KLATEN, Merdekapostnews.top
Di jantung kota kecil Delanggu, fenomena pengamen jalanan telah berevolusi jauh melampaui masa lalu, dimana penggunaan tutup botol seng yang ditempel pada sepotong kayu. Dahulu, sempat identik dengan pengamen di jalanan yang bernyanyi hanya sekedarnya (03/06/2025).
Namun kini seni musik jalanan ini telah mulai berevolusi, suara merdu mereka menjadi iringan sederhana untuk mengiringi lagu-lagu lama, dan sejenak menghibur para pejalan kaki ataupun pengguna motor yang menunggu lampu traffic light menyala hijau, sembari mengumpulkan sedekah seikhlasnya melalui wadah umplug. Kini, di bawah sinar lampu merah perempatan pasar, kreativitas mereka mulai memunculkan warna baru dalam dunia seni musik jalanan.
Melintas perempatan lampu merah Pasar Delanggu maka kita akan disuguhkan pemandangan unik di pojok timur jalan, di mana lampu merah menjadi saksi bisu penampilan para musisi jalanan, alat musik tradisional angklung menjadi primadona. Para pengamen tidak hanya mengandalkan alat musik sederhana, melainkan juga mengolah bahan daur ulang seperti botol plastik, ember, dan berbagai sampah yang muncul, untuk menciptakan drum alternatif. Dengan gagasan inovatif ini, mereka menghasilkan alunan melodi yang kental akan nuansa etnik fusion, atau yang biasa disebut ansambel, dengan mengkombinasikan instrumen tradisional serta sentuhan modern. Setiap pukulan dan dentingan bukan hanya menggugah telinga, tapi juga menyatukan jiwa-jiwa yang melewati keramaian kota.
Sementara itu, di sisi barat perempatan lampu merah, sekelompok pengamen dengan pendekatan berbeda memutuskan untuk menghadirkan nuansa akustik. Menggunakan sound system sederhana, mereka tidak sekadar “sambil lalu” menyanyikan lagu, melainkan melantunkan lagu secara utuh. Repertoar mereka mencakup baik lagu-lagu hits yang sedang populer maupun aransemen lagu karya asli mereka sendiri, yang masing-masing disuguhkan dengan penuh perasaan dan intensitas. Pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyisipkan pesan akan keberanian bereksperimen dan mengekspresikan diri melalui seni musik di jalanan.

Keberagaman gaya di kedua sisi perempatan ini menciptakan pemandangan unik yang meramaikan landscape sudut kota, sekaligus menjadi simbol kreativitas masyarakat Delanggu. Namun, terlepas dari keindahan yang terpampang, ada dilema tersendiri antara kreativitas seni dan kebijakan.
“Sayangnya, semangat berinovasi para pengamen seringkali tidak disikapi bijaksana oleh para pemangku kebijakan, baik dari pihak Pemerintah Daerah (Pemda) maupun Pemerintah Desa (pemdes). Alih-alih mendukung keberagaman budaya dan menyediakan ruang khusus untuk penampilan mereka, para pengamen malah harus berhadapan dengan tindakan satpol PP yang mengejar-ngejar karena alasan “keindahan” dan ketertiban visual kota.” hal tersebut sempat terlontar oleh Gondrong salah seorang pengamen yang bercerita pada awak media merdekapostnews.top
Ironisnya, di perempatan lampu merah Delanggu yang sarat akan cerita ini, terdapat pula warga yang menggeluti usaha sebagai penambal ban motor dan sepeda. Kedua aktivitas ini, meski tampak berbeda, sebenarnya saling melengkapi. Pengamen jalanan menghadirkan hiburan dan kehangatan budaya, sedangkan tukang tambal ban memastikan mobilitas masyarakat tetap lancar dalam kondisi darurat. Jika kedua elemen ini mendapatkan ruang dan dukungan yang layak, mereka berpotensi membentuk ekosistem kota yang tidak hanya indah dilihat tetapi juga kaya manfaat sosial ekonomi.
Fefe Seorang Rekan musisi dari Surakarta yang sempat melihat fenomena ini mengatakan “Pergeseran paradigma dalam menilai kreativitas warga sangatlah dibutuhkan. Bukan sekadar menolak dengan alasan estetika, melainkan menyadari bahwa inovasi di jalanan ini adalah bentuk keberanian menciptakan lapangan pekerjaan secara mandiri. Mereka bukanlah kriminal, melainkan wujud nyata dari masyarakat yang proaktif mencari solusi kreatif untuk bertahan dan berkembang serta menciptakan lapangan kerja sendiri.” terangnya.
“Di Solo mereka diwadahi dan diberikan tempat tersendiri di Koridor Gatsu dimana mereka bisa bereksperimen dan menampilkan kreativitas musik di ruang publik dengan leluasa. Bukan tidak mungkin Delanggu pun juga memungkinkan sebenarnya bila mau di buat sentuhan seperti musisi jalanan di Solo. Dengan ide-ide segar dan pemikiran yang inklusif, perempatan lampu merah Delanggu sebenarnya dapat dijadikan pusat inspirasi yang mengakomodir berbagai kepentingan. Sebuah tempat yang tidak hanya bersih dan menarik secara visual, tetapi juga menjadi ruang interaksi antara seni, budaya, dan layanan dasar yang sangat dibutuhkan.” terang Fefe.

“Sayangnya kesadaran dari pihak-pihak terkait belum seutuhnya melihat fenomena ini sebagai sebuah potensi pariwisata kota, Semoga kedepan bila sudah cukup kesadaran untuk melangkah lebih maju, dengan kolaborasi semua pihak, Delanggu dapat menampilkan wajah baru yang lebih berbudaya, kreatif, dan inklusif, sebuah kota yang menghargai upaya masyarakat dalam menciptakan inovasi dan lapangan kerja secara mandiri.” ujarnya.
Dirinya menekankan “Butuh lebih dari sekedar kebijakan dalam melihat fenomena ini lebih lanjut, terkait dengan penataan tata ruang kota dan pengembangan potensi warga, namun begitu mimpi tentang ruang seni publik di Delanggu bukanlah sebuah mimpi belaka bila semua pihak ikut berpikir dan bersinergi tanpa mengesampingkan kepentingan satu dan lainnya.” pungkasnya.
( Pitut Saputra )













