KLATEN, merdekapostnews.top
Mengisi jeda pasca-ujian bukan semata-mata tentang melupakan kelelahan setelah serangkaian ujian, melainkan juga merupakan momen berharga bagi sekolah untuk menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini (11/06/2025).
Di SDN 6 Delanggu, momentum inilah yang dimanfaatkan secara optimal melalui program sosialisasi anti-bullying yang bekerja sama dengan Yupi, produsen permen ternama yang mengedepankan produk berbahan sari buah dan telah mendapatkan pengakuan atas kehalalannya bagi anak. Kegiatan ini mengusung konsep inovatif dengan mengombinasikan edukasi dan permainan interaktif, sehingga para siswa tidak hanya belajar teori, melainkan juga terlibat aktif dalam pengalaman yang menyenangkan dan penuh makna.
Kegiatan class meeting pasca-ujian di SDN 6 Delanggu kali ini tidak hanya sekadar pertemuan formal, melainkan telah didesain ulang menjadi ruang interaktif bagi siswa untuk memahami konsep keadilan, empati, dan tanggung jawab sosial. Pada sesi ini, para siswa diajak untuk terlibat dalam berbagai permainan yang secara tidak langsung menyampaikan pesan penting mengenai bahaya bullying. Dengan metode sederhana namun efektif, para pendidik bersama tim SPG Yupi mengintegrasikan unsur hiburan dan pembelajaran melalui aktivitas permainan yang membuat materi anti-bullying tersaji dengan cara yang mudah dipahami oleh anak-anak.
Di balik pelaksanaan kegiatan yang penuh antusiasme tersebut, Kepala SDN 6 Delanggu, Ibu Hastuti, menyampaikan pandangan dan keyakinannya dengan tegas. Beliau menegaskan bahwa program sosialisasi ini merupakan langkah strategis dalam merespons peningkatan kasus bullying di kalangan siswa sekolah dasar.
“Kami menyadari bahwa masa kanak-kanak adalah masa pembentukan karakter, sehingga penting bagi kita untuk menanamkan nilai-nilai keadilan, empati, dan keberanian untuk melaporkan setiap tindakan yang merugikan,” ujar Ibu Hastuti dengan penuh keyakinan. Menurutnya, pendekatan edukatif yang dipadukan dengan permainan interaktif memungkinkan anak-anak menyerap pesan moral secara alami, sehingga diharapkan tercipta lingkungan belajar yang kondusif dan aman.
Ibu Hastuti menambahkan bahwa keputusan untuk bekerja sama dengan Yupi merupakan respons langsung terhadap situasi yang ada.
“Melihat maraknya insiden bullying yang terjadi di berbagai sekolah, kami merasa program ini sangat relevan. Kami harus mewujudkan sekolah yang tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga memperhatikan pembentukan karakter agar siswa dapat menyikapi perbedaan dengan bijak dan melaporkan tindakan yang tidak adil,” jelasnya. Bagi Kepala Sekolah, penyelesaian masalah bullying harus dimulai dari akar permasalahan melalui edukasi sejak dini, bukan sekadar pemberian sanksi saat masalah sudah terjadi.
Pada kesempatan itu, Ibu Hastuti juga mengungkapkan harapan besar terkait pelaksanaan program ini. Ia berharap kegiatan seperti ini tidak hanya bersifat insidental, melainkan menjadi standar operasional di setiap sekolah di wilayah Delanggu. Harapannya, sinergi antara sekolah dan mitra seperti Yupi dapat terus dikembangkan untuk menciptakan budaya anti-bullying yang kokoh.
“Saya berharap pengalaman positif yang dirasakan hari ini bisa menjadi teladan bagi sekolah-sekolah lain. Dengan adanya kesadaran bersama, kita dapat mengikis budaya ketidakadilan dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif serta sehat bagi generasi penerus,” tambah Ibu Hastuti sambil menatap masa depan pendidikan dengan optimisme tinggi.
Program sosialisasi ini juga berhasil mengangkat semangat kebersamaan di antara siswa. Tim SPG Yupi menyajikan materi dengan membangun interaksi langsung melalui permainan yang menantang kreativitas dan kerja sama. Dalam beberapa sesi, siswa diajak untuk memainkan peran sebagai “pahlawan anti-bullying” di mana mereka harus mencari cara untuk melindungi teman dan menyelesaikan konflik dengan dialog yang konstruktif. Metode ini terbukti efektif karena, selain menanamkan nilai-nilai moral, juga mengajarkan anak kepercayaan diri untuk mengambil inisiatif mendampingi teman yang tengah mengalami intimidasi.
Dalam setiap langkahnya, Ibu Hastuti memastikan bahwa program ini berjalan secara adaptif dan fleksibel, sehingga setiap kegiatan yang diadakan benar-benar menyentuh hati dan pikiran siswa. Beliau menilai bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau tingkat antusiasme dalam bermain, tetapi juga dari bagaimana nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas mampu terinternalisasi dalam diri anak-anak.
“Edukasi bukan hanya soal materi yang disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana kita membentuk karakter anak agar tumbuh menjadi pribadi yang peka terhadap keadilan sosial. Ini adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa,” ungkap Ibu Hastuti dengan penuh keyakinan.

Selaras dengan semangat tersebut, kegiatan sosialisasi anti-bullying juga memberi dorongan kepada para siswa untuk selalu berani bersuara ketika menyaksikan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebaikan. Anak-anak diajarkan untuk mengidentifikasi tanda-tanda perilaku merugikan sejak awal dan tidak merasa takut melaporkan kejadian tersebut kepada guru atau orang dewasa yang dapat dipercaya. Melalui pendekatan ini, diharapkan kesadaran situasional dan keberanian untuk bertindak menjadi bagian integral dari budaya sekolah yang anti-kekerasan dan mendukung keadilan sosial.
Di akhir kegiatan, Ibu Hastuti pun menyampaikan pesan yang menggugah hati. Beliau menyatakan bahwa kegiatan hari ini adalah langkah awal dalam perjalanan panjang menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis. Harapan besarnya adalah agar setiap anak yang menapaki bangku sekolah dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional yang mampu menghargai perbedaan serta melawan ketidakadilan kapan pun dan di mana pun.
“Saya sangat berharap bahwa ajaran dan pengalaman hari ini dapat tertanam dalam hati setiap siswa. Semoga mereka tumbuh dewasa dengan keberanian, empati, dan kesadaran sosial yang tinggi, sehingga suatu saat nanti mereka bisa menjadi agen perubahan dalam masyarakat,” pungkas beliau.
Melalui sosialisasi yang memadukan pembelajaran dengan hiburan, SDN 6 Delanggu bersama Yupi telah membuka cakrawala baru dalam pendidikan. Ini tidak hanya memberikan pemahaman yang mendalam tentang bahaya bullying, tetapi juga menyuntikkan nilai-nilai positif yang akan menjadi landasan kuat bagi generasi masa depan. Dengan sinergi yang terus terjalin antara sekolah, masyarakat, dan dunia usaha, harapan Ibu Hastuti untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung kini semakin nyata—membuktikan bahwa kolaborasi adalah kunci untuk mengatasi tantangan sosial sejak dini.
(Pitut Saputra)













