Sumatera, Merdekapostnews.top
Banjir Besar Melumpuhkan Sejumlah Wilayah di Sumatera, Ratusan Korban dan Ribuan Warga Mengungsi.
Pulau Sumatera kembali diterpa bencana besar. Hujan dengan intensitas tinggi yang turun tanpa henti sejak pertengahan November membuat sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terendam banjir besar dan longsor. Air sungai meluap, akses jalan terputus, dan ribuan rumah tenggelam oleh genangan air yang dalam beberapa titik mencapai dada orang dewasa.
Laporan dari berbagai lembaga resmi menunjukkan bahwa bencana kali ini menjadi salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Hingga akhir November, total korban tewas telah mencapai lebih dari 170 orang. Puluhan lainnya masih dinyatakan hilang, sementara tim SAR terus melakukan pencarian di area yang sulit dijangkau akibat tertutup material longsor.
Di Sumatera Utara, kondisi paling parah terjadi di kawasan Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Hujan deras membuat tanah yang gembur langsung ambrol, menyeret rumah dan pepohonan ke pemukiman warga. Banyak desa terisolasi karena jembatan penghubung tersapu banjir dan jalan ambruk diterjang aliran air.
Sementara itu di Aceh, puluhan ribu warga terdampak banjir yang merendam pemukiman sejak dini hari. Banyak keluarga tidak sempat menyelamatkan barang berharga karena air datang tiba-tiba. Di beberapa titik, warga terpaksa mengungsi dengan perahu karet karena arus yang dinilai terlalu deras untuk dilintasi.
Di Sumatera Barat, pemerintah daerah telah menetapkan status darurat bencana. Beberapa wilayah pegunungan mengalami longsor beruntun, membuat tim penyelamat harus bekerja ekstra hati-hati karena kondisi tanah masih labil.
Upaya pencarian dan penyelamatan dilakukan siang dan malam. Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan relawan gabungan dikerahkan dalam jumlah besar. Pesawat dan helikopter bantuan pemerintah pusat diturunkan karena banyak akses darat terputus total.
Namun kondisi cuaca yang belum stabil, ditambah padamnya listrik dan jaringan telekomunikasi, membuat operasi penyelamatan berlangsung lambat. Beberapa lokasi hanya bisa ditembus lewat jalur laut atau udara.
“Jalannya seluruhnya tertutup lumpur. Kami harus berjalan kaki berjam-jam sambil membawa perlengkapan,” ujar salah satu petugas penyelamat di Tapanuli.
Lebih dari 12 ribu keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke tenda darurat. Di beberapa posko, para pengungsi mengaku kekurangan selimut, makanan siap saji, dan air bersih. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan karena suhu dingin di malam hari serta minimnya fasilitas kesehatan.
“Kami hanya membawa pakaian di badan. Semoga bantuan cepat datang,” kata seorang ibu pengungsi sambil menggendong anaknya yang masih kecil.
Pemerintah pusat telah mengirimkan bantuan logistik, tim medis, dan membuka dapur umum di sejumlah titik. Namun distribusi masih terkendala cuaca dan akses yang rusak.

Sejumlah ahli menilai bahwa bencana kali ini bukan semata akibat cuaca ekstrem. Kerusakan lingkungan, penebangan hutan, dan tata ruang yang buruk disebut memperparah dampak banjir dan longsor. Banyak daerah yang dulunya hutan kini berubah menjadi permukiman dan lahan terbuka, membuat air tidak lagi terserap secara optimal.
Selain itu, fenomena cuaca global seperti siklon yang melintas dekat Sumatra turut memicu curah hujan yang tidak biasa.
Bencana besar ini menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di wilayah rawan bencana hidrometeorologi. Penguatan mitigasi jangka panjang, restorasi lingkungan, dan edukasi kebencanaan menjadi hal yang sangat penting dilakukan.
Untuk saat ini, yang paling dibutuhkan adalah perhatian dan solidaritas. Bantuan dari masyarakat, lembaga kemanusiaan, dan pemerintah sangat berarti bagi ribuan warga yang kehilangan rumah dan anggota keluarga.
Doa terbaik tertuju untuk saudara-saudara kita di Sumatra. Semoga proses evakuasi berjalan lancar, korban yang hilang segera ditemukan, dan para pengungsi mendapatkan kekuatan serta perlindungan.(Nanda)













