KLATEN, Merdekapostnews.top
Di tengah hiruk-pikuk modernitas dan derasnya arus globalisasi, menjaga warisan budaya dan spiritual menjadi sebuah keniscayaan. Salah satu bentuk nyata dari upaya pelestarian tersebut adalah pelaksanaan upacara Piodalan, sebuah tradisi sakral dalam ajaran Hindu yang menjadi momentum penting untuk menyucikan pura serta mempererat ikatan spiritual umat dengan Sang Hyang Widhi Wasa. Pada Jumat, 19 Desember 2025, masyarakat Hindu di Dusun Nayan, Desa Kalangan, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, akan menggelar Piodalan ke-19 di Pura Candi Untoroyono, sebuah peristiwa yang sarat makna dan nilai-nilai luhur (13/12/2025)
Piodalan: Lebih dari Sekadar Upacara
Piodalan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perwujudan rasa bhakti, syukur, dan penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta manifestasi-Nya. Dalam konteks Pura Candi Untoroyono, Piodalan ke-19 ini menjadi penanda perjalanan spiritual dan sosial umat Hindu di Klaten dalam membangun dan merawat tempat suci yang menjadi pusat kegiatan keagamaan, kebudayaan, dan kebersamaan.
Upacara ini juga menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang umat dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana). Melalui persembahyangan bersama, tari-tarian sakral, hingga Dharma Wacana, Piodalan menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, mempererat solidaritas sosial, serta menanamkan kembali pentingnya menjaga warisan leluhur.
Rangkaian Acara yang Sarat Makna
Piodalan ke-19 di Pura Candi Untoroyono akan dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan prosesi “Mangatur-atur” oleh para Pandhita. Prosesi ini merupakan tahap awal penyucian dan penataan sarana upacara, sebagai bentuk persiapan spiritual sebelum memasuki inti acara. Kehadiran empat Pandhita dari berbagai daerah di Bali dan Jawa Timur, yakni Ida Pandhita Mpu Nabe Dharmika Sandi Kerta Satwika (Denpasar), Ida Pandhita Mpu Nabe Dharmika Sandhi Kertajaya (Kediri), Ida Pandhita Shri Bhagawan Cakra Nata Brahmanda Utama (Buleleng), dan Ida Pandhita Mpu Dharmika Satwika Santi (Denpasar), menandakan pentingnya upacara ini dalam skala regional.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi pembukaan dan sambutan dari berbagai tokoh, termasuk perwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Klaten, Bimas Hindu Klaten, hingga Bupati Klaten. Kehadiran tokoh-tokoh ini mencerminkan dukungan pemerintah dan lembaga keagamaan terhadap pelestarian budaya lokal serta penguatan nilai-nilai spiritual di tengah masyarakat.
Salah satu momen yang paling dinanti adalah penampilan tari-tarian sakral, yakni Tari Rejang Pangastuti oleh mahasiswi ISI Surakarta dan Tari Topeng Sida Karya oleh Bapak Drs. Nyoman Cahya. Kedua tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan persembahan suci yang sarat simbolisme. Tari Rejang melambangkan penyambutan dan penghormatan kepada para dewa, sedangkan Tari Topeng Sida Karya menggambarkan keberhasilan dan kesempurnaan dalam pelaksanaan yadnya.

Puncak acara adalah upacara sembahyang bersama yang dipimpin oleh para Pandhita, dilanjutkan dengan Dharma Wacana, penyampaian ajaran dharma yang memberikan pencerahan dan penguatan spiritual bagi umat. Acara ditutup pada pukul 13.00 WIB dengan harapan seluruh rangkaian berjalan lancar, penuh berkah, dan membawa kedamaian bagi seluruh umat.
Pura Candi Untoroyono: Simbol Keteguhan dan Kebersamaan
Pura Candi Untoroyono bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol keteguhan umat Hindu di Klaten dalam menjaga identitas spiritual dan budaya mereka. Dibangun dengan semangat gotong royong dan rasa bhakti yang mendalam, pura ini menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan spiritual, dan pelestarian budaya Bali di tanah Jawa.
Dalam konteks pluralitas masyarakat Klaten, keberadaan Pura Candi Untoroyono juga menjadi contoh nyata harmoni antarumat beragama. Upacara Piodalan yang terbuka dan melibatkan berbagai elemen masyarakat menunjukkan bahwa nilai-nilai toleransi dan kebersamaan dapat tumbuh subur di tengah keberagaman.
Edukasi dan Regenerasi Melalui Tradisi
Piodalan juga memiliki dimensi edukatif yang kuat. Melalui keterlibatan generasi muda, seperti mahasiswi ISI Surakarta dalam penampilan tari sakral, tradisi ini menjadi ruang belajar yang hidup. Anak-anak dan remaja tidak hanya diajarkan tentang tata cara upacara, tetapi juga nilai-nilai etika, estetika, dan spiritualitas yang terkandung di dalamnya.
Panitia Piodalan, yang diketuai oleh Ketut Megantara, ST., dan sekretaris Drs. Ag. Supardi, telah menyusun acara dengan rapi dan penuh pertimbangan, memastikan bahwa setiap elemen upacara tidak hanya berjalan khidmat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan penguatan identitas budaya.
Menjaga Api Spiritualitas di Tengah Zaman
Di era digital yang serba cepat, tradisi seperti Piodalan menjadi penyeimbang yang mengingatkan kita akan akar spiritual dan budaya yang tak boleh dilupakan. Ia mengajarkan tentang kesabaran, ketekunan, dan penghormatan terhadap alam dan leluhur. Lebih dari itu, Piodalan menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan kearifan lokal, melainkan justru dapat berjalan beriringan.
Dengan semangat kebersamaan, ketulusan bhakti, dan komitmen untuk melestarikan budaya, Piodalan ke-19 di Pura Candi Untoroyono menjadi bukti bahwa tradisi bukanlah beban masa lalu, melainkan cahaya yang menuntun langkah kita di masa depan.
( Pitut Saputra )













