KLATEN, Merdekapostnews.top
Momentum libur panjang Idul Adha dan cuti bersama sekolah tak hanya menyuguhkan hari-hari penuh keceriaan bagi keluarga dan anak-anak, tetapi juga membawa dampak yang tidak terduga di ranah ekonomi, khususnya bagi para driver ojek online (ojol). Di tengah euforia liburan, berbagai sektor mengalami perubahan signifikan. Sementara sebagian masyarakat menikmati waktu bersama keluarga, para pelaku ekonomi di tingkat akar rumput harus menghadapi kenyataan pahit: menurunnya intensitas order secara drastis (09/06/2025).
Pelanggan yang biasa mengandalkan layanan ojol kini lebih memilih menikmati libur tanpa terburu-buru, ditambah lagi banyaknya restoran, pusat perbelanjaan, dan instansi yang tutup atau beroperasi dengan kapasitas terbatas. Kondisi ini memunculkan tantangan baru bagi para driver yang harian pendapatannya sangat bergantung pada arus order yang stabil.
Bagi banyak driver, momentum libur panjang ini menjadi ujian kecil dalam mempertahankan mata pencaharian. Marjoko, seorang driver ojol R2 berpengalaman, mengungkapkan bahwa dampak liburan ini cukup terasa.
“Dampak libur panjang memang signifikan. Order tidak seperti hari-hari biasa. Tapi saya masih bersyukur, karena walaupun hanya satu atau dua order per hari, itu setidaknya memberikan pemasukan, meski hasilnya tidak banyak setelah potongan aplikasi,” ujarnya.
Di balik nada haru dan pasrah itu, tersirat keyakinan bahwa setiap ujian pasti mempunyai harapan. Marjoko menyadari bahwa ini hanyalah penghambat sementara, dan ia memilih untuk berdoa sekaligus mencari peluang agar tetap bisa bertahan hingga situasi kembali normal. Ia bahkan sudah memiliki rencana cadangan dengan mencari alternatif usaha sampingan ketika liburan panjang anak sekolah membuat pasar semakin sepi.

Tak hanya Marjoko yang merasakan dampak perlambatan order, beberapa driver ojol lainnya pun mengakui situasi yang sama. Di sisi lain, terdapat pula driver R4 seperti Pipit yang memiliki perspektif berbeda. Menurut Pipit, meski order online menurun, libur panjang justru membuka peluang usaha offline.
“Di saat liburan, kami punya peluang lebih untuk menawarkan carter mobil ke objek wisata. Jadi, meski order secara online sepi, kami masih bisa mengoptimalkan pendapatan dengan bergerak langsung ke lokasi wisata yang ramai,” jelas Pipit.
Inisiatif semacam ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian, kreativitas dan fleksibilitas usaha dapat menjadi kunci untuk mengatasi krisis ekonomi mikro. Dengan mengarahkan usaha ke sektor pariwisata, para driver tak hanya mengandalkan transaksi digital, tetapi juga membuka peluang baru dalam pemberdayaan ekonomi di tingkat lokal.
Antara harapan dan tantangan, terlihat jelas bahwa para driver ojol semakin cerdas dalam membaca situasi dan menyesuaikan strategi. Inovasi seperti memanfaatkan peluang freelance di sektor pariwisata, menjadi tukang parkir di area wisata, atau bahkan menawarkan carter mobil secara khusus merupakan contoh nyata dari resiliensi ekonomi di akar rumput.
Mbah Bege, salah seorang sesepuh ojol Delanggu, saat ditemui awak media di BC Ojol Pasar Baru Delanggu mengatakan:
Mereka menyadari bahwa dalam dunia yang sangat bergantung pada teknologi, perubahan kondisi pasar bisa terjadi sewaktu-waktu. Oleh sebab itu, memiliki rencana cadangan dan diversifikasi usaha menjadi suatu keniscayaan. Fenomena ini juga menggambarkan bagaimana dinamika ekonomi digital yang bersifat fluktuatif dapat memaksa para pelaku usaha kecil untuk terus beradaptasi demi kelangsungan. Lebih jauh lagi, dinamika yang terjadi saat libur panjang Idul Adha ini menjadi cermin nyata dari kehidupan ekonomi informal yang kerap kali tidak terlindungi oleh sistem penjamin sosial,” paparnya.
