  • Hanjeli, Alternatif Pangan Lokal untuk Memperkuat Ketahanan Pangan di Jawa Barat
  • Putus Siklus Pencemaran Citarik, Perlu Kerja Sama Semua Pihak
  • TNI dan Warga Laksanakan Budaya Gotong Royong, Merupakan Kepribadian Bangsa Indonesia
  • Dukung Kebersihan Lingkungan Pendidikan, Babinsa Koramil Badau Kopda Dwi Apriyanto Ikuti Karya Bakti di SMAN 1 Badau

Recent Comments

  1. News mengenai 26 Organisasi Pers dan Advokat Minta Kapolres Metro Bekasi Jaga Sinergitas Terhadap Jurnalis
  2. Dari warlok mengenai Maraknya Kafe Remang-Remang di Buak Limbang Bebas Beroperasi, Diminta Pihak Terkait Tindak Tegas
  3. Muhhasim mengenai Diduga Kuat Selama Ini Kafe Hiburan Malam Tempat Transaksi Narkoba Milik Bos Berinisial AS Bebas Beroperasi, Siapa Aktor di Baliknya?

Tentang Kami

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik

Hak Cipta merdekapostnews.top © 2025 Web Development PT.TAB | TabWeb

No Result
View All Result
  • Homepages
    • MerdekaPostNews.id
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Berita Terkini
  • Headline
  • Nasional
  • Peristiwa

Hak Cipta merdekapostnews.top © 2025 Web Development PT.TAB | TabWeb

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In