KLATEN, Merdekapostnews.top
Ribuan warga memadati Bukit Sidoguro pada perayaan Grebeg Syawal yang digelar Sabtu pagi ini. Di tengah riuh dan tawa, bukan hanya ketupat dan gunungan yang menjadi pusat perhatian, melainkan juga suara-suara warga yang menegaskan makna mendalam dibalik tradisi lebaran ketupat tersebut, kebersamaan, rasa syukur, dan pemeliharaan ikatan sosial antar generasi (28/03/2026).
Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan daerah dan forkopimda, termasuk Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Ketua TP PKK Fahrani Hamenang, Ketua DPRD Klaten Edy Sasongko, Kapolres Klaten, serta Komandan Kodim 0723 Klaten. Kehadiran mereka memberi makna lebih dari sekadar seremoni, itu adalah wujud dukungan terhadap pelestarian tradisi dan penguatan ikatan sosial.
Para pemimpin tampak berbaur dengan masyarakat, menyaksikan prosesi dan ikut merasakan kegembiraan. Interaksi sederhana, dalam salam, senyum, dan sapaan, menjadi simbol bahwa silaturahmi tidak hanya terjadi antarwarga, tetapi juga antara warga dan pemimpin. Dalam konteks ini, Grebeg Syawal berperan sebagai ruang publik yang memupuk rasa saling memiliki dan tanggung jawab bersama.
Panitia menyediakan 1.000 porsi ketupat dan 18 gunungan ketupat yang disusun rapi sebagai simbol berbagi. Saat gunungan diarak dan dibagikan, suasana berubah menjadi momen kolektif di mana warga saling berebut bukan semata untuk mendapatkan makanan, melainkan untuk merasakan berkah dan ikut serta dalam ritual yang mengikat komunitas. “Bagi kami, ini bukan soal siapa dapat banyak atau sedikit. Grebeg Syawal mengingatkan bahwa kita saling membutuhkan,” ujar Bagus, salah seorang peserta yang sudah dua kali hadir dalam perayaan serupa. Pernyataan Bagus mencerminkan pengalaman banyak warga yang melihat tradisi ini sebagai penguat solidaritas sosial.
Beberapa warga menekankan bahwa makna Grebeg Syawal melampaui aspek ritual. Menurut mereka, anyaman ketupat yang saling terkait adalah metafora hubungan sosial setiap lembar anyaman menahan dan menopang yang lain, sama seperti warga yang saling menopang dalam suka dan duka. “Ketupat itu seperti keluarga besar. Kalau satu putus, yang lain ikut merasakan,” kata Siti, ibu rumah tangga yang datang bersama anak dan cucunya. Ucapan Siti menegaskan bahwa tradisi ini menjadi wahana pendidikan nilai-nilai gotong royong bagi generasi muda.
Kehadiran pejabat daerah dan forkopimda, termasuk Bupati Klaten dan Ketua DPRD, memberi dimensi lain pada perayaan. Namun warga menilai kehadiran pemimpin bukan sekadar seremoni, itu adalah pengakuan terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal. “Ketika pemimpin hadir, kami merasa tradisi ini dihargai. Itu memberi semangat untuk terus menjaga warisan ini,” terang Arif seorang tokoh masyarakat setempat. Interaksi sederhana antara warga dan pemimpin salam, senyum, dan sapaan menjadi simbol bahwa silaturahmi berjalan dua arah, warga merasakan perhatian, sementara pemimpin menyerap aspirasi dan kebersamaan masyarakat.
Musik tradisional turut memperkaya makna perayaan. Penampilan orkes keroncong Om Lorenza, dengan lagu-lagu nostalgia seperti “Tambal Bal”, mengundang reaksi hangat dari berbagai usia. Bagi generasi tua, alunan keroncong memantik kenangan, bagi generasi muda, ritme dan suasana membuka ruang untuk ikut merasakan kehangatan tradisi. “Musik membuat suasana lebih hidup. Kami bernyanyi bersama, tertawa bersama itu bagian dari silaturahmi,” ujar Rudi, pemuda yang ikut bergoyang saat orkes memainkan lagu andalan. Pernyataan Rudi menunjukkan bagaimana hiburan tradisional berfungsi sebagai jembatan antar generasi.

Selain aspek emosional, warga juga menyoroti dimensi spiritual dan moral dari Grebeg Syawal. Nasi di dalam ketupat dilihat sebagai lambang kesederhanaan dan keikhlasan, pembagian makanan menjadi praktik nyata berbagi berkah setelah bulan Ramadhan. “Setelah berpuasa, kita diajak untuk berbagi. Ini bentuk syukur yang konkret,” kata Arif seorang peserta dari bayat. Ucapan ini menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar tontonan, melainkan praktik nilai yang menguatkan rasa empati dan tanggung jawab sosial.
Meski suasana berebut ketupat tampak riuh, warga menekankan bahwa ketertiban dan saling menghormati tetap terjaga. Mereka memandang perebutan sebagai ekspresi antusiasme, bukan konflik. “Kami berebut dengan semangat, tapi tetap saling bantu. Kalau ada yang jatuh, pasti ada yang menolong,” kata Mbah Karyo seorang lansia yang rutin hadir setiap tahun. Pernyataan ini menegaskan bahwa tradisi mampu menyalurkan energi kolektif ke arah positif.
Warga juga melihat potensi ekonomi dan pariwisata dari Grebeg Syawal jika dikelola dengan baik. Kehadiran pengunjung dari luar desa memberi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk menjajakan makanan dan kerajinan. Namun mereka berharap agar pengembangan tidak mengikis nilai-nilai asli tradisi. “Kalau jadi atraksi wisata, jangan sampai hilang makna berbagi dan gotong royongnya,” pesan Anto seorang pedagang kaki lima.
Grebeg Syawal di Bukit Sidoguro, menurut warga, adalah ruang publik yang merawat memori kolektif dan meneguhkan identitas komunitas. Dari anyaman ketupat hingga alunan keroncong, setiap elemen menyampaikan pesan sederhana namun kuat, kebersamaan dan rasa syukur adalah fondasi harmoni yang harus terus dijaga dan diwariskan. Di tengah tawa dan riuh, suara warga-lah yang paling tegas menyatakan arti sebenarnya dari perayaan ini, bukan sekadar tradisi, melainkan praktik hidup yang mengikat hati dan membangun masa depan bersama.
( Pitut Saputra )


