KLATEN, Merdekapostnews.top
Beberapa hari terakhir, sepanjang Jalan Solo–Jogja kerap menjadi saksi, aksi solidaritas untuk korban bencana di Aceh dan sekitarnya. Aksi yang digelar oleh berbagai organisasi masyarakat dan perguruan pencak silat ini menampilkan kepedulian nyata, dimana mereka turun ke jalan, berdiri di bawah rintik hujan atau terik matahari, serta mengajak para pengendara menyisihkan sebagian rezeki. beberapa hari belakangan terlihat perguruan silat yang juga ikut turun ke jalan secara terpisah, yakni Perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Ranting Ceper bertugas di lampu merah Penggung dan lampu merah Kepoh, sementara Perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) Ranting Delanggu fokus di perempatan Pasar Delanggu (25/12/2025).
Aksi penggalangan dana yang berlangsung selama masa liburan Natal dan Tahun Baru tersebut, memanfaatkan tingginya intensitas kendaraan untuk menjangkau lebih banyak donatur. Di setiap titik, relawan mengenakan atribut resmi, memutar kardus sumbangan, dan bergantian mengatur posisi agar kegiatan berjalan aman dan tidak mengganggu arus lalu lintas. Meski tantangan cuaca dan risiko keselamatan selalu mengintai, semangat relawan tetap terlihat kuat.
Tri Prasongko Putro, perwakilan PSHT Rayon Gabahan Ranting Delanggu Cabang Klaten Pusat Madiun, menegaskan makna di balik aksi ini. Menurut Tri, “Aksi penggalangan dana bukan sekadar kegiatan pengumpulan uang, melainkan manifestasi nilai-nilai yang hidup dalam tubuh perguruan silat, empati, tanggung jawab sosial, dan rasa persaudaraan. Ia menekankan bahwa inisiatif ini bermula dari tingkat rayon dan ranting, lalu meluas hingga cabang dan pusat, menunjukkan bahwa solidaritas tumbuh dari akar komunitas.” tegasnya.
Tri juga menyoroti kapasitas jaringan organisasi dalam merespons krisis. Ia menyebutkan bahwa “PSHT Pusat Madiun telah menyalurkan bantuan dalam jumlah besar untuk korban di Aceh, sebuah bukti bahwa organisasi terstruktur mampu mengumpulkan dan menyalurkan bantuan dalam skala signifikan.” ujarnya. Bagi Tri, hal ini memperlihatkan dua hal sekaligus, kemampuan logistik organisasi dan kedalaman komitmen moral anggotanya. Ia menegaskan pentingnya koordinasi lintas tingkatan agar aksi tidak hanya efektif di jalan, tetapi juga berdampak nyata di lokasi bencana.
Lebih jauh, Tri mengingatkan bahwa aksi di jalan raya memiliki fungsi simbolis. Ketika masyarakat melihat kelompok terorganisir turun tangan, itu menjadi pengingat bahwa peran warga sipil sangat krusial dalam fase tanggap darurat dan pemulihan. Tri menekankan perlunya transparansi dalam pencatatan dan penyaluran dana agar kepercayaan publik tetap terjaga. Bagi Tri, akuntabilitas bukan sekadar formalitas, ia adalah jaminan bahwa niat baik benar-benar berubah menjadi sebuah bantuan yang sampai kepada yang membutuhkan.

Di sisi lain, Jordan, salah seorang warga PSHW Ranting Delanggu, memberi penekanan pada dimensi kemanusiaan yang lebih personal. Jordan melihat aksi berdiri di lampu merah sebagai bentuk kepedulian sederhana namun konsisten yang lahir dari kesadaran kolektif. Menurutnya, “Menjadi kuat secara fisik, sebagai pesilat, harus diimbangi dengan kekuatan hati.” paparnya. Jordan menilai bahwa latihan bela diri yang mengajarkan disiplin dan keberanian seharusnya juga menumbuhkan empati dan tanggung jawab sosial.
Jordan juga berbicara tentang dampak psikologis dari aksi tersebut, bukan hanya meringankan beban materi korban, tetapi juga menguatkan rasa kebersamaan di antara relawan dan masyarakat. Ia berharap aksi-aksi kecil seperti ini dapat memantik inisiatif serupa dari komunitas lain, sehingga respons kemanusiaan menjadi lebih luas dan berkelanjutan. Jordan juga menekankan pentingnya menjaga citra positif organisasi melalui tindakan yang transparan dan terkoordinasi, agar publik percaya bahwa sumbangan yang diberikan benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan korban.
Kedua tokoh pesilat tersebut sepakat bahwa tantangan yang dihadapi relawan tidak ringan, cuaca buruk, keselamatan di tengah arus lalu lintas, serta kebutuhan akan mekanisme penyaluran yang jelas. Tri menekankan perlunya sistem pencatatan yang rapi dan pelaporan berkala, sementara Jordan mengingatkan agar relawan diberi perlindungan dan pembagian tugas yang baik agar tidak kelelahan. Keduanya menyarankan kolaborasi dengan lembaga kemanusiaan profesional dan aparat setempat untuk mempercepat distribusi bantuan dan memastikan prioritas kebutuhan korban terpenuhi.
Praktek sederhana yang disarankan meliputi penggunaan atribut reflektif saat malam hari, komunikasi langsung dengan petugas lalu lintas, serta dokumentasi yang dapat diaudit. Langkah-langkah ini, menurut Tri dan Jordan, bukan hanya soal prosedur, tetapi juga bagian dari upaya mempertahankan kepercayaan publik.
Aksi PSHT Ranting Ceper di lampu merah Penggung dan Kepoh serta PSHW Ranting Delanggu di perempatan Pasar Delanggu menegaskan bahwa solidaritas dapat berjalan terorganisir dan terfokus. Opini Tri Prasongko Putro dan Jordan telah memperkaya narasi aksi ini, Tri menyoroti kapasitas organisasi dan pentingnya akuntabilitas, sedangkan Jordan menegaskan nilai kemanusiaan dan konsistensi tindakan. Semoga langkah sederhana ini tidak hanya meringankan beban korban bencana di Aceh, tetapi juga menginspirasi komunitas lain untuk bergerak bersama. Dengan ketulusan, koordinasi, dan transparansi, setiap kontribusi, sekecil apa pun, menjadi penawar duka dan pengikat persaudaraan.
( Pitut Saputra )













