Klaten, merdekapostnews.top
Langit sore yang ceria tiba-tiba hujan datang mengguyur, saat kami berkumpul di Joglo Latar Tjokro bersama Kepala Desa Cokro, Heru Budi Santosa, beserta jajaran pengurus Bumdes dan Pokdarwis. Hujan deras sementara waktu yang mendadak menyelimuti suasana, seakan menghapus lelah perjalanan dan mengusir segala beban, menyisakan hanya kehangatan perbincangan dan tawa yang mengalun bersama riuh rendah alam. Di sela-sela keakraban inilah, samar terlihat dari pelataran, tradisi kuliner leluhur hadir, menyapa kami dengan kehangatan yang tak hanya mengenyangkan perut, melainkan juga jiwa (14/06/2025).
Saat hujan mulai reda, muncul sosok Mbok Kamisan dengan langkah penuh keteguhan. Dengan membawa bakul yang berisi sate kere khas Dusun Sagi, Desa Cokro, Mbok Kamisan melintas di depan kami, seakan dituntun oleh angin yang membawa kisah masa lalu. Aroma harum bumbu, yang sudah melegenda sejak puluhan tahun silam, langsung menggoda indera, mengantarkan kami ke dalam nostalgia tentang zaman yang sederhana namun penuh makna.
Begitu sigap, panggilan dari Ipunk, seorang rekan sekaligus pemandu obyek wisata Cokro, menggema di tengah keramaian, memanggil Mbok Kamisan untuk merapat dan segera mempersiapkan sate kere di Joglo Latar Tjokro. Tanpa ragu, Mbok Kamisan segera bersiap, menyiapkan peralatan dan bahan-bahan sederhana yang telah teruji oleh waktu.
Menurut pandangan Ipunk, sate kere yang disajikan oleh Mbok Kamisan bukanlah sekadar olahan makanan. Di balik setiap tusukan dan percikan bumbu kacang, tersimpan sejarah perjuangan, dedikasi, dan keberanian menghadapi tantangan zaman. “Setiap gigitan sate kere mengajak kita kembali pada akar peradaban yang sederhana, mengajarkan kita tentang kebersamaan, nilai kejujuran, dan semangat bertahan hidup meski segala upaya masih terbatas,” ucap Ipunk dengan nada penuh keharuan. Bagi dirinya, sate kere merupakan simbol keberlangsungan budaya, sebuah tradisi turun-temurun yang bukan saja mengukir rasa, melainkan juga mengabadikan momen-momen manis dalam kehidupan masyarakat kecil.
Proses penyajian sate kere ini meski dilakukan tanpa bantuan teknologi modern. Mbok Kamisan dengan cekatan mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari variasi sate gembus, sate ayam, ceker, hingga kepala ayam. Semua bahan tersebut ditangani dengan tangan terampil dan hati yang penuh cinta. Teknik pembakaran manual menggunakan alat bakar sederhana dan bara arang kayu menjadi saksi bisu dari tradisi yang tak lekang oleh waktu. Makanan yang dipersiapkan kemudian disajikan dengan sentuhan khas, lontong yang lembut dipadu dengan bumbu kacang yang menggoda, dibungkus daun pisang segar dan kertas pembungkus sederhana yang menambah nilai estetika setiap hidangan.
Keistimewaan sate kere tidak hanya terletak pada cita rasanya yang lezat, tetapi juga pada harganya yang terjangkau, hanya 10 ribu rupiah per porsi. Harga yang terjangkau ini justru menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Dukuh Sagi, karena mereka membuktikan bahwa kelezatan tradisional tidak harus mahal untuk dinikmati. Bahkan, banyak warga Dukuh Sagi, Cokro, yang pernah merantau dan sukses dengan berdagang sate kere, kemudian kembali ke desa dengan sejuta cerita perjuangan dan keberhasilan. Sebagai ungkapan syukur, mereka kerap menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk setiap kali musim mudik tiba. Tradisi wayang kulit itu bukan sekadar pertunjukan, melainkan wujud rasa syukur sekaligus simbol persatuan, yang menghubungkan setiap generasi dalam satu ikatan yang tak terpisah.

Ipunk menekankan bahwa keberhasilan mempertahankan tradisi kuliner seperti sate kere adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai luhur tidak lekang oleh modernisasi. Menurutnya, setiap gigitan yang disantap bukan hanya memuaskan selera, tetapi juga mengajarkan kita tentang pentingnya menghargai warisan budaya. “Di balik aroma dan rasa yang menggoda, ada kisah kerja keras, kejujuran, dan cinta terhadap budaya yang terus dijaga oleh para pendahulu kita,” ujar Ipunk dengan tegas. Baginya, keberlangsungan tradisi ini adalah cermin dari semangat komunitas yang gigih mempertahankan identitasnya, tanpa terpengaruh arus zaman yang semakin serba cepat.
Tak hanya itu, sosok Mbok Kamisan pun menjadi inspirasi tersendiri. Meskipun usianya sudah menginjak masa senja, ia tetap setia berkeliling desa setiap siang dan sore dengan membawa bakul berisi sate kere. Perjalanan puluhan kilo setiap harinya menunjukkan bahwa semangat hidup dan tekad untuk menjaga tradisi dapat menjadi kunci umur panjang dan kebugaran fisik. Aktivitasnya itu memberikan pelajaran berharga tentang dedikasi dan konsistensi, sebuah pengingat bahwa setiap tradisi memerlukan penjagaan dan ketulusan hati untuk terus hidup di tengah arus modernisasi.
Setiap kali melewati sudut-sudut Desa Cokro, kami seolah disuguhi pelajaran tentang arti kehidupan. Rasa manis pedas, gurihnya bumbu kacang, dan aroma harum sate kere mengalir bersama kenangan masa silam, menciptakan momen yang sulit dilupakan. Ipunk mengajak siapa pun yang berkesempatan untuk sejenak berhenti, menyatu dengan tradisi, dan meresapi setiap butir sejarah yang tertuang dalam setiap porsi sate kere. “Kita tidak hanya menyantap makanan, melainkan juga menyelami kisah perjuangan dan cinta yang membentuk identitas desa kami,” tutupnya dengan harapan tinggi agar tradisi ini terus lestari.
Melalui keberadaan sate kere Mbok Kamisan, masyarakat Dukuh Sagi membuktikan bahwa inovasi dan tradisi dapat hidup berdampingan. Seperti irama gamelan yang mengiringi pertunjukan wayang kulit, sate kere ini adalah lagu masa lalu yang mengajak setiap insan merenungi arti kebersamaan, keberanian, dan penghargaan kepada budaya. Di balik setiap porsi kecil yang dinikmati, terkandung pelajaran berharga tentang pentingnya mempertahankan nilai-nilai luhur dan meneruskannya kepada generasi mendatang. Tradisi ini, dengan segala kelezatannya, adalah simbol ketahanan budaya yang selalu menggugah hati dan tak lekang oleh waktu.
(Pitut Saputra)













