SUKOHARJO, merdekapostnews.top
Di tengah panggung kota Solo Baru yang mulai gelap menjelang fajar, persiapan terakhir untuk aksi monumental GARDA Solo Raya semakin memuncak. Aksi yang akan digelar pada 20 Mei 2025 ini bukan sekadar demonstrasi, melainkan perlawanan tegas terhadap sistem yang selama ini mengeksploitasi pengemudi transportasi online. Dalam setiap persiapan, terlihat semangat yang mendera, setiap langkah, setiap perintah, dan setiap koordinasi sudah dirancang tanpa kompromi demi keadilan sosial dan ekonomi (19/05/2025).
“Menyongsong Hari Perlawanan dan Kebangkitan Transportasi Online Indonesia, Aksi ini dirancang sebagai titik balik bagi ribuan pengemudi yang telah lama merasa dirampas haknya. Mereka yang selama ini dianggap sebagai angka statistik berubah menjadi kekuatan yang menuntut perubahan. Di balik keramaian persiapan, terdengar pepatah yang menyala dari dada para penyusun strategi. Jika kita tidak bergerak, kita membiarkan sistem yang tidak adil terus mencabik martabat kita.” Di tengah nuansa tegang itu, Djoko Saryanto, Juru Bicara GARDA Solo Raya, menyuarakan tekad yang sulit dibendung. Dengan nada yang menyeruak.
Dirinya berkata, “Ini bukan sekadar protes, ini perlawanan dan Kebangkitan! Mereka yang memilih diam adalah bagian dari masalah!”
Kata-kata Djoko menjadi seruan bagi para pengemudi. Suaranya bak lonceng yang menggugah jiwa, mengingatkan bahwa aksi ini merupakan titik kritis antara keterpurukan dan harapan. Ia menekankan bahwa perjuangan ini bukanlah tawaran melainkan panggilan, sebuah kewajiban moral untuk melawan praktik-praktik eksploitatif yang telah lama menggerogoti kesejahteraan pengemudi. Dengan setiap kalimatnya, ia membawa beban sejarah dan kepercayaan bahwa setiap pengemudi harus bangkit, karena diam sama dengan menyerah pada ketidakadilan.
Di balik semangat yang membara, GARDA Solo Raya tidak sekadar mengandalkan emosi. Organisasi ini telah menjalin koordinasi erat dengan Kodim dan Polresta Surakarta guna memastikan bahwa setiap langkah perlawanan terlaksana dengan sistematis. Rute pergerakan, aspek keamanan, dan teknis operasional sudah dipersiapkan tanpa celah. Semua disusun untuk menghadapi segala bentuk provokasi dan upaya penyusupan oleh pihak-pihak yang ingin menggiring aksi ke arah yang tidak murni.

Ketua Presidium GARDA Solo Raya, Josafat Satrijawibawa, hadir dengan sikap tegas sebagai penjaga integritas pergerakan ini. Dalam pertemuan intens yang diadakan di markas GARDA, Josafat menekankan“Aksi ini adalah tentang hak, tentang kesejahteraan yang telah dirampas! Jika ada pihak yang mencoba merusak, mereka harus siap menghadapi konsekuensi hukum!”
Pernyataan Josafat menegaskan bahwa tidak ada toleransi bagi para provokator atau infiltrator yang berusaha mengaburkan tujuan perjuangan. Setiap peserta aksi diidentifikasi dan jalur pergerakan pun disusun dengan detail agar tidak ada ruang untuk kesalahan. Bagi Josafat, perlawanan ini harus murni, tanpa celah bagi agenda tersembunyi yang hanya mengedepankan kepentingan segelintir elit. Pernyataannya menyiratkan bahwa setiap pelanggaran atau upaya menyabot aksi akan mendapatkan reaksi tegas dari pihak GARDA.

“Persiapan di Solo Baru tidak hanya menyangkut aspek teknis dan logistik, tetapi juga persiapan mental. GARDA Solo Raya berusaha menyuntikkan semangat persatuan dan keberanian ke dalam setiap diri pengemudi transportasi online. Mereka diberikan pemahaman bahwa keberanian untuk melawan bukan berarti mengabaikan tanggung jawab keluarga ataupun pekerjaan, melainkan menegaskan hak untuk mendapat kehidupan yang layak.
“Solidaritas adalah senjata utama, dan setiap pengemudi, dengan atau tanpa topi kehormatan onbid, memiliki hak yang sama untuk mengutarakan keberatan terhadap sistem yang tidak berpihak,” ujar Hanafi Koordinator Lapangan gerakan dengan lugas.
Dirinya juga mengatakan “Dalam setiap sudut perencanaan aksi, tersirat keinginan untuk menjadikan perlawanan sebagai momentum pembaruan. GARDA Solo Raya ingin menunjukkan bahwa pergerakan ini adalah hasil perjuangan bersama, bukan hasil desakan kelompok tertentu. Setiap langkah penuh perhitungan, agar tidak ada ruang bagi kekacauan yang bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin mengadu domba. Gagasan inilah yang menguatkan semangat para pengemudi, yang selama ini hanya diperlakukan sebagai mesin penghasilan tanpa mendapatkan perhatian yang sepatutnya.” imbuhnya.
Malam sebelum aksi dirasakan begitu berat, tegang dan penuh refleksi. Namun dibalik semua itu, ada keyakinan bahwa perjuangan ini akan mengubah wajah sistem transportasi online di Indonesia. Kesiapan pergerakan di Solo Baru bukan hanya soal rute yang telah ditetapkan atau sekadar koordinasi dengan aparat keamanan, melainkan sebuah deklarasi: bahwa nasib para pengemudi tak akan lagi terseret arus kebijakan yang semena-mena.
Melalui persiapan ini, baik Djoko Saryanto maupun Josafat Satrijawibawa mengajak semua pihak untuk membuka mata dan hati. Mereka mengingatkan bahwa setiap detik yang berlalu adalah kesempatan untuk meraih keadilan. “Besok, suara kita akan bergema dengan kekuatan yang tidak bisa dibisukan,” tegas Djoko, sekaligus mengukuhkan bahwa perlawanan ini adalah tanggung jawab kolektif.
Malam menjelang aksi, di bawah langit penuh bintang, setiap pengemudi merasakan getaran harapan yang mendalam. Perjuangan yang dimulai di Solo Baru ini, dengan semua persiapan yang matang, adalah panggilan untuk memulihkan martabat dan hak yang telah lama diabaikan. Aksi GARDA Solo Raya bukan semata soal memprotes, tetapi tentang menuntut agar keadilan tidak lagi menjadi kata kosong, melainkan realita bagi setiap pengemudi yang berjuang hidup di tengah arus kebijakan yang timpang.
Mereka berpesan “Esok saat fajar menyingsing, diharapkan aksi ini menjadi titik tolak perubahan, yang tidak hanya mengguncang sistem yang ada, tapi juga menginspirasi semangat perlawanan di berbagai penjuru Indonesia. Persiapan akhir di Solo Baru telah menorehkan keyakinan bahwa ketika suara ribuan hati bersatu, tidak ada kekuatan yang mampu menahan gelombang perubahan. Inilah saatnya, saat bagi keberanian, saat bagi keadilan, dan saat bagi setiap pengemudi untuk berdiri tegar sebagai agen perubahan.” pungkasnya
( Pitut Saputra )













