KLATEN, Medekapostnews.top
Minggu siang yang cerah di tepi sungai kecil selatan Desa Kuncen, relawan bersih sungai dan warga dari berbagai usia berkumpul menyemarakkan HUT ke-80 Dirgahayu. Lomba mancing hore menjadi ajang lepas rindu sekaligus kampanye kepedulian lingkungan. Saat joran terentang, suara tawa dan sorakan menggema, menciptakan irama kebersamaan yang melampaui sekadar olahraga memancing. Setiap tarikan ikan menjadi simbol usaha kolektif yang meneguhkan nilai pantang menyerah (24/08/2025).
Begitu lomba usai, aroma rempah mulai menari di udara. Ikan hasil pancingan dikumpulkan dalam bakul bambu, lalu dibersihkan bersama di bawah rindang pohon pisang. Daun pisang dipilih sebagai alas sekaligus “piring” alamiah, menyiratkan pesan hidup sederhana namun berdaya guna tinggi. Proses memasak berlangsung di atas tungku bambu, dengan api kayu bakar yang memercik kehangatan. Di sinilah kembul bujana bermula, momen inti untuk merayakan hasil jerih payah sembari meneguhkan ikatan relawan.
Marjoko, inisiator kegiatan kembul bujana dan anggota tim bersih sungai, menjelaskan bahwa kembul bujana lebih dari sekadar makan bersama. “Tadi hasil pancingan beberapa teman kita jadikan satu, terus diolah bareng dan kita makan bersama. Ya beginilah esensi sebenarnya dari perayaan kemerdekaan, yakni tentang perjuangan bersama, gotong royong, toleransi, dan persatuan. Kesemuanya lengkap tersaji dalam paket mancing hore ini, dari aktivitas awal memancing bersama berjuang demi mendapat hasil hingga kemudian mengolah ikan dan kita nikmati bersama hasil jerih payah bersama ini.” terangnya.
Lebih lanjut Marjoko mengatakan “Tradisi kembul bujana berakar dari semangat gotong royong relawan yang biasanya rutin membersihkan sampah plastik, ranting, dan tumbuhan liar di sepanjang aliran sungai. Kegiatan bersih sungai itu menguatkan solidaritas, sekaligus menumbuhkan perhatian mendalam terhadap kelestarian air. Setelah kerja keras di siang hari, biasanya tiba saatnya merayakan pencapaian dengan makan bersama. Itulah kembul bujana, Tak ada sekat antara pemula dan ahli, antara anak muda dan orang tua, semua duduk sejajar di tikar bambu, merasakan kehangatan yang sama.” jelasnya.
Daun pisang bukan sekadar alas makan praktis. Dalam budaya desa, daun ini melambangkan keterikatan manusia pada alam. Setiap helai menegaskan nilai keberlanjutan dan kesederhanaan. Setelah santap usai, daun-daun dikeruk, terurai, dan kembali bersatu dengan tanah. Seperti itulah juga harapan relawan, menatap hasil usaha kolektif, kemudian menyerahkannya kembali kepada alam tanpa meninggalkan jejak perusakan.
Suasana kembul bujana selalu diwarnai cerita dan canda. Anak-anak berlarian sambil menggulung tikar, mencoba memancing di kolam kecil buatan, sedangkan remaja saling berbagi tips umpan. Orang tua menyalurkan pengalaman memancing turun-temurun, mengajarkan teknik memancing ramah lingkungan. Percakapan ringan itu menumbuhkan antusiasme generasi muda untuk terlibat aktif dalam pelestarian sungai.

Marjoko berharap agenda mancing hore tersebut bisa diadakan rutin minimal tiga bulan sekali, menyelaraskan dengan jadwal gotong royong bersih sungai. Menurutnya, nilai kesabaran saat menunggu tarikan ikan, kerja sama dalam memasak, hingga menikmati santap bersama mengasah karakter dan mentalitas generasi muda. “Anak-anak belajar pantang menyerah mengejar cita-cita, sambil tetap bergandeng tangan dalam kebersamaan,” ujarnya.
Hidup sederhana di desa ternyata tidak mengurangi semangat bersaing positif. Rempah lokal seperti serai, daun jeruk purut, dan kemangi dipetik segar di pekarangan rumah. Semua bumbu itu meresap di ikan lele goreng yang disajikan di atas daun pisang. Cita rasa alami dan sederhana ini menjadi kebanggaan tersendiri, mengingatkan kita bahwa kearifan lokal dapat menciptakan harmoni rasa dan nilai budaya.
Dengan kembul bujana, meski hanya sederhana warga desa menampilkan potret kehidupan yang penuh toleransi. Saat menata piring daun pisang, setiap relawan belajar menghargai ruang dan porsi. Saat menunggu ikan naik ke permukaan, mereka berlatih sabar. Saat memasak bersama, mereka meneguhkan solidaritas. Semua proses ini berjalan tanpa ego, hanya diiringi gemericik air dan desir angin.
Sederhana tapi bermakna, kembul bujana mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya soal upacara atau pidato, melainkan perjuangan kolaboratif setiap hari. Memancing bersama menjadi metafora usaha bersama membebaskan diri dari pola konsumsi yang merusak. Mengolah ikan dan makan bersama menjadi simbol bahwa hasil perjuangan bersama lebih nikmat ketika dinikmati kolektif.
Tradisi ini juga memberi ruang bagi pengembangan UMKM lokal. Beberapa relawan bisa membuka warung sederhana menjual aneka sambal dan keripik pisang, memperkuat roda ekonomi desa. Inisiatif tersebut menumbuhkan kesadaran akan nilai produk lokal, sekaligus mendukung keberlanjutan ekonomi komunitas.
Kembul bujana beralas daun pisang telah melampaui makna ritual sesaat. Ia menjadi wahana pendidikan karakter, wahana advokasi lingkungan, dan wahana pemberdayaan ekonomi. Dari tepi Sungai Pleret, tradisi sederhana ini menyebar inspirasi tentang bagaimana desa dapat tampil harmonis, inklusif, dan berpijak pada kearifan lokal.
Saat senja mulai menggelayut, matahari malu malu ingin kembali ke peraduan bumi, ikan lele goreng pun menyisakan aroma hangat, dan cerita-cerita tentang kebersamaan terukir di tiap senyum. Kembul bujana bukan sekadar tradisi, ia cermin jiwa desa yang merdeka, gotong royong, dan cinta lingkungan. Keberlanjutan tradisi ini bergantung pada kesiapan generasi muda mengambil tongkat estafet, menjaga sungai, dan terus merayakan kebersamaan di atas alas daun pisang.
(Pitut Saputra)













