Jawa Barat, merdekapostnews.top
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) angkat bicara terkait program pembinaan terhadap siswa bermasalah di Jawa Barat yang dikirim ke barak militer. Program tersebut menuai sorotan publik karena dianggap kontroversial, terutama terkait hak-hak anak.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak melanggar hak anak. Menurutnya, program itu bersifat edukatif dan bertujuan membentuk disiplin serta tanggung jawab siswa yang dinilai memiliki perilaku menyimpang.
“Kami menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan hukuman fisik. Itu bagian dari pembinaan karakter dan dilakukan dengan pendekatan edukatif serta atas persetujuan orang tua dan sekolah,” dalam keterangan resminya.
Ia menambahkan, TNI AD hanya berperan mendampingi dan memberikan pelatihan dasar mengenai kedisiplinan. Program ini juga bekerja sama dengan pemerintah daerah dan instansi pendidikan setempat.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedy Mulyadi menyampaikan bahwa siswa yang terlibat kenakalan seperti tawuran akan mendapatkan pembinaan khusus, salah satunya di lingkungan militer, sebagai upaya pembentukan karakter.
Program ini memicu perdebatan di tengah masyarakat. Sejumlah pihak menilai pendekatan militeristik terhadap anak-anak sekolah tidak sejalan dengan prinsip pendidikan yang ramah anak. Namun, TNI AD menegaskan bahwa semua kegiatan dilakukan dengan pengawasan ketat dan tidak ada unsur kekerasan.
“Kami pastikan seluruh kegiatan berlangsung dengan aman, tanpa kekerasan, dan justru membantu anak-anak untuk berubah ke arah yang lebih baik,” ujarnya.(RED)













