KLATEN, Merdekapostnews.top
Cuaca cerah di bawah langit malam yang bercahaya rembulan daerah Ngadisari Mrisen, berubah riuh rendah dengan tawa dan sorak sorai yang mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80 di Desa Ngadisari, Mrisen Juwiring, Klaten (15/08/2025).
Warga tua dan muda berkumpul di tepi sungai yang membelah hamparan sawah selatan desa untuk mengikuti lomba mancing malam bersama, sebuah tradisi sederhana tahunan namun sarat makna yang digelar oleh panitia Agustusan setempat. Semangat kemerdekaan terpancar tidak hanya dari umbul-umbul merah putih yang berkibar, melainkan juga dari hangatnya kebersamaan antar generasi yang meneguhkan nilai persatuan.
Suasana mulai menggeliat ketika petugas panitia membuka lomba tepat pukul delapan malam. Ratusan lampu kecil bergantian menyala di sepanjang bibir sungai, menciptakan siluet yang tenang sekaligus dramatis. Anak-anak remaja dengan antusias menyiapkan joran, umpan, sarung tangan, dan ember plastik, sementara para orang tua duduk bersila di atas tikar sambil mengobrol ringan. Suara gemerisik rumput padi dan gemercik aliran air sungai menambah kesejukan di tengah udara malam, menjadikan momen ini sebagai pelipur lara sekaligus ajang silaturahmi di antara warga di sela gejolak kehidupan sehari-hari.
Tak kurang dari 50 kilogram hingga satu kwintal ikan lele ditebar di aliran sungai untuk diperebutkan. Ukuran ikan bervariasi, mulai dari yang berukuran sedang hingga jumbo, memberikan tantangan tambahan bagi para peserta. Setiap tangkapan dianggap sebagai sebuah keberhasilan yang membanggakan, panitia memberikan doorprize pancingan kepada para pemenang kategori terbanyak dan terberat. Di pertengahan lomba, gelas-gelas plastik berisi teh hangat dan kopi tubruk bergantian menghangatkan badan, sambil warga saling bertukar cerita tentang “rebutan” lele malam itu.
Hikmat kebersamaan kian terasa ketika irama lagu ceria diputar sepanjang malam. Lagu-lagu perjuangan dan nostalgia kemerdekaan berpadu dengan lagu dangdut koplo dan campursari, menciptakan suasana meriah tanpa sekat usia. Riuh tepuk tangan dan teriakan “hoki” terdengar tiap kali kail bergetar, sementara anak kecil bersorak melihat keluarganya berhasil menarik ikan lele berukuran besar. Sungguh sederhana, tapi keakraban khas desa seperti inilah yang mencairkan segala keraguan dan kelelahan, mengingatkan bahwa kebersamaan sering kali tumbuh dari kerangka kesederhanaan.
Tak ketinggalan, UMKM lokal turut memeriahkan acara. Di seberang venue lomba, deretan pedagang kecil warna-warni menjajakan aneka jajanan tradisional dan camilan kekinian, bakso bakar, tahu bulat, hingga keripik singkong pedas. Pengunjung dan peserta lomba dapat membeli langsung ke umkm sambil menikmati lomba mancing ikan lele yang digelar, sehingga nilai ekonomi acara ini pun menggeliat dengan sendirinya.
Ipunk, seorang pemandu dari Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community yang dulu lahir dan besar di Ngadisari Mrisen ini, sengaja mengundang awak media untuk menyaksikan keseruan lomba di kampung halamannya. Di sela-sela kegiatan lomba, Ipunk memaparkan filosofi acara ini, “Kesederhanaan seperti ini khas masyarakat desa dan sarat dengan nilai gotong royong serta toleransi.
Lomba berjalan cair dan tidak terlalu kaku karena sifatnya hanya fun fishing dan bersenang-senang melepas penat sekaligus merayakan kemerdekaan RI. Namun begitu, justru dari kesederhanaan inilah yang membuat kebersamaan di desa jadi kayaknya seperti keluarga semua.” Kata-kata itu mengalir lugas, menegaskan bahwa hakikat perayaan tak selalu soal gemerlap, melainkan tentang bagaimana kebersamaan menyejukkan hati.
Di balik riuh lomba, panitia Agustusan terlihat sigap menjaga jalannya kegiatan agar tidak krodit. Meski terlihat santai, kesadaran untuk menjaga kondusifitas tetap diutamakan, membuktikan bahwa tradisi pedesaan bisa berjalan beriringan dengan tantangan zaman modern. Kewaspadaan ini semakin menambah rasa bangga warga, karena sekaligus menunjukkan kedewasaan masyarakat Ngadisari Mrisen dalam penyelenggaraan lomba memeriahkan dirgahayu kemerdekaan RI.

Malam semakin larut, lomba mancing pun mencapai klimaks ketika pemenang utama berhasil menarik lele seberat hampir satu kilogram. Tepuk tangan menggema, diikuti sorak warga yang tampak sumringah. Pemenang menerima doorprize, sementara itu, para peserta lain pulang dengan membawa ikan tangkapan masing-masing, puas atas hiburan murah meriah dan kehangatan persaudaraan yang tercipta.
Kegiatan ini meneguhkan bahwa semangat kemerdekaan dapat dirayakan lewat segala cara, tanpa harus mewah. Dari lomba mancing malam di sungai yang sederhana, dengan puluhan kilogram lele, hingga kehadiran UMKM lokal, tercipta mozaik kebersamaan yang memperkaya narasi peringatan Ke-80 RI. Desa Ngadisari Mrisen Juwiring membuktikan bahwa nilai gotong royong, toleransi, dan solidaritas sesungguhnya tetap hidup dari desa terpencil. Bisa jadi, tahun depan ide-ide baru akan lahir dari kesederhanaan malam ini, mungkin lomba mancing yang lebih seru, lomba macapat, festival lampion, atau pertunjukan wayang keliling, yang pasti, tradisi merayakan kemerdekaan dengan sentuhan lokal akan terus mengikat kita sebagai satu keluarga besar bangsa.
(Pitut Saputra)













