Merdeka Post News
No Result
View All Result
Minggu, September 20, 2026
  • Login
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 3
    • Home – Layout 4
    • Home – Layout 5
  • Berita Terkini
  • Headline
  • Nasional
  • Peristiwa
Subscribe
Merdeka Post News
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 3
    • Home – Layout 4
    • Home – Layout 5
  • Berita Terkini
  • Headline
  • Nasional
  • Peristiwa
No Result
View All Result
Merdeka Post News
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita Terkini
  • Headline
  • Nasional
  • Peristiwa
Home Berita Terkini

Pedagang Pasar Mengeluh Sepinya Penjualan Selongsong Ketupat Lebaran

by PIMRED
Maret 27, 2026
in Berita Terkini, Lintas Daerah
0
Pedagang Pasar Mengeluh Sepinya Penjualan Selongsong Ketupat Lebaran
Share on FacebookShare on Twitter

KLATEN, merdekapostnews.top

Menjelang perayaan Lebaran tahun ini, sejumlah pedagang selongsong ketupat di Pasar Delanggu dan Pasar Cokro mengeluhkan sepinya pembeli yang berdampak pada penurunan omset. Kondisi ini dirasakan oleh pengrajin dan penjual tradisional yang biasanya mengandalkan lonjakan permintaan menjelang hari raya, khususnya Lebaran Ketupat, namun tahun ini banyak yang memilih mengurangi produksi, bahkan tidak membuat selongsong sama sekali (27/03/2026).

Kandar, pengrajin selongsong asal Pomah Tulung, menyatakan bahwa pesanan menurun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “satu minggu sebelum Lebaran biasanya pesanan sudah penuh, tapi sekarang banyak yang membatalkan atau minta dikurangi. Cuaca hujan terus, harga janur naik, dan ongkos menganyam ikut melonjak. Semua itu membuat kami kesulitan menjaga harga agar tetap terjangkau,” kata Kandar kepada wartawan.

Keluhan Kandar dibenarkan pula oleh beberapa pengrajin dari Tulungagung yang banyak berjualan di Pasar Cokro. Mereka menyebutkan faktor cuaca, kenaikan harga bahan baku, dan biaya produksi yang meningkat sebagai penyebab utama. “Banyak konsumen yang memilih tidak membuat ketupat karena dianggap merepotkan dan mahal. Mereka masih membeli bahan untuk opor atau sambal goreng, tapi untuk ketupat banyak yang menguranginya,” ujar Tanti seorang pengrajin dari Tulung di pasar cokro.

Beberapa pedagang menjelaskan bahwa hujan yang turun hampir sepanjang hari membuat kunjungan ke pasar menurun. Pembeli cenderung menunda belanja atau memilih membeli bahan makanan yang lebih praktis. Selain itu, kenaikan harga janur, bahan utama untuk anyaman selongsong turut membebani biaya produksi. Kenaikan harga beras dan konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi saat merebus ketupat juga menambah beban bagi pengrajin.

Proses pembuatan ketupat yang memakan waktu dan tenaga juga menjadi pertimbangan konsumen. Pengolahan ketupat membutuhkan waktu lama dan penggunaan bahan bakar yang tidak sedikit, sehingga bagi keluarga yang ingin berhemat, membuat ketupat dianggap kurang efisien. Akibatnya, beberapa pedagang memilih untuk fokus menjual bahan opor ayam dan sambal goreng yang lebih cepat disiapkan dan memiliki margin keuntungan lebih stabil.

Dampak ekonomi dari penurunan permintaan ini terasa hingga rantai pasokan. Pengrajin anyaman yang biasanya menerima pesanan dalam jumlah besar kini harus menyesuaikan produksi agar tidak menanggung kerugian akibat stok yang tidak laku. “Kami terpaksa mengurangi jumlah tenaga kerja sementara dan menahan pembelian janur dalam jumlah besar. Kalau dipaksakan, modal kami bisa tergerus,” kata Kandar.

Para pedagang juga mengeluhkan adanya tambahan biaya tenaga kerja karena banyak pembuat anyaman yang meminta upah lebih tinggi seiring meningkatnya risiko dan waktu kerja. Hal ini membuat harga jual selongsong menjadi lebih mahal di mata konsumen, sehingga daya beli yang sudah menurun semakin tertekan.

Menanggapi kondisi tersebut, beberapa pedagang mencoba strategi alternatif untuk menarik pembeli. Diantaranya adalah menawarkan paket hemat selongsong ketupat, promosi diskon untuk pembelian dalam jumlah tertentu, serta kerja sama pembelian bahan baku secara kolektif untuk menekan biaya. Namun, upaya ini belum sepenuhnya mampu mengembalikan permintaan selongsong seperti sedia kala.

