KLATEN , Merdekapostnews.top
Isra Miʿraj adalah momen agung ketika Rasulullah SAW melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha, dan dari peristiwa inilah perintah shalat lima waktu ditetapkan, sebuah titik refleksi untuk memperkuat hubungan pribadi dengan Allah di tengah tantangan zaman ini (15/01/2026).
Makna singkat peristiwa disebutkan dalam Kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang disusun Syofyan Hadi (2021), perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram hingga dibawa menuju langit ketujuh diceritakan Allah dalam dua surah Al-Qur’an yang berbeda. Keduanya adalah Surah Al-Isra ayat 1 dan An-Najm ayat 13 -18, yakni
Isra adalah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis), sedangkan Miʿraj adalah kenaikan beliau ke langit hingga mencapai Sidratul Muntaha dan bertemu dengan Allah di balik hijab, di sana beliau menerima perintah shalat yang menjadi tiang agama bagi umat Islam. Peristiwa ini sering dikaitkan dengan mukjizat yang menunjukkan kebesaran Allah dan kedudukan khusus Rasul sebagai pembawa wahyu. Selain aspek luar biasa perjalanan, inti peristiwa adalah penegasan hubungan vertikal antara hamba dan Pencipta melalui ibadah yang teratur.
Dalam konteks spiritual dan historis
peristiwa Isra Miʿraj terjadi pada masa sulit dalam kehidupan Nabi, ketika beliau mengalami duka dan tekanan dari kaum Quraisy. Dalam konteks itu, perjalanan malam menjadi penghiburan sekaligus penguatan misi kenabian. Secara historis, Isra Miʿraj menegaskan bahwa wahyu tidak hanya bersifat tekstual tetapi juga pengalaman spiritual yang memberi arah praktis bagi umat. Penetapan shalat lima waktu bukan sekadar ritual formal, ia adalah struktur yang mengikat kehidupan pribadi, sosial, dan moral umat Islam.
Isra Miʿraj menyimpan hikmah mendalam bagi umat Islam, peristiwa yang melampaui nalar ini mengingatkan kebesaran Allah dan adanya dimensi realitas yang jauh melampaui pengalaman sehari-hari, sehingga iman dipanggil untuk melihat lebih dari sekadar yang kasat mata, dari sana muncul penegasan bahwa shalat bukan ritual kosong melainkan sarana komunikasi langsung dengan Pencipta, tempat mengadu, bersyukur, dan memohon petunjuk, yang membentuk disiplin spiritual dan ketenangan batin, kisah Nabi pada masa sulit juga mengajarkan keteguhan di masa ujian, bahwa wahyu dan penguatan sering datang ketika harapan tampak pudar, memberi teladan bagaimana menghadapi cobaan dengan sabar dan tawakal, sekaligus, titik perjalanan menuju Masjidil Aqsha menegaskan persatuan umat, mengingatkan kita akan keterkaitan Muslim di seluruh dunia dan pentingnya solidaritas serta kepedulian terhadap saudara seiman, bila direnungkan dan diamalkan, Isra Miʿraj menjadi panggilan praktis untuk memperdalam kualitas ibadah, memperkuat etika sosial, dan menjadikan iman sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi tantangan zaman.
Refleksi Rasulullah SAW menerima wahyu adalah sebagai momentum perubahan dimana Isra Miʿraj bukan sekadar peristiwa luar biasa, ia adalah momentum transformasi, dari kesedihan menjadi tugas, dari keterasingan menjadi komunitas yang teratur melalui ibadah. Penerimaan wahyu di puncak langit menegaskan bahwa pesan Islam bersifat transenden sekaligus praktis, iman harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Shalat yang diperintahkan bukan hanya kewajiban ritual, melainkan alat pembentuk karakter, disiplin waktu, kesadaran moral, dan pengendalian diri. Ketika umat memahami Isra Miʿraj sebagai titik balik spiritual, peristiwa itu menjadi panggilan untuk memperbaiki kualitas ibadah dan memperkuat etika sosial.
Banyak cara dapat dilakukan umat muslim untuk mengimplementasikan makna Isra Miʿraj dalam kehidupan sehari-hari, misalnya memperkuat kualitas shalat dengan mengutamakan khusyuk dan konsistensi sehingga setiap rakaat menjadi momen evaluasi diri dan perbaikan niat, bukan sekedar rutinitas. Mempelajari Al Qur’an, sirah dan tafsir agar konteks sejarah dan makna ayat terkait memperkaya pemahaman sehingga ibadah menjadi hidup dan berakar pada pengetahuan, bukan kebiasaan kosong.
Disamping itu, mengamalkan hikmah sosial dengan mewujudkan ukhuwah dan solidaritas, terutama terhadap isu-isu kemanusiaan dan tempat – tempat suci yang menjadi simbol persatuan umat, sebagai wujud nyata dari iman yang peduli, kemudian, praktikkan keteguhan spiritual ketika menghadapi ujian dengan mengingat bahwa kekuatan sering muncul setelah masa-masa berat, memanfaatkan doa dan shalat sebagai sumber ketenangan dan pijakan untuk mengambil keputusan bijak, serta integrasikan nilai-nilai Isra Miʿraj ke dalam tata hidup sehari-hari dengan menjadikan disiplin shalat sebagai dasar manajemen waktu, tanggung jawab keluarga, dan etika kerja sehingga iman mempengaruhi seluruh aspek hidup, membentuk pribadi yang lebih bertanggung jawab, peka sosial, dan teguh dalam menghadapi tantangan zaman.
Isra Miʿraj mengundang setiap Muslim untuk berhenti sejenak, merenung, dan memperbarui komitmen spiritualnya. Peristiwa ini mengajarkan bahwa wahyu bukan hanya pesan untuk didengar, tetapi panggilan untuk dihidupi. Shalat sebagai hadiah langit menjadi jalan tetap menuju kedekatan dengan Allah dan landasan pembentukan masyarakat yang adil dan beradab. Memperingati Isra Miʿraj berarti mengambil pelajaran praktis, memperkuat hubungan vertikal dengan Tuhan, mempererat hubungan horizontal antar sesama, dan menjadikan iman sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi tantangan zaman.
( Pitut Saputra )













