YOGYAKARTA, Merdekapostnews.top
Siang ini Yogyakarta kembali menjadi saksi suara-suara yang tak ingin tenggelam dalam sunyi. Kamis, 16 Oktober 2025, Forum Ojol Yogyakarta Bergerak (FOYB) menggelar aksi damai yang menyasar langsung ke jantung persoalan, kantor-kantor aplikator transportasi daring dan gedung DPRD DIY. Di tengah terik dan lalu lintas yang padat, para pengemudi ojek online berkumpul, bukan sekadar untuk menyampaikan keluhan, tetapi untuk menegaskan bahwa perjuangan mereka belum selesai (16/10/2025).
Dipimpin langsung oleh Wuri Rahmawati, Ketua Umum FOYB, aksi ini menjadi lanjutan dari berbagai upaya sebelumnya yang telah dilakukan baik di tingkat lokal maupun nasional. “Hari ini kami datang ke tiap-tiap aplikator untuk menyampaikan beberapa masalah yang sudah kami sampaikan sebelumnya,” ujar Wuri saat di konfirmasi di sela-sela aksi. Ia menyebutkan bahwa pihaknya telah mendatangi kantor operasional Maxim, Gojek, Grab, dan Shopee Food Yogyakarta untuk menyerahkan dokumen berisi tuntutan dan keluhan para pengemudi.
Menurut Wuri, dokumen tersebut diterima langsung oleh manajemen masing-masing aplikator. “Mereka berjanji akan menindaklanjuti,” tambahnya, meski nada suaranya menyiratkan kehati-hatian. Janji-janji seperti ini bukan hal baru bagi FOYB. Sudah berkali-kali mereka menyampaikan aspirasi, namun tindak lanjut yang konkret masih menjadi harapan yang menggantung.
Setelah menyambangi kantor aplikator, rombongan FOYB melanjutkan langkah mereka ke Gedung DPRD DIY. Di sana, mereka kembali menyuarakan aspirasi yang sebelumnya telah disampaikan di Jakarta namun belum menunjukkan progres yang berarti. “Kami datang ke DPRD Provinsi untuk menyampaikan aspirasi kami yang sebelumnya belum juga ada progres yang pasti di Jakarta,” jelas Wuri.

Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan bagian dari strategi menuju aksi nasional yang akan digelar serentak pada 20 November mendatang di Jakarta bersama 13 daerah lainnya. FOYB juga meminta dukungan teknis dari DPRD DIY terkait keberangkatan para pengemudi dari Yogyakarta ke ibu kota. Dukungan ini mencakup logistik, koordinasi, dan jaminan keamanan agar suara para pengemudi dari daerah tidak terpinggirkan dalam skala nasional.
Dalam audiensi dengan anggota DPRD DIY, FOYB kembali menegaskan empat poin tuntutan yang telah mereka sampaikan melalui Forum Diskusi Transportasi Online Indonesia (FDTOI). Keempat poin tersebut hingga kini belum mendapatkan tindak lanjut yang jelas, meski telah berkali-kali diajukan. “Tuntutan tetap sama. Kami mempertanyakan kembali empat poin yang telah kami sampaikan melalui FDTOI sebelumnya, yang hingga kini belum ada titik jelas follow-up-nya,” tegas Wuri.
terkait dengan isi tuntutan FOYB menuntut evaluasi menyeluruh terhadap tarif penumpang roda dua untuk memastikan harga adil bagi pengemudi dan perlindungan konsumen, regulasi tegas atas tarif layanan pengantaran makanan dan barang agar tidak terjadi eksploitasi dan persaingan tidak sehat, ketentuan tarif bersih untuk roda empat yang menjamin transparansi pendapatan pengemudi tanpa potongan tersembunyi, serta dorongan kuat untuk segera merumuskan undang-undang yang mengatur transportasi online demi kepastian hukum, keselamatan publik, dan kesejahteraan pekerja platform.
Empat poin ini mencerminkan keresahan mendalam yang dirasakan oleh ribuan pengemudi ojek online di Yogyakarta dan daerah lain. Mereka bukan hanya berjuang untuk pendapatan yang layak, tetapi juga untuk pengakuan atas martabat dan hak sebagai pekerja yang menopang mobilitas masyarakat setiap hari.
Aksi FOYB hari itu berlangsung tertib dan damai. Para pengemudi membawa spanduk, mengenakan atribut komunitas, dan menyampaikan orasi dengan semangat solidaritas. Beberapa pengemudi bahkan membawa anak-anak mereka, menjadikan aksi ini sebagai ruang edukasi tentang pentingnya menyuarakan keadilan.
Di sisi lain, DPRD DIY menyambut audiensi dengan sikap terbuka. Beberapa anggota dewan menyatakan akan menindaklanjuti aspirasi FOYB dan menjembatani komunikasi dengan pihak aplikator serta pemerintah pusat. Namun, FOYB tetap menekankan pentingnya komitmen nyata, bukan sekadar janji politik.
Aksi ini juga menjadi pengingat bahwa perjuangan pengemudi ojek online bukanlah perjuangan yang terpisah dari masyarakat luas. Mereka adalah bagian dari denyut kehidupan kota, dari pagi yang sibuk hingga malam yang lengang. Ketika mereka bersuara, itu bukan hanya tentang tarif atau insentif, tetapi tentang keadilan sosial dan keberlanjutan ekonomi rakyat kecil.
FOYB sendiri telah berkembang menjadi wadah solidaritas yang kuat di Yogyakarta. Mereka tidak hanya mengorganisir aksi, tetapi juga menyediakan ruang diskusi, bantuan hukum, dan dukungan psikologis bagi anggotanya. Dalam beberapa tahun terakhir, FOYB juga aktif dalam advokasi kebijakan transportasi daring yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Menjelang aksi nasional 20 November, FOYB terus memperkuat koordinasi dengan komunitas pengemudi di berbagai daerah. Mereka berharap suara dari Yogyakarta bisa menjadi katalis perubahan yang lebih besar di tingkat nasional. “Kami tidak ingin hanya didengar, kami ingin perubahan nyata,” tutup Yosanto.
Aksi FOYB hari itu bukan akhir, melainkan awal dari babak baru perjuangan. Di tengah tantangan digitalisasi dan ketimpangan ekonomi, suara para pengemudi ojek online menjadi nyala kecil yang terus menyala, menuntut keadilan di jalanan yang mereka lewati setiap hari.
(Pitut Saputra)













