KLATEN, Merdekapostnews.top
Warga RW 03 Kuncen Sidodadi, Delanggu, kembali menggelar hiburan musik sederhana dengan orgen tunggal. Acara ini rutin diadakan sebulan sekali sebagai ajang silaturahmi sekaligus pelepas penat setelah bekerja seharian. Setiap warga, tanpa terkecuali, berkesempatan menjadi penyanyi di atas panggung dadakan (23/08/2025).
Keberagaman suaranya menciptakan suasana hangat dan meriah, diiringi alunan musik organ yang dioperasikan oleh Papela RT 04 Kuncen. Meski sederhana, kebersamaan ini terasa sangat istimewa karena melandasi semangat kebersamaan dan tolong-menolong.
Pagi hari sebelum acara dimulai, sejumlah pemuda dan orang tua bahu-membahu memasang tenda pelindung. Mereka meminjam terop RT 04 demi antisipasi hujan atau panas terik. Pemasangan tenda menjadi simbol kesiapan warga untuk menyambut tamu, baik dari dalam RW maupun tamu yang berasal dari RW tetangga. Proses ini menggambarkan satu nilai penting, segala sesuatu disiapkan secara gotong royong, tanpa menunggu instruksi dari luar atau aparat desa. Solidaritas spontan itulah yang membuat pelataran warga berubah menjadi ruang perjumpaan penuh kehangatan.
Ritual bawa snack mandiri tiap bulan menjadi momen mengharukan paling ditunggu. Setiap keluarga membawa sepiring snack, bahan dasar atau camilan buatan rumah, mulai dari arem-arem, kacang, pisang godok, teh, kopi, gula pasir dan lainnya. Bahkan aneka kue tradisional. Semua camilan digabung dalam satu meja besar, lalu dibagikan kepada pengunjung yang datang. Kebiasaan ini memupuk rasa saling memiliki, siapapun boleh mencicip apa saja tanpa perhitungan. Dengan begitu, kelebihan satu warga menjadi berkah bagi warga lain. Inilah praktik solidaritas riil, yang kian langka di tengah derasnya arus individualisme.
Tengah hari tiba, panggung sederhana di sudut halaman rumah Bapak Nurhidayat siap menghibur. Orgen tunggal mulai memainkan lagu-lagu populer dan dangdut klasik, hingga tembang kenangan. Giliran pertama dibuka oleh anak-anak remaja dengan suara ceria, lalu diteruskan oleh ibu-ibu yang tak kalah bersemangat, hingga bapak-bapak dengan vokal gagah. Sorak sorai meramaikan udara sore, anak-anak berlarian sambil berjoget, sedangkan para orang tua tersenyum penuh kelegaan. Ada keindahan dalam tawa riang tanpa beban, sekejap melupakan rutinitas kerja keras di ladang, pabrik, atau warung kelontong.
Iwan salah seorang warga yang merupakan team inti panitia RT 04 RW 03 mengatakan “Tuan rumah yang kebagian jadwal penyelenggaraan menyediakan aliran listrik dan lampu penerangan. Meja dan kursi, dipinjam dari inventaris RT 04, melengkapi kenyamanan tamu. Semua fasilitas ini diberikan secara cuma-cuma, tanpa kontribusi uang sepeser pun. Konsep ‘oleh warga, dan untuk warga’ dijalankan secara konsisten. Bahkan di balik kesederhanaan peralatan, energi kebersamaan terasa berlipat, warga saling menjaga kabel listrik, memastikan lampu tak padam, atau sekadar menaruh kursi tambahan untuk tetua yang datang belakangan.” ujarnya bersemangat.
Lebih lanjut dijelaskan “Keberadaan sesepuh desa menambah khidmat suasana. Meskipun hanya duduk santai di bagian depan tenda, atau ikut lesehan bersama warga sekali-sekali mereka ikut bertepuk tangan atau mengucapan selamat atas penampilan penyanyi. Kehadiran mereka sekaligus menegaskan nilai penghormatan pada pengalaman dan kebijaksanaan para tetua. Anak muda pun belajar, bahwa merawat tradisi sosial tak cukup dengan menghadirkan hiburan, melainkan juga menjaga keterlibatan lintas generasi.” jelas Iwan
Semilir angin petang membawa wangi kue tanah air dan harum rumput halaman. Gemerlap lampu kecil di tiang-tiang tenda memantul halus di wajah-wajah yang terlukis kebahagiaan. Percakapan terbagi pada kelompok‐kelompok kecil, ada yang membicarakan isu pertanian, ada pula yang mendiskusikan rencana bersih-bersih sungai, serta sekadar berbagi tips merawat tanaman hias. Tanpa disadari, acara musik ini juga memfasilitasi pertukaran informasi penting keperluan warga sehari-hari.
“Ini adalah sebuah tradisi yang semakin terlupakan dalam era kota-kota besar yang mengabaikan nilai toleransi dan mengesampingkan gotong royong, dan cenderung individualis. Namun di RW 03 Kuncen Sidodadi, Delanggu semangat gotong royong, toleransi dan kebersamaan tersebut justru menjadi tradisi yang terus dipupuk, kesederhanaan yang ada justru menjadi oase kecil. Di sini, solidaritas bukan slogan, ia terwujud lewat tindakan nyata, memasang tenda, menyalakan lampu, menghidangkan camilan, hingga bertepuk tangan bersama. Nilai‐nilai kebersamaan warisan nenek moyang terus dipelihara, tanpa perlu agitasi besar atau bantuan dana eksternal. Prinsip sederhana ‘saling menghormati kekurangan, berbagi kelebihan’ berjalan alami.” terang Iwan menambahkan.

“Hiburan musik bulanan ini bukan semata untuk hiburan. Ia adalah katalisator ikatan sosial, akar yang menghubungkan individu menjadi komunitas. Lewat harmoni suara dan alunan orgen tunggal, warga belajar mendengarkan, bukan sekadar mendengar. Mereka belajar menghargai giliran, menghormati siapapun yang ingin tampil. Rasa saling percaya tumbuh, membuat warga lebih siap dalam menghadapi tantangan bersama, seperti bencana alam atau renovasi fasilitas umum.” pungkasnya.
Semoga tradisi sederhana ini terus lestari, diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bukti bahwa desa kecil pun mampu menunjukkan kebersamaan besar. Hiburan musik RW 03 Kuncen Sidodadi bukan sekadar pentas tanpa nuansa, ia wujud nyata solidaritas, gotong royong, dan toleransi. Di balik denting tuts orgen tunggal, tumbuh jiwa kolektif yang kuat, memberi harapan bahwa nilai kemanusiaan dapat hidup subur meski zaman terus berubah.
(Pitut Saputra)













