KLATEN, Merdekaposnews.top
Upacara renungan dan ulang janji Gerakan Pramuka digelar di lapangan sekolah SDN 6 Delanggu menghadirkan perwakilan Pramuka dari siswa SDN 6 Delanggu dan beberapa perwakilan pembina Pramuka Delanggu. Kepala Sekolah SDN 6 Delanggu, Hastuti, mengungkapkan bahwa acara tersebut menjadi momen penting untuk menanamkan nilai kepramukaan sejak dini. Menurutnya, antusiasme siswa menunjukkan bahwa Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan wahana pembentukan karakter. Ia yakin pengalaman ini akan membekas dalam ingatan mereka dan memicu rasa cinta tanah air (13/08/2025).
Rangkaian acara diawali dengan renungan, dilanjutkan dengan pengucapan ulang Tri Satya, dan diakhiri dengan tasyakuran. Renungan bertujuan mengajak siswa merenung tentang makna Dasa Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Pengucapan Tri Satya kembali mengokohkan janji setia kepada Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan sesama anggota Pramuka. Tasyakuran digelar dengan hiburan sederhana dan doa bersama sebagai simbol syukur dan kebersamaan.
Menurut Hastuti, renungan memiliki peran krusial dalam membangkitkan kesadaran diri peserta. Ia menegaskan bahwa tanpa jeda refleksi, nilai-nilai kejujuran, rela menolong, dan setia pada teman sulit berakar. “Kami minta setiap anak menuliskan apa yang sudah mereka lakukan sesuai Dasa Dharma dalam seminggu terakhir,” ujarnya. Dengan cara tersebut, siswa tidak hanya mendengar, namun juga secara aktif mengukur proses pembelajaran moral mereka.
Pengucapan ulang Tri Satya menjadi momen sakral yang memperbarui komitmen peserta. Hastuti menyatakan bahwa desentralisasi komitmen melalui pengucapan bersama menciptakan ikatan emosional antara siswa. “Ketika mereka berseru ‘sedia!’ bersama, energi solidaritas benar-benar terasa,” kata kepala sekolah. Ritual ini juga berfungsi sebagai fondasi moral bagi siswa dalam menghadapi tantangan akademis dan sosial.
Aktivitas tasyakuran dianggapnya sebagai puncak kebersamaan di luar bentuk formalitas. Lagu Pramuka, doa, dan tarian tradisional Delanggu mengisi suasana dengan kehangatan. Hastuti menilai momen ini menembus batas antara guru, murid, dan pembina Pramuka untuk membangun persaudaraan sejati. Ia berharap semangat kekeluargaan ini terus terjaga di setiap kegiatan sekolah.
Hastuti menegaskan bahwa tujuan utama upacara ini adalah memperkuat rasa pengabdian pada Gerakan Pramuka dan bangsa. Menurutnya, ketika siswa memahami makna di balik setiap baris Tri Satya, motivasi pengabdian akan tumbuh secara alami. Kegiatan ini juga melatih kedisiplinan, kemandirian, dan rasa tanggung jawab sejak usia dini. Hal tersebut, katanya, menjadi modal penting dalam membentuk generasi pemimpin masa depan.
Kolaborasi antara SDN 6 Delanggu, SD lain di kecamatan, dan Pramuka SMA Negeri 1 Delanggu memberikan dinamika baru. Hastuti memuji semangat junior dan senior yang saling mendukung. Interaksi lintas jenjang menumbuhkan budaya mentoring yang produktif. “Kerja sama ini menanamkan rasa saling menghormati, sekaligus memberikan role model bagi adik-adik,” ujarnya.
Dalam persiapan acara, SDN 6 Delanggu menghadapi tantangan logistik dan cuaca. Hastuti menjelaskan bahwa pihak sekolah menyiapkan tenda tambahan dan modul kegiatan indoor sebagai antisipasi hujan. Ia juga menggandeng orang tua dan warga setempat untuk mendukung konsumsi dan keamanan. Pendekatan kolaboratif ini, menurutnya, meningkatkan rasa memiliki seluruh pihak terhadap acara.
Melihat jauh ke depan, Hastuti merencanakan pengayaan kurikulum kepramukaan dengan kearifan lokal Delanggu. Ia berencana menambahkan materi tentang pelestarian sawah, kerajinan gerabah Kasongan, dan tradisi kesenian lokal. Kolaborasi dengan desa dan pelaku UMKM diharapkan memperkaya pengalaman peserta. Dengan pendekatan tersebut, Gerakan Pramuka di SDN 6 Delanggu akan mencetak kader yang tidak hanya terampil, tetapi juga peduli budaya dan lingkungan.
Hastuti juga mengajak peran serta orang tua dan tokoh masyarakat dalam setiap kegiatan Pramuka. Ia menilai dukungan komunitas menjadi faktor penting dalam keberlanjutan program sekolah. Melalui forum konsultasi rutin, sekolah dan masyarakat bertukar ide untuk meningkatkan kualitas kegiatan. Pendekatan partisipatif ini diharapkan menumbuhkan rasa bangga siswa dan warga terhadap Gerakan Pramuka.

Dengan semangat inovasi dan partisipasi, Hastuti menaruh harapan besar pada generasi Pramuka SDN 6 Delanggu. Ia percaya, pengalaman memaknai Dasa Dharma dan Tri Satya akan membekali siswa menghadapi era globalisasi. Kepemimpinan moral, kepekaan sosial, dan kecintaan pada tanah air adalah kompetensi kunci di masa depan. Keberhasilan program ini, menurutnya, bergantung pada konsistensi refleksi, komitmen, dan kebersamaan.
Hastuti menutup wawancara dengan optimisme tinggi bahwa nilai-nilai kepramukaan akan terus hidup di hati siswa. “Ketika generasi muda menghayati janji Pramuka dengan sungguh-sungguh, masa depan negeri ini akan terjamin,” tuturnya penuh semangat. Ia berharap setiap upacara renungan dan ulang janji menjadi momentum pembentukan karakter yang tak terlupakan. Bagi Hastuti, tugas mendidik tidak sekadar mengajar, melainkan menanamkan jiwa Pramuka selamanya.
( Pitut Saputra )













