KLATEN, Merdekapostnews.top
Di desa Tjokro yang memeluk sungai dengan lembut lahir sebuah gagasan baru yang mengusung pariwisata tangguh lestari dan berkeadilan. Tjokro Eco Culture Tourism mengajak setiap orang meresapi keindahan alam sekaligus berperan dalam mitigasi bencana dan penghormatan atas keberagaman manusia (17/07/2025).
Selama bertahun tahun sungai Pusur di Tjokro menghadapi ancaman banjir sedimentasi dan penumpukan sampah plastik yang mengikis ekosistem subur di sekitarnya. Potensi penyandang disabilitas yang sarat kreativitas dan semangat sering kali tidak mendapatkan ruang semestinya. Kini kearifan lokal menuntut warga untuk memandang sungai sebagai sumber kehidupan sekaligus laboratorium solidaritas.
Konsep Eco Culture Tourism merajut pelestarian lingkungan dan inklusi sosial dengan cara yang saling memperkuat. Setiap kegiatan di tepian sungai menyertakan ritual adat sebelum pembersihan sungai penanaman bibit pohon hingga praktik konservasi terpadu melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Dalam waktu yang sama penyandang disabilitas dilatih menjadi pemandu alam handal, pengisi pertunjukan seni, serta pelaku usaha mikro kecil menengah yang menghasilkan kerajinan dan kuliner lokal.
Dialog lapangan tentang pengelolaan sampah dan teknik mitigasi banjir menjadi bagian penting dari pengalaman wisata. Para pakar kebencanaan, peserta diskusi, dan tokoh adat duduk bersama dalam suasana interaktif membahas pembuatan lubang resapan biopori pembuatan ecobrick dan penguatan vegetasi tepi sungai. Pembelajaran ini diikuti praktik langsung sehingga setiap pengunjung pulang tidak sekadar membawa kenangan tetapi juga pengetahuan untuk diterapkan di komunitas masing masing.
Ritual sungai yang digelar secara rutin memadukan aspek spiritual dan pelestarian alam. Warga dan wisatawan melepas persembahan simbolis sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan memohon agar kelestarian air senantiasa terjaga. Setelah prosesi tersebut penebaran benih ikan endemik dilakukan bersama sebagai wujud restorasi ekosistem sekaligus harapan akan mata rantai kehidupan yang berkelanjutan.
Perpaduan seni dan infrastruktur di ruang terbuka menegaskan semangat inklusi. Pengunjung dapat menikmati pertunjukan musik, tarian, dan pameran kerajinan tangan yang dikreasi oleh penyandang disabilitas. Jalan setapak, jembatan, dan fasilitas umum di sepanjang jalur wisata dirancang ramah bagi semua orang termasuk mereka yang menggunakan kursi roda sehingga setiap sudut kawasan dapat diakses tanpa hambatan.
Wisatawan dari berbagai latar belakang, mulai dari aktivis lingkungan hingga keluarga inklusif dan pelajar sekolah inklusi, menemukan pengalaman yang aman mendidik dan menyenangkan di Tjokro. Masing masing kelompok merasakan sentuhan edukasi mitigasi bencana, pelestarian budaya, dan apresiasi keberagaman yang diaplikasikan dalam setiap aktivitas.
Agar gagasan besar ini terwujud secara konsisten dibutuhkan sinergi antara kelompok sadar wisata badan usaha milik desa PKK pemerintahan desa dan relawan. Kejelasan peran dan area kerja perlu dibahas bersama dalam forum intensif agar tidak terjadi tumpang tindih rasa curiga ataupun gesekan kepentingan. Gedung joglo dapat berfungsi sebagai laboratorium kreatif sosial dan seni budaya untuk menyelaraskan visi dan merumuskan strategi kolaboratif.

Langkah selanjutnya mencakup evaluasi internal guna merumuskan standar pelayanan universal, penyusunan pedoman aksesibilitas, uji coba jalur trekking tepi sungai inklusif, serta pelaksanaan festival sungai bersih dan budaya. Setiap tahap akan diiringi proses pemantauan dan pengumpulan umpan balik dari pengunjung demi perbaikan berkelanjutan.
Tjokro Eco Culture Tourism bukan sekadar proyek pariwisata tetapi perwujudan visi kolektif yang merangkul ketangguhan lingkungan, penghormatan terhadap alam, dan penghargaan atas keberagaman manusia. Di desa kecil ini sungai dan penyandang disabilitas menjadi guru yang menunjukkan bahwa mitigasi bencana dan kreativitas dapat berjalan beriringan. Dengan langkah langkah ini Tjokro membuka jalan bagi desa-desa lain di Jawa Tengah menuju masa depan yang lebih tangguh lestari dan adil.
Namun semuanya masih dalam sebatas tahap wacana dan penggodokan literasi serta upaya memformulasikan beragam potensi yang ada dalam sebuah kemasan Eco Culture Tourism. Ide-ide liar dan pemgenbangan gagasan masih terbuka guna diskusi lebih lanjut terkait pembangunan berkelanjutan. Kepala Desa Tjokro Heru Budi Santosa dengan rendah hati mengundang setiap insan maupun pegiat seni budaya serta relawan guna berembug bersama dan memetakan serta membuat formulasi wisata desa yang berkelanjutan, semoga ide-ide dan pemikiran yang baik datang dari segala penjuru.
( Pitut Saputra )













