KLATEN, Merdekapsotnews.top
Lonjakan harga plastik kemasan yang hampir 100 persen dalam beberapa minggu terakhir akibat gejolak pasokan global pasca konflik di Timur Tengah memicu keresahan mendalam di kalangan pedagang di kawasan wisata Object Mata Air Cokro (OMAC). Kenaikan mendadak memaksa penjual makanan ringan dan oleh-oleh mengambil keputusan sulit, antara menaikkan harga jual yang berisiko mengurangi pembeli, atau menanggung biaya tambahan sehingga margin yang sudah tipis semakin terkikis (07/04/2026).
Suharno, pedagang keripik yang telah berjualan di sekitar OMAC lebih dari lima tahun, menggambarkan situasi pasar dengan nada putus asa. “Produk saya hanya kerupuk, margin tipis. Kalau saya naikkan harga, takut pelanggan berkurang. Kalau tidak, untungnya hampir tidak ada,” ujarnya sambil menunjukkan tumpukan plastik kemasan yang kini jauh lebih mahal dibanding bulan lalu. Pernyataan Suharno mencerminkan kekhawatiran banyak pelaku usaha mikro di kawasan itu.
Pantauan di pasar Cokro Kembang juga menunjukkan perubahan harga signifikan. Pedagang yang sebelumnya membeli satu pack plastik seharga Rp 6.000 kini harus merogoh kocek lebih untuk jumlah yang sama. Kenaikan ini paling berat dirasakan usaha mikro dan pedagang kaki lima yang mengandalkan kemasan plastik tipis untuk membungkus kerupuk, keripik, dan jajanan tradisional.
Kenaikan harga plastik di lapangan berkisar sekitar 50–80 persen, bahkan beberapa jenis hampir mencapai 100 persen. Saat ini plastik bening PE/PP 1 kg diperdagangkan di kisaran Rp 9.000–Rp 27.000 per pack, sedangkan kantong kresek tebal berkisar Rp 15.000–Rp 40.000 per pack. Seorang pedagang plastik menjelaskan bahwa kenaikan dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku petrokimia dan masalah distribusi, sehingga biaya pengemasan naik dan berdampak langsung pada UMKM dan pengecer.
Di sisi pemasok, Topik pedagang grosir plastik di pasar Cokro mengakui tekanan yang sama. Pemilik salah satu toko plastik tersebut, menyatakan banyak pelanggannya terdampak dan ia terpaksa menyesuaikan harga jual karena kenaikan harga beli dari pemasok. “Kami berharap pemerintah turun tangan memitigasi lonjakan ini agar dampak tidak meluas ke sektor lain,” ujarnya.
Beberapa pedagang memilih menanggung sebagian kenaikan biaya demi menjaga harga jual tetap kompetitif. Lusia, penjual oleh-oleh lumpia basah, menjelaskan strategi kolektif yang sedang dijalankan, “Kalau kami beli sendiri-sendiri, harganya mahal. Dengan bergabung kolektif beberapa pedagang, kami bisa menekan biaya per unit.” Namun Lusia mengakui pembelian kolektif membutuhkan koordinasi dan modal awal yang tidak semua pedagang mampu menyediakan.
Perubahan harga yang tidak diimbangi komunikasi yang baik kepada konsumen turut berpotensi menurunkan kepercayaan dan loyalitas pelanggan. Di kawasan wisata, perilaku pengunjung mulai terlihat berubah, sebagian memahami kondisi pedagang dan bersedia menerima penyesuaian harga jika dijelaskan, sementara yang lain beralih ke penjual lain atau membeli produk tanpa kemasan untuk lebih menghemat.

Para pedagang berharap ada intervensi dari pemerintah pusat maupun daerah serta dinas terkait. Aris, pedagang bakso di OMAC, menegaskan kebutuhan dukungan kebijakan “Kami butuh bantuan agar tidak terjebak pada pilihan yang merugikan.” terangnya. Permintaan mereka meliputi mitigasi dan pengawasan rantai pasok serta dukungan uji coba alternatif kemasan ramah lingkungan yang mungkin bisa menawarkan stabilitas harga lebih baik.
Di tengah tekanan ekonomi tersebut, semangat gotong royong antar-pedagang menjadi kekuatan lokal yang menonjol. Inisiatif seperti pembelian bersama, tukar informasi pemasok, dan uji coba kemasan alternatif menunjukkan upaya adaptasi nyata. Namun tanpa dukungan kebijakan dan akses ke sumber kemasan yang lebih stabil, banyak pedagang kecil tetap berada dalam posisi rentan.
Kenaikan harga plastik kemasan yang hampir mencapai 100 persen bukan sekadar masalah biaya, hal ini menguji daya tahan usaha kecil yang bergantung pada arus pengunjung dan daya beli lokal. Solusi efektif memerlukan kombinasi tindakan cepat dari pedagang, koordinasi pengelola pasar, dan kebijakan proaktif dari pemerintah. Tanpa langkah terpadu, risiko yang dihadapi pedagang kecil bukan hanya penurunan keuntungan, melainkan potensi hilangnya pelanggan dan penurunan kualitas produk.
Para pedagang di OMAC berharap perhatian serius. “Kalau tidak ada bantuan, banyak dari kami yang akan sulit bertahan,” kata seorang pedagang, merangkum keresahan yang kini menggelayut di sepanjang kios-kios kecil kawasan wisata OMAC Cokro.
( Pitut Saputra )













