Sekadau, Merdekapostnews.top
Puluhan warga di Jalan Merdeka Timur, RT 13/RW 03, Penanjung, Dusun Mungguk, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, berdesak-desakan pada Senin (19/1) sore.
Mereka berebut gas elpiji 3 kg atau “gas melon” bersubsidi pemerintah akibat kelangkaan yang melanda wilayah tersebut.
Gas elpiji 3 kg merupakan LPG bersubsidi untuk rumah tangga miskin dan usaha mikro, dengan harga resmi yang jauh lebih murah berkat subsidi pemerintah. Sejak awal 2025, distribusinya diperketat dan hanya disalurkan melalui pangkalan resmi Pertamina dengan menggunakan sistem pendaftaran NIK/KK, guna memastikan penyaluran tepat sasaran serta mencegah penyalahgunaan.
Kelangkaan ini kerap dipicu oleh perubahan kebijakan distribusi, tingginya permintaan saat hari libur, gangguan logistik seperti cuaca dan transportasi, serta praktik ilegal berupa penimbunan dan pengoplosan. Meski stok nasional dinyatakan tercukupi, warga setempat tetap kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kg.
Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengeluhkan, “Kalau di agen, kami ambil pakai kartu keluarga (KK) harganya Rp20.000 per tabung. Namun, dari pengecer harganya bisa mahal sampai Rp45.000 di sini,” cetusnya dengan nada kesal.
Warga mendesak adanya razia ketat dan pengawasan bersama oleh pemerintah daerah (pemda), Pertamina, serta aparat keamanan terhadap praktik penimbunan dan penjualan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Mereka juga meminta langkah konkret dari pemda, Pertamina, DPRD, dan pihak terkait lainnya untuk mengatasi kelangkaan gas elpiji 3 kg, khususnya di Kabupaten Sekadau, seperti peningkatan pasokan dan pengawasan distribusi.
Tim Redaksi













