KLATEN, Merdekapostnews.top
Sejak diluncurkan di Solo dan beberapa kota besar sekitar pada Agustus 2021, Shopee Food telah menjadi salah satu motor penggerak transformasi layanan pengantaran makanan dan barang di wilayah Solo Raya, termasuk Kecamatan Delanggu, Klaten. Dalam kurun waktu beberapa tahun, platform ini berhasil menarik perhatian pelaku UMKM dan pemilik resto, sehingga jumlah outlet yang terdaftar berkembang pesat dari puluhan menjadi hampir merata di seluruh penjuru Delanggu dan sekitarnya (10/12/2025).
Kilas balik akhir tahun ini menggambarkan bagaimana kehadiran platform pengantaran mempengaruhi landscape kuliner online dalam radius sekitar lima kilometer dari pusat Kecamatan Delanggu. Perubahan yang terjadi bukan sekadar bertambahnya jumlah outlet, melainkan juga pergeseran preferensi konsumen, dinamika persaingan, dan strategi operasional yang diadopsi oleh pelaku usaha untuk bertahan dan tumbuh di era digital.
Berikut adalah grafik terbaru dari 15 Resto legendaris Delanggu dan sekitar yang berhasil meraup intensitas order ribuan hingga kurun waktu akhir tahun 2025 ini :
1. Hara Chicken (10.5 Ribu)
2. Kedai Umiku (5,7 Ribu)
3. Mie Kota Delanggu (5,4 Ribu)
4. Rocket Chicken Delanggu Dua (3,5 Ribu)
5. Omah Duren Resto (3,3 Ribu)
6. Beem Steak & Shake (3,3 Ribu)
7. Tuk Tuk Thai Tea (2,8 Ribu)
8. Martabak Barokah Dua (2,1 Ribu)
9. Ayam Penyet Mbak Rahma ( 2 Ribu )
10. Ayam Kremes Mbah Rukiyat ( 2 Ribu)
11. Resto Kawan Lamo (1,7 Ribu )
12. Frezz Drink Delanggu (1,7 Ribu)
13. Martabak Tegal Papang (1,3 Ribu)
14. Seblak Power (1,3 Ribu)
15. Say Story (1,1 Ribu)
Keberhasilan 15 resto tersebut menjadi salah satu indikator nyata dalam perkembangan online kuliner Delanggu. 15 resto yang sejak masa awal bergabung dengan Shopee Food dan mencatatkan ribuan penjualan pada profil mereka di aplikasi tersebut menjadi semacam barometer popularitas kuliner lokal di platform digital, dengan variasi menu yang mencerminkan selera masyarakat Delanggu, dari ayam goreng, mie, martabak, hingga minuman kekinian. Pada puncak popularitasnya, Hara Chicken sempat beberapa saat menempati posisi teratas dengan lebih dari 10,5 ribu order, menjadikannya fenomena tersendiri, terlebih karena ekspansi cabang yang mencapai puluhan outlet di berbagai daerah juga menjadi inspirasi bagi resto dan UMKM lain guna terus berkembang.
Namun dinamika pasar tidak statis. Popularitas Hara Chicken yang sempat mendominasi, belakangan mengalami penurunan intensitas order setelah munculnya persoalan internal manajemen. Pergeseran ini membuka ruang bagi pemain lain untuk naik daun. Omah Duren misalnya, kini memimpin dalam intensitas order harian, mengungguli pesaing lama. Di sisi lain, pendatang baru seperti Mixue juga menunjukkan laju pertumbuhan pesanan yang cepat, mencatatkan hampir dua ribu order dalam beberapa bulan terakhir. Perubahan posisi ini menegaskan bahwa keunggulan kompetitif di platform digital sangat bergantung pada konsistensi layanan, manajemen internal, dan kemampuan beradaptasi terhadap preferensi konsumen.

Posisi lima besar saat ini juga telah mulai bergeser menampilkan kombinasi antara pemain lama dan pendatang baru yakni ; Posisi pertama diraih Omah Duren, kedua Mixue, ketiga Ayam Bakar Sakhi, keempat resto Kawan Lamo, dan kelima resto Ayam Bakar Mbak Rahma. Mixue dan Ayam Bakar Sakhi sebagai pendatang baru terus bersaing ketat dalam hal intensitas order harian, sementara Kawan Lamo dan Mbak Rahma mempertahankan persaingan head-to-head yang sering berganti posisi. Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar Delanggu bersifat dinamis, bukan hanya soal siapa yang lebih dulu hadir, melainkan siapa yang mampu mempertahankan kualitas, inovasi menu, dan pengalaman pelanggan.
Beberapa faktor utama yang mempengaruhi perkembangan resto dan UMKM di platform pengantaran antara lain, strategi pemasaran digital termasuk harga, promosi, kualitas produk, kecepatan layanan, serta respons terhadap ulasan pelanggan. Resto yang berhasil memaksimalkan fitur promosi, menjaga konsistensi rasa, dan merespons masukan pelanggan, mereka cenderung mempertahankan atau meningkatkan volume pesanan. Sebaliknya, masalah internal manajemen atau penurunan kualitas layanan dapat langsung berdampak pada peringkat dan jumlah order.
Dari sudut pandang pelaku usaha, grafik perkembangan ini menjadi bahan evaluasi dan inspirasi. Bagi resto yang masih tertinggal, ada pelajaran penting yang harus diambil hikmahnya, memanfaatkan teknologi dan platform digital bukan sekadar mendaftar, tetapi juga aktif mengelola profil, memanfaatkan promosi, dan menjaga standar operasional. Bagi UMKM, peluang pasar online yang besar merupakan undangan untuk berinovasi, baik dalam produk, kemasan, maupun strategi pemasaran, agar dapat bersaing di ranah yang semakin kompetitif.
Dari sisi konsumen, pergeseran preferensi menunjukkan bahwa selera dapat berubah seiring waktu dan dipengaruhi oleh tren, promosi, serta rekomendasi digital. Data penjualan dan peringkat resto di platform menjadi cerminan preferensi kolektif yang terus bergerak. Oleh karena itu, pemilik resto perlu memantau tren ini secara berkala untuk menyesuaikan penawaran mereka.
Perlu dicatat bahwa gambaran ini hanya merepresentasikan satu platform, yakni Shopee Food. Platform lain mungkin memiliki pola dan grafik intensitas order yang berbeda, sehingga gambaran menyeluruh tentang lanskap kuliner online di Delanggu akan lebih lengkap jika melibatkan data dari berbagai layanan pengantaran. Meski demikian, perubahan yang terlihat pada Shopee Food sudah cukup memberikan gambaran nyata tentang bagaimana digitalisasi mengubah cara konsumen memesan makanan dan bagaimana pelaku usaha meresponsnya.
Akhirnya, kilas balik perkembangan resto dan UMKM online di Delanggu bukan hanya sekedar catatan statistik, ia adalah panggilan bagi para wirausaha untuk bergerak. Teknologi membuka akses pasar yang lebih luas, tetapi keberhasilan tetap bergantung pada kemampuan menjalankan usaha dengan baik, dari kualitas produk hingga manajemen operasional. Bagi yang siap berinovasi dan beradaptasi, peluang meraih omset maksimal di pasar online yang terus berkembang masih sangat terbuka.
( Pitut Saputra )













