SURAKARTA, Merdekapostnews.top
Sutiyono akrab dipanggil Tiyono bukanlah sosok yang lahir dari kemewahan, Dahulu ia memulai hari dengan menyalakan aplikasi ojek online, menembus hujan dan terik demi memenuhi kebutuhan keluarga. Di balik jaket dan helm itu tersimpan warisan keterampilan anyaman rotan yang diturunkan orang tuanya. Ketika arus kehidupan memaksa perubahan, Tiyono memilih untuk kembali pada akar menggabungkan tradisi keluarga dengan semangat otodidak yang tak pernah padam (01/03/2026).
Di sela-sela menunggu order, Tiyono memanfaatkan sisa waktu untuk merajut rotan. Awalnya anyaman hanya sebagai pengisi waktu dan kenangan masa kecil, namun ketekunan membuatnya cepat berkembang. Ia menonton video tutorial, mencoba pola baru, dan menyesuaikan teknik warisan keluarga dengan sentuhan modern. Dari latihan berulang, jari-jarinya menjadi cekatan, dari kegigihan, lahirlah produk yang rapi dan bernilai.

Dalam sebuah perbincangan saat ditemui awak media di workshopnya Tiyono mengatakan, “Saya memulai debut anyaman ini ketika bergabung dengan sebuah industri rotan besar di Surakarta, perlahan ketika order ojek online kian tak menentu saya mulai meninggalkan aktivitas sebagai driver ojol dan fokus menekuni keterampilan yang diwariskan keluarga.” terangnya. Berkat ketekunan dan kemampuan belajar otodidak, saat itu Tiyono dipercaya menjadi Quality Control di perusahaan ternama di Surakarta, sebuah tugas yang menuntut ketelitian dan standar tinggi, posisi inilah yang akhirnya mengubah pandangannya tentang dunia ojol dan lebih fokus tentang kualitas produk dan proses produksi anyaman rotan.
Seiring waktu, keterampilan anyaman rotan dan penguasaan berbagai bahan lokal semakin matang, hingga suatu ketika ia memutuskan pindah ke sebuah home industri rotan di Sukoharjo demi memperbaiki penghasilan. Dari pengalaman itu lahir inisiatifnya merintis CRM Craft (Cahaya Rotan Mandiri) usaha rumahan di kediamannya Colomadu, Karanganyar, yang akhirnya menuai sukses karena produknya banyak diminati pasar, berkembang pesat, dan memberi manfaat nyata bagi warga sekitar serta rekan-rekannya.
Tiyono bercerita, “Perubahan besar datang ketika saya mulai membuat media anyaman buat hampers Lebaran, paket hadiah yang biasanya memadukan anyaman rotan dengan produk lokal seperti kue, kopi, dan kain tenun.” jelasnya. Ide itu lahir dari pengamatan sederhana ketika orang mencari hadiah yang bermakna dan berkesan jelang lebaran. Dengan sentuhan personal dan kemasan ramah lingkungan, hampers buatannya cepat menarik perhatian. Satu pesanan kecil kini berkembang menjadi permintaan berulang, terutama menjelang musim Lebaran ketika tradisi memberi hadiah kembali hidup dan pesanan naik signifikan.
Keberhasilan Tiyono bukan semata soal keuntungan. Ia membuktikan bahwa keterampilan tradisional bisa menjadi sumber penghidupan yang layak bila diasah dan dipasarkan dengan cerdas. Ia belajar mengatur keuangan, memilih bahan rotan maupun bambu berkualitas, dan memperbaiki kemasan agar tampak profesional. “Media sosial menjadi etalase baru, foto proses pembuatan, cerita tentang bahan alami, dan testimoni pelanggan membangun reputasi yang kuat. Pelanggan tak hanya membeli barang, mereka juga membeli cerita tentang kerja tangan, ketulusan, dan kelestarian.” ujarnya menuturkan proses distribusi.
Dampak usaha Tiyono meluas ke komunitas. Ia membuka kelas anyaman di teras rumah, mengajarkan teknik dasar kepada ibu-ibu dan remaja yang ingin menambah penghasilan. Ruang belajar itu menjadi tempat bertukar pengalaman, merajut solidaritas, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Beberapa murid kemudian menjadi mitra produksi, membantu memenuhi pesanan hampers saat permintaan meningkat. Dari usaha mikro, terbentuklah kelompok usaha bersama yang saling menopang.
Seiring berjalannya waktu Tiyono juga menghadapi tantangan nyata, fluktuasi harga bahan baku, persaingan produk murah, dan logistik pengiriman. Namun ia menanggapi hambatan itu sebagai peluang belajar. “Saya menjalin hubungan langsung dengan pemasok rotan, mengoptimalkan proses produksi, dan menawarkan layanan kustomisasi untuk segmen pasar yang lebih tinggi.” ungkapnya. Pendekatan ini meningkatkan margin keuntungan dan menjaga kualitas tetap konsisten.
Lebih dari segalanya, kisah Tiyono mengajarkan nilai sederhana namun kuat, ketekunan, kreativitas, dan keberanian untuk berubah. Dari seorang mantan driver ojol yang belajar anyaman warisan orang tua dan secara otodidak mengasah keterampilan, ia berhasil menenun kehidupan baru, mengubah keterbatasan menjadi peluang. Keberhasilannya diukur bukan hanya dari rumah yang diperbaiki atau anak yang bisa sekolah lebih baik, tetapi dari kemampuan memberi inspirasi kepada orang lain.
Kini Tiyono memandang masa depan dengan rencana yang lebih besar, memperluas pasar anyaman hampers ke kota-kota lain, mengembangkan lini produk ramah lingkungan, mentransfer skill dan pengetahuan pada yang berminat dan mendokumentasikan teknik anyam tradisional agar tak hilang ditelan zaman. Ia ingin warisan keluarga tetap hidup dan menjadi sumber penghidupan bagi generasi berikutnya.
Kisah Tiyono adalah pengingat bahwa perubahan dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Ketika keterampilan diwariskan dipadukan dengan kemauan belajar sendiri, hasilnya bisa melampaui ekspektasi. Di tangan yang gigih, rotan sederhana pun bisa dianyam menjadi harapan, sebuah bukti bahwa setiap tantangan menyimpan peluang, dan setiap rotan maupun bambu yang dirangkai dengan tekun mampu membentuk masa depan yang lebih baik.
Dari helm yang basah oleh hujan hingga anyaman yang rapi di etalase, perjalanan Tiyono mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam, ketika keberanian bertemu keterampilan, harapan bisa dianyam menjadi kenyataan, bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk kampungnya, setiap keranjang rotan yang ia buat kini membawa cerita tentang ketekunan, kebanggaan, dan masa depan yang lebih layak, bukti bahwa langkah kecil yang konsisten mampu mengubah nasib dan mewariskan nilai bagi generasi yang akan datang.
(Pitut Saputra)













