KLATEN, Merdekapostnews.top
Kabar duka menyelimuti Keluarga Besar Komunitas Ojol Delanggu ketika Triyanto (42) dari Setono, Segaran Delanggu menghembuskan napas terakhir pada pagi Senin, 5 Januari 2025, di RS PKU Muhammadiyah Delanggu. Setelah berjuang melawan sakit beberapa waktu, ia berpulang meninggalkan seorang istri dan dua anak yang kini harus menata hari-hari tanpa sosok suami dan ayah yang selama ini menjadi sandaran. Bagi rekan-rekan mitra driver Gojek Solo Raya dan anggota Komunitas Ojol Gabungan Delanggu Free Rider (DFR), kepergian Triyanto bukan sekadar berkurangnya satu nama dalam daftar mitra, ia adalah hilangnya sahabat yang selalu hadir dengan senyum, candaan, dan kebaikan yang tulus (05/01/2026).
Dalam keseharian, Triyanto dikenal sebagai pribadi sederhana namun penuh perhatian. Ia bekerja keras menjemput rezeki demi kebutuhan keluarga, namun tak pernah lupa menyisihkan waktu untuk membantu rekan yang sedang kesulitan. Di jalanan Solo Raya, ia bukan hanya mengantar penumpang dari titik A ke titik B, ia membawa ketenangan, keramahan, dan rasa aman. Penumpang yang pernah naik kendaraannya sering bercerita tentang tutur kata yang sopan, senyum yang membuat perjalanan terasa ringan, dan kesabaran yang menenangkan saat menghadapi kemacetan atau penumpang yang cemas. Bagi banyak orang, itu mungkin tampak kecil, tetapi bagi mereka yang sering berinteraksi dengannya, itu adalah bukti karakter yang hangat dan manusiawi.
Marjoko, salah seorang sahabat dekatnya, mengenang Triyanto dengan kata-kata sederhana namun sarat makna baik, ramah, dan lucu. Tawa kecilnya mampu mencairkan suasana lelah setelah shift panjang, candaan-candaan ringan membuat pertemuan di warung kopi komunitas menjadi momen yang ditunggu. Ada cerita-cerita kecil yang selalu diulang, tentang bagaimana ia rela menunggu penumpang yang terlambat, tentang saat ia membagi makanan ketika ada rekan yang kelaparan, tentang bantuan spontan ketika motor rekannya mogok di pinggir jalan. Kisah-kisah itu bukan sekadar anekdot, mereka adalah potret kebaikan yang menempel kuat di ingatan banyak orang dan menjadi warisan tak kasat mata namun sangat berharga.

Duka yang dirasakan oleh komunitas meluas jauh melampaui keluarga inti. Di grup chat WA dan pertemuan-pertemuan kecil, namanya disebut dengan suara yang berat dan mata yang berkaca-kaca. Kehilangan ini mengingatkan semua orang pada kerapuhan hidup dan pada betapa pentingnya menghargai setiap momen bersama. Banyak rekan yang menyesal karena belum sempat mengucapkan terima kasih terakhir atau membalas kebaikan-kebaikan kecil yang selama ini dianggap biasa. Penyesalan itu menyisakan ruang hening yang dalam, namun juga memicu tekad untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai yang pernah ditunjukkan oleh Triyanto saling membantu, bersikap rendah hati, dan menjaga kebersamaan.
Komunitas tidak tinggal diam. Solidaritas muncul secara nyata, rekan-rekan menggalang dukungan moral dan materiil untuk istri dan kedua anaknya. Bantuan datang dalam berbagai bentuk, dari urusan administrasi yang dipermudah, hingga sumbangan untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya pemakaman. Lebih dari sekadar bantuan finansial, kehadiran komunitas adalah penghiburan yang tak ternilai bagi keluarga yang ditinggalkan. Mereka merasakan bahwa mereka tidak sendirian, ada tangan-tangan yang siap menopang, ada bahu-bahu yang siap menjadi sandaran ketika dunia terasa runtuh. Dalam momen-momen seperti ini, kebersamaan menjadi obat yang paling ampuh, mengubah kesedihan menjadi kekuatan untuk melangkah.
Kepergian Triyanto juga menjadi pengingat bagi banyak orang tentang arti sebuah profesi yang sering dipandang remeh. Menjadi pengemudi ojek online bukan sekadar pekerjaan, bagi banyak keluarga, itu adalah sumber penghidupan, harapan, dan tanggung jawab. Di balik seragam dan kendaraan, ada cerita-cerita kehidupan yang penuh perjuangan, ada tawa dan air mata yang jarang terlihat oleh orang luar. Triyanto adalah representasi dari jutaan pekerja gig economy yang setiap hari berjuang demi keluarga mereka, sambil tetap menjaga martabat dan kebaikan hati. Kehadirannya di jalanan bukan hanya soal mengantar orang, tetapi juga soal mengaitkan kehidupan, membawa rezeki, mengikat persahabatan, dan menabur kebaikan kecil yang berbuah besar di hati orang lain.
Di tengah duka, muncul pula rasa syukur karena pernah mengenal sosok seperti Triyanto. Kenangan-kenangan kecil, sebuah senyum, sebuah nasihat, sebuah bantuan tanpa pamrih, menjadi harta yang tak ternilai. Rekan-rekan komunitas berjanji untuk menjaga memori itu hidup, bukan hanya dengan mengingat, tetapi dengan menerapkan nilai-nilai yang pernah ia tunjukkan. Mereka ingin memastikan bahwa kebaikan yang ditabur tidak hilang begitu saja, melainkan menjadi inspirasi untuk tindakan nyata, lebih peduli, lebih sabar, dan lebih siap membantu sesama.
Di penghujung kata-kata ini kami semua memanjatkan doa tulus semoga almarhum Triyanto diterima di sisi-Nya, ditempatkan di tempat terbaik di antara orang-orang yang beriman, dan segala amal baiknya menjadi penerang di perjalanan selanjutnya. Kami juga memohon agar Allah memberi ketabahan, kekuatan, dan penghiburan kepada istri serta kedua anaknya, semoga mereka diberi ketegaran menata hari-hari yang kini terasa berat dan selalu merasakan kehadiran kasih dari sahabat-sahabat yang tak pernah lelah mendampingi. Dari kami, rekan-rekan Ojol Delanggu, teriring doa dan harapan agar kenangan kebaikan dan tawa Triyanto terus hidup dalam setiap langkah, menjadi inspirasi untuk saling menjaga dan berbagi, hingga suatu saat kita dipertemukan kembali dalam rahmat-Nya. Amin.
(Pitut Saputra)