Pengamat ekonomi lokal menilai bahwa fenomena ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen yang semakin sensitif terhadap harga dan kemudahan. “Ketika biaya produksi naik dan cuaca menghambat mobilitas, konsumen akan memilih opsi yang lebih praktis. Pedagang perlu menyesuaikan produk dan strategi pemasaran agar tetap relevan,” ujar Novi seorang analis ekonomi lokal.

Sementara itu, beberapa pengrajin berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah atau kelompok koperasi untuk membantu stabilisasi harga bahan baku dan memfasilitasi pemasaran. Dukungan semacam itu dinilai dapat membantu menjaga kelangsungan usaha mikro tradisional yang menjadi bagian penting dari budaya Lebaran di daerah ini.

Menjelang puncak perayaan Lebaran Ketupat, suasana di pasar masih menunjukkan dinamika. Meski penjualan selongsong ketupat menurun, permintaan untuk bahan lauk pauk khas Lebaran seperti opor dan sambal goreng tetap ada, meskipun dalam skala yang lebih hati-hati. Para pedagang berharap kondisi cuaca membaik dan daya beli masyarakat pulih sehingga tradisi membuat ketupat tidak sepenuhnya hilang dari perayaan Lebaran tahun ini.

Di balik sepinya pasar dan menurunnya omset, anyaman selongsong ketupat tetap menyimpan jejak kearifan lokal dan ketekunan para pengrajin, tradisi yang lahir dari tangan-tangan terampil itu bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan dan identitas budaya yang layak dijaga. Dukungan kecil dari masyarakat, dengan membeli, memesan lebih awal, atau sekadar mengapresiasi karya pengrajin, bisa menjadi napas bagi usaha mikro yang sedang tertekan oleh cuaca dan kenaikan biaya. Semoga musim Lebaran berikutnya membawa langit cerah, pasar yang ramai kembali, dan anyaman janur yang kembali memenuhi meja-meja keluarga, mengingatkan kita bahwa tradisi akan hidup ketika kita memilih untuk merawatnya bersama.

( Pitut Saputra )

Previous Post

Antrian Pemudik Masih Memadati Agen Bus Delanggu

Next Post

Harmoni Dalam Silaturahmi Grebeg Syawal di Bukit Sidoguro Krakitan Bayat

Next Post
Harmoni Dalam Silaturahmi Grebeg Syawal di Bukit Sidoguro Krakitan Bayat

Harmoni Dalam Silaturahmi Grebeg Syawal di Bukit Sidoguro Krakitan Bayat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Berita Terkini
  • Headline
  • Hukum & Kriminal
  • Intenasional
  • Internasional
  • Lintas Daerah
  • Nasional
  • Pembangunan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Ragam
  • Terkini

Recent Posts

  • Deteksi Dini Generasi Sehat, Koptu Damianus Dung Dampingi Posyandu di Desa Sungai Setulang
  • Kuatkan Ketahanan Pangan, Babinsa Koramil 1206-13/Bunut Hulu Hadir dalam Pembagian Bantuan di Desa Temuyuk
  • Peduli Kebutuhan Warga, Babinsa Koramil 1206-06/Putussibau Utara Salurkan Bantuan Air Bersih di Desa Melapi
  • PETI Merusak Jalan Penghubung,Warga Setempat Keluhkan Kerusakan dan Bahaya Jalan untuk Anak Sekolah
  • Cegah Karhutla, Koramil 18/Puring Kencana Gencarkan Patroli di Wilayah Rawan

Recent Comments

  1. News mengenai 26 Organisasi Pers dan Advokat Minta Kapolres Metro Bekasi Jaga Sinergitas Terhadap Jurnalis
  2. Dari warlok mengenai Maraknya Kafe Remang-Remang di Buak Limbang Bebas Beroperasi, Diminta Pihak Terkait Tindak Tegas
  3. Muhhasim mengenai Diduga Kuat Selama Ini Kafe Hiburan Malam Tempat Transaksi Narkoba Milik Bos Berinisial AS Bebas Beroperasi, Siapa Aktor di Baliknya?

Tentang Kami

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik

Hak Cipta merdekapostnews.top © 2025 Web Development PT.TAB | TabWeb

No Result
View All Result
  • Homepages
    • MerdekaPostNews.id
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Berita Terkini
  • Headline
  • Nasional
  • Peristiwa

Hak Cipta merdekapostnews.top © 2025 Web Development PT.TAB | TabWeb

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In