Pendapatan harian yang tidak pasti, besarnya potongan dari aplikasi, dan tingginya ketergantungan pada kondisi pasar merupakan beberapa faktor yang menciptakan ketidakstabilan. Namun di balik semua itu, semangat untuk terus mencoba dan berinovasi selalu muncul. Para driver, dalam menghadapi masa-masa sepi seperti ini, mengajarkan kita tentang arti resiliensi dan keberanian untuk selalu mencari solusi kreatif. Upaya mereka untuk tetap aktif, baik dengan mengubah arah usaha maupun menambah lapisan nilai dari jasa yang ditawarkan, menunjukkan bahwa ekonomi di tingkat akar rumput memiliki kekuatan untuk berkembang walaupun dalam kondisi sulit,” ujarnya.
Lebih lanjut, Mbah Bege mengatakan“Tak dipungkiri, momen libur panjang ini sekaligus memberikan pelajaran berharga bagi pemerhati ekonomi dan pembuat kebijakan. Fenomena penurunan order pada layanan ojol serta adaptasi usaha sampingan yang bermunculan menyiratkan perlunya dukungan lebih nyata dari berbagai pihak. Pendekatan yang lebih holistik untuk memastikan perlindungan dan pemberdayaan ekonomi para pekerja sektor informal perlu didorong. Misalnya, penyediaan dukungan keuangan darurat atau insentif untuk diversifikasi usaha dapat menjadi langkah strategis agar para driver tidak terlalu terdampak oleh fluktuasi pasar yang bersifat musiman. Selain itu, sinergi antara pihak swasta, pemerintah, dan pelaku usaha di lapangan juga akan sangat membantu dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan stabil,” tegasnya.
Tak hanya itu, “Pergeseran dari ekonomi digital murni ke usaha campuran, menggabungkan layanan online dan offline, juga mencerminkan adaptasi sosial yang sangat relevan di era modern. Para driver ojol yang semula mengandalkan pesanan melalui aplikasi kini menemukan bahwa keberadaan mereka tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi. Malah, mereka belajar untuk mengeksplorasi peluang di sektor pariwisata, membuka layanan carter mobil, atau bahkan menjadi bagian dari upaya promosi daerah. Dengan demikian, libur panjang anak sekolah tidak lagi menjadi momok yang menakutkan, melainkan titik balik bagi terciptanya inovasi dan penguatan ekonomi lokal secara mandiri,” terang Mbah Bege optimis.
“Di balik segala tantangan yang dihadapi, optimisme dan semangat pantang menyerah tetap menjadi kunci utama bagi para driver ojol. Meskipun sistem order digital mungkin hadir dengan tingkat fluktuasi yang tinggi dan potongan biaya yang memberatkan, pendekatan kreatif serta kegigihan mereka untuk mencari alternatif usaha menjadi inspirasi tersendiri. Harapan tetap membara bahwa dengan adanya solidaritas dan upaya bersama, setiap tantangan ekonomi, sekecil apa pun, dapat diatasi. Libur panjang ini, bagi sebagian pelaku ekonomi di tingkat akar rumput, hanyalah satu babak dalam perjalanan panjang menghadapi dinamika pasar yang terus berubah,” tuturnya.
Melalui kisah nyata para driver ojol seperti Marjoko dan Pipit, kita diajak untuk melihat dari dekat realitas kehidupan para pekerja informal yang harus beradaptasi dengan cepat pada setiap kesempatan. Mereka bukan sekadar “pengantar”, tetapi juga pahlawan ekonomi kecil yang berjuang menyambung hari, mengubah krisis menjadi peluang. Kisah inspiratif ini membuka ruang diskusi lebih luas mengenai perlunya inovasi, dukungan kebijakan, dan apresiasi terhadap upaya kreatif di tengah arus globalisasi maupun kemajuan teknologi. Semoga pelajaran yang didapat hari ini dapat menginspirasi kita semua untuk terus menemukan kekuatan dalam setiap tantangan.
“Dalam semangat keberanian dan inovasi, kita dapat menyimpulkan bahwa libur panjang Idul Adha telah membawa serta cerita perjuangan yang sungguh menggugah. Perubahan, walaupun menantang, juga memberi ruang bagi transformasi dan munculnya ide-ide baru yang dapat menggerakkan ekonomi dari akar rumput ke arah yang lebih cerah. Momentum inilah yang seharusnya mendorong semua pihak untuk mendengar dan mendukung upaya adaptasi para pekerja lapangan demi kesejahteraan bersama,” pungkas Mbah Bege.
(Pitut Saputra)













