KLATEN, Merdekapostnews.top
Senin Pagi yang cerah kala Ipunk seorang Tour Guide Lokal dari Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community kembali menawarkan awak media buat melihat suasana unik di sekitar Desa Wisata Tjokro (04/08/2025).
Hari ini adalah pasaran Pon dalam kalender perhitungan Jawa dimana setiap kali pasaran Pon di Pasar Tradisional Cokro Daleman, Tulung dan sekitar selalu ramai dipadati pedagang dadakan dan pengunjung yang selalu menantikan hari pasaran tersebut, guna berbelanja di pasar yang komplit menyediakan berbagai kebutuhan pertanian dan rumah tangga.
Pasaran Pon di Daleman Cokro Tulung, Kecamatan Klaten, setiