KLATEN, Merdekapostnews.top
Sore ini penuh kehangatan, di tengah Desa Kuncen Sidodadi, Delanggu, Klaten, yang mendadak berubah menjadi panggung kegembiraan tak terduga. Udara desa yang biasanya tenang kini diselimuti tawa dan sorak sorai ketika para emak-emak dari berbagai RT berkumpul untuk mengikuti perlombaan menarik dalam rangka menyemarakkan Dirgahayu HUT RI ke-80 tahun (09/08/2025).
Dalam lomba tersebut, para emak-emak dibagi dalam tim-tim kecil dengan tugas memindahkan tepung dari satu wadah ke wadah lain menggunakan sendok. Tantangannya sederhana, namun seru, menjaga keseimbangan sendok sambil berlari kecil menuju garis finish. Derai tepung yang berterbangan di antara canda tawa menambah keceriaan, sementara sorak anak-anak dan remaja menggema, menambah semangat setiap kali satu tim berhasil menyelesaikan misi dengan sukses.
Sesaat lomba berhenti ketika tepung tumpah hingga menyelimuti tanah, atau justru mengenai muka peserta, memancing gelak tawa dan tepuk tangan meriah. Para emak saling menepuk punggung sambil tersenyum lebar, membiarkan rasa malu sirna dan kebanggaan muncul. Kekompakan tim teruji bukan hanya dalam kecepatan, tetapi juga dalam koordinasi dan kepercayaan antar peserta.
Lebih dari sekadar permainan, perlombaan ini menjadi cermin kecil bagaimana kerja sama dan semangat gotong royong mendarah daging dalam budaya desa. Momen itu menghadirkan kembali memori perjuangan para pahlawan kemerdekaan yang telah berkorban jiwa dan raga demi satu kata, merdeka. Meski berlangsung singkat, rasa syukur dan kebahagiaan terpancar di wajah setiap orang, seolah mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan buah kerja keras bersama.
Anak-anak yang biasanya riang bermain layang-layang kini antusias menyaksikan emaknya berlaga, belajar bahwa partisipasi sosial dan cinta tanah air dimulai dari hal sederhana. Para remaja pun tampak bersemangat, sesekali mengacungkan jempol sambil meneriakkan, “Semangat, Mak!” Saat itulah terasa jelas, lomba tradisional bisa menjadi guru berharga, menanamkan nilai kebersamaan, kompetisi sehat, dan kecintaan terhadap negara.
Memetik semangat emak-emak, sudah semestinya pemuda desa terinspirasi untuk lebih proaktif dalam merayakan kemerdekaan. Jika emak-emak saja berani menanggalkan rasa malu demi memupuk solidaritas, dan tampil berkontribusi menyemarakkan Dirgahayu RI, apalagi generasi muda yang kelak memikul tanggung jawab membangun negeri. HUT RI ke-80 jadi panggilan agar mereka menempatkan kepentingan bangsa diatas ego pribadi, dengan wawasan Pancasila kokoh dan semangat patriotik yang membara.
Ipunk, salah seorang tour guide lokal yang ikut menyaksikan perlombaan, memberikan perspektif baru tentang nilai pariwisata dalam acara ini. Baginya, kekhasan kearifan lokal desa seperti lomba tepung memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang haus pengalaman dan kearifan lokal. “Kita jarang menemukan atraksi seperti ini di kota besar yang cenderung individualis. Desa Kuncen justru menyajikan tawa, kebersamaan, dan nilai gotong royong,” ujarnya.
Menurut Ipunk, agenda kegiatan kampung yang dikemas kreatif seperti ini bisa menjadi konten promosi wisata berkelanjutan. “Para pemuda dapat merekam momen lucu hingga penuh semangat, lalu menyajikannya dalam video pendek atau blog perjalanan menarik. Dengan begitu, wisatawan domestik dan mancanegara akan tergerak datang, menyaksikan langsung kearifan lokal yang menjadi ciri khas suatu desa.” paparnya.
Lebih lanjut Ipunk menyatakan “Kehadiran wisatawan dan pengunjung juga tidak hanya menambah keceriaan, tetapi ikut serta membuka peluang menggerakkan ekonomi lokal. UMKM di sekitar arena lomba yang spontan menyediakan jajanan tradisional dan kuliner lokal serta produk desa, mulai wedang jahe, kopi hingga pecel kangkung, atau grontol jagung, menjadi favorit tersendiri para wisatawan lokal. Lonjakan pengunjung membuat pendapatan penjual meningkat, sekaligus memperkenalkan produk khas Desa Kuncen ke pasar lebih luas.” terangnya.
Ipunk juga berharap “Berkaca pada suksesnya acara ini, Karang Taruna Desa, PKK, dan kelompok sadar wisata setempat semestinya bisa berkolaborasi merancang kalender kegiatan tahunan. Festival panen padi, lomba permainan tradisional, hingga pementasan kesenian lokal pastinya akan menciptakan rangkaian atraksi berkelanjutan. Dengan dukungan pemerintah desa dan sponsor, semarak kemerdekaan bisa diperluas menjadi ajang pariwisata edukatif yang berdampak sosial dan ekonomi.” harapnya

Secara tak langsung, kegiatan ini juga meneguhkan identitas Desa Kuncen Sidodadi sebagai desa yang hidup dalam tradisi dan inovasi, di mana nilai gotong royong diperlakukan sebagai warisan berharga. Melalui partisipasi semua lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga lansia, desa ini menunjukkan bahwa kebersamaan mampu menembus sekat usia dan profesi, memperkokoh fondasi sosial guna masa depan.” pungkas Ipunk dari Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community mengomentari.
Perayaan Agustus tahun ini tidak hanya semarak di balai desa, tetapi juga membuktikan bahwa merayakan kemerdekaan tidak harus identik dengan parade militer atau upacara formal. Tawa emak-emak berlomba dan tepung beterbangan menyiratkan semangat yang sama, persatuan, kerjasama, dan kebanggaan sebagai bagian dari negara Indonesia.
Dengan segala keriuhan dan kehangatan yang tercipta, Desa Kuncen Sidodadi Delanggu, berhasil menorehkan catatan kecil namun bermakna dalam peta pariwisata kampung. Semoga momentum ini menginspirasi desa-desa lain untuk menciptakan festival lokal, meningkatkan rasa kebersamaan, dan memacu generasi muda meneruskan perjuangan pahlawan melalui kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
(Pitut Saputra)













