KLATEN, Merdekapostnews.top
Pagi itu matahari baru saja menampakkan sinarnya ketika pelataran Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, berubah menjadi lautan warna. Warga mulai berdatangan sebelum pukul delapan, antusias menyambut puncak Festival Desa Palar “Mewarnai Dunia” yang digelar pemerintah desa bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Raden Mas Said Surakarta kelompok 219 dan 220, Karang Taruna, dan TP PKK Desa Palar. Suasana hangat, suara tawa kanak-kanak, dan aroma kuliner tradisional langsung menyeruak ke udara, menandai hari yang istimewa bagi seluruh lapisan masyarakat (27/07/2025).
Pembukaan resmi dimulai dengan senam sehat untuk umum di tengah kerumunan. Para ibu TP PKK menuntun gerakan sambil bergoyang ceria, sedangkan mahasiswi KKN melengkapi irama dengan tepuk tangan. Kolaborasi generasi muda dan warga desa ini tak hanya membangkitkan semangat kebugaran, melainkan juga merekatkan rasa kebersamaan. Kepalan tangan dan senyum lebar terlihat di mana-mana, dari anak-anak yang menirukan instruksi senam hingga lansia yang bergoyang perlahan, menikmati rangkaian gerakan ringan.
Seusai senam, festival semakin semarak dengan pembukaan bazar fashion serta produk UMKM dari berbagai rukun tetangga (RT). Setiap stan memamerkan karya unggulan, mulai kerajinan kain batik tulis, tenun, eceng gondok, hingga aneka jajanan tradisional. Warna-warni kain, tumpukan hiasan keramik, dan keranjang anyaman memikat pengunjung untuk singgah, berfoto, bahkan berbelanja. Inisiatif warga menata stan pun mencuri perhatian, ada yang menambahkan lampu hias, poster kecil berisi profil pembuat, hingga kursi rotan untuk beristirahat sejenak.
Lebih jauh, stan komunitas disabilitas Palar dan Sanggar Seni Mewarnai Dunia menampilkan karya-karya yang sarat makna. Lukisan-dari bahan recycle di atas MMT Plastik, kain batik berornamen, hingga tas rajut hasil kreativitas para penyandang disabilitas menggambarkan semangat inklusif yang nyata. Produk olahan kuliner juga menambah kelengkapan sajian mereka dalam memamerkan produk dengan bangga, serta berharap bisa membuka mata publik tentang potensi tanpa batas. Kehadiran stan ini menjadi bukti bahwa jalan menuju kesetaraan sering kali diawali dengan ruang untuk berekspresi.
Tak kalah menarik, stan Jali dari komunitas RT 12 serta Stand Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community yang mengundang rasa penasaran para wisatawan lokal. Di sana tersaji paket tour budaya, peta jalur trekking sungai, sementara di stand jali ada demo singkat membuat jali, dan kerajinan anyaman tradisional. Pengunjung bisa mencicipi aneka kuliner khas Klaten, seperti Puding Jali, Bubur Jali, hingga Wedang Jahe Jali. Buah tangan berlabel “Palar” pun laris manis, menghadirkan cerita tersendiri tentang pesona desa yang perlahan dikenal.
Seiring berjalannya festival hingga siang, berbagai lomba seru digelar. Ada lomba-lomba untuk anak-anak, dan kreasi stand UMKM antar-RT, serta beragam kegiatan hiburan oleh tim Karang Taruna. Panggung seni di tengah lapangan menampilkan pertunjukan dari grup seni tari tradisional Desa Palar, serta musik akustik yang dinyanyikan dan diisi artist setempat. Para penonton bertepuk tangan, melantunkan yel-yel semangat, dan larut dalam alunan gending yang menyentuh hati.

Salah satu momen yang paling berkesan datang dari Nurbertus Trisno Nugroho, perwakilan Sanggar Seni Mewarnai Dunia. “Kami sangat bahagia diberi ruang untuk menunjukkan karya. Ini bukan sekadar stan UMKM, tetapi wujud pengakuan bahwa disabilitas memiliki kontribusi dalam memperkaya budaya desa,” ujarnya. Mata Nurbertus berbinar, menandakan betapa istimewanya kesempatan ini bagi komunitas yang selama ini kerap tersisih.
Dari sisi lain, Ketua TP PKK Desa Palar Esti Rahayu turut mengungkapkan kegembiraannya. Ia menyoroti keterlibatan aktif masing-masing RT dalam meramaikan festival. “Setiap warga memberi warna berbeda, ada yang menampilkan kain tenun, ada juga yang promosikan kuliner khas keluarga. Semoga festival ini menjadi pemantik kreativitas dan solidaritas, sekaligus mendorong UMKM kita tumbuh lebih besar,” paparnya dengan penuh semangat.
Kolaborasi Pentahelix lintas pihak, Pemdes, KKN UIN, Karang Taruna, PKK, pelaku usaha dan komunitas lokal, serta media membuktikan kekuatan sinergi untuk membangun desa. Festival ini bukan sekadar ajang hiburan tahunan, tapi platform pemberdayaan ekonomi kreatif dan inklusif. Mahasiswa KKN membantu mendokumentasikan setiap rangkaian acara, menyusun laporan, dan memberikan masukan desain stan agar lebih menarik pengunjung.
Menjelang malam, sedianya acara akan ditutup dengan doa bersama dan pembagian door prize produk UMKM. Suasana hangat akan berpadu haru ketika nanti suara juri memanggil dan membagikan hadiah kejutan. Para peserta dan pengunjung akan pulang dengan tas belanja, kenangan manis, dan harapan untuk festival tahun depan. Akhirnya Festival Desa Palar Mewarnai Dunia, menyisakan senyum lelah para panitia yang lega melihat semua rencana berjalan sukses.
“Festival Desa Palar Mewarnai Dunia” telah menorehkan momen tak terlupakan bagi masyarakat Desa Palar. Lebih dari sekadar pesta budaya, ia menguatkan semangat gotong royong, membuka peluang ekonomi, dan menegaskan komitmen inklusivitas. Semoga gelaran ini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain, bahwa keberagaman dan kerjasama bisa melahirkan harmoni dan kesejahteraan bersama.
( Pitut Saputra )













