KLATEN, Merdekapostnews.top
Di bawah langit cerah Desa Polanharjo, sebuah momentum bersejarah terukir saat GKR (Gusti Kanjeng Ratu) Wandansari, atau yang akrab disapa Gusti Moeng, menandatangani prasasti batu dalam prosesi grand opening Wisata Resto Alam by Mbah Lurah. Lebih dari sekadar seremoni pembukaan tempat makan, acara ini menjadi titik tolak baru bagi Klaten dalam memadukan pelestarian budaya dengan pengembangan ekonomi berbasis komunitas (16/08/2025).
Gusti Moeng, tokoh budaya yang dikenal sebagai penjaga nilai-nilai Keraton Surakarta, menyampaikan Sabda Tompo yang sarat makna. Ia menegaskan bahwa pelestarian bangunan pusaka bukan hanya soal menjaga fisik, tetapi juga menyangkut pelestarian nilai gotong royong, semangat kebersamaan, dan hubungan spiritual dengan alam. “Rumah besar dengan tiang jati, gapura batu ukir, dan atap limasan ini adalah jejak perjalanan nenek moyang. Jika kita merawat alam di sekitarnya, mata air, pepohonan, dan lahan hijau, warisan ini akan lestari untuk anak cucu,” tuturnya penuh semangat.
Pernyataan tersebut bukan hanya refleksi budaya, tetapi juga sebuah seruan untuk bertindak. Gusti Moeng melihat Wisata Resto ini sebagai mercusuar kebudayaan desa, tempat di mana tradisi dan modernitas bersinergi. Ia menyambut baik inisiatif pemilik resto, Yuli Purnama, yang tidak hanya membangun bisnis kuliner, tetapi juga merawat rumah tradisional sebagai pusat pembelajaran budaya.
Lebih jauh Gusti Moeng juga mengatakan “Saya tidak menyangka, ternyata eyang buyutnya pernah menjadi sopir di Keraton. Ada kemungkinan garis keturunan Pikukuh dengan Raden Ngabehi. Ini akan kami telusuri lebih lanjut,” tambahnya, membuka peluang rekoneksi sejarah keluarga dengan Keraton.

Yuli Purnama, sang pemilik, tampil dengan penuh ketulusan dalam sambutannya. Ia mengungkapkan rasa syukur atas dukungan semua pihak sejak soft opening pada 15 Februari 2025 lalu. “Momen ini bukan hanya tentang membuka bisnis kuliner. Kami ingin merawat warisan leluhur agar rumah tradisional ini tetap hidup sebagai pusat pembelajaran budaya,” ujarnya. Komitmen Yuli terlihat jelas dalam setiap detail bangunan yang dipertahankan, dari ukiran joglo hingga penempatan prasasti batu sebagai titik fokus spiritual dan estetika.
Lebih dari itu, Yuli membawa visi inovatif yang menjadikan restoran sebagai bagian dari ekosistem wisata terintegrasi. Ia merancang program ekspedisi lingkungan bersama sekolah dan komunitas Pramuka, menggandeng pemandu lokal untuk menciptakan pengalaman edukatif yang memupuk cinta budaya. “Setiap kunjungan harus punya makna. Kami ingin anak-anak belajar mencintai alam dan budaya sejak dini, dan bisa merasakan sensasi seperti kembali pulang ke rumah sendiri yang khas dengan suasana kampung yang asri” jelasnya.
Dari sisi kuliner, Alam Resto menyajikan menu khas Klaten yang telah dikurasi langsung oleh Gusti Moeng. Beberapa hidangan unggulan seperti gongso, sup jagung pedas-manis, sop iga berkuah kental, dan ikan bakar rempah diberi stiker “Rekomendasi Gusti” sebagai penanda kualitas dan keaslian rasa. “Setiap bahan baku kami ambil dari petani lokal. Ini bentuk apresiasi kami atas kontribusi petani dan pelaku UMKM,” terang Yuli, menegaskan komitmennya terhadap ekonomi kerakyatan.
Prosesi inti penandatanganan prasasti dilakukan di pintu masuk joglo utama, diapit air mancur dan taman lampu kerlap-kerlip. Penandatanganan juga dilakukan pada lukisan gunungan wayang, simbol filosofi hidup masyarakat Jawa. Setelah itu, doa bersama dan siraman air suci mengalir ke permukaan prasasti sebagai wujud harapan akan berkah dan keberlanjutan ekosistem wisata.
Kehadiran tokoh adat, pemerintah desa, kecamatan, Pakoso Keraton, serta komunitas pariwisata lokal memperkuat posisi strategis restaurant ini sebagai penghubung antara warisan dan peluang ekonomi. Camat Polanharjo dan Kepala Desa menyatakan dukungan penuh terhadap rencana jangka panjang, termasuk workshop pelestarian arsitektur tradisional, pembangunan gazebo edukatif di tepi mata air, dan digitalisasi layanan pemesanan.
Festival budaya tahunan juga dirancang sebagai wadah ekspresi seni, kerajinan tangan, dan kuliner khas desa. Semua elemen masyarakat diajak berkolaborasi, memastikan manfaat ekonomi menyebar merata dan tidak terpusat. Gusti Moeng menilai pendekatan ini sebagai bentuk nyata dari sinergi antara nilai-nilai tradisional dan inovasi modern.
Ketika senja tiba, suasana halaman resto masih dipenuhi canda tawa, swafoto di depan prasasti, dan obrolan hangat diiringi musik tradisional. Di tengah semilir angin, Gusti Moeng menutup acara dengan harapan besar, “Semoga Alam Resto by Mbah Lurah menjadi tempat di mana tradisi dan modernitas bersinergi untuk masa depan yang berkelanjutan.”
Grand opening ini bukan hanya peristiwa seremoni, tetapi sebuah deklarasi kolektif bahwa Klaten siap melangkah sebagai ikon pariwisata budaya. Dengan perpaduan arsitektur kuno, kuliner tradisional, dan program edukatif, Alam Resto by Mbah Lurah berdiri sebagai simbol harapan baru, di mana warisan leluhur dan visi progresif bertemu dalam satu ruang yang hidup dan berdaya.
Akhirnya tidak lengkap rasanya berenang di mata air Cokro kalau tidak mampir ke wisata alam resto by Mbah lurah, yang terletak di desa Ngledok, RT.01/RW.01, Ledok, Ngaran, Kec. Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Bilamana kebetulan sedang berlibur di sekitar sini cobalah mampir dan rasakan atmosfer khas pedesaan Jawa klasik di restaurant ini, yang terasa mengingatkan kita seperti kembali pulang ke rumah simbah di desa.
(Pitut Saputra)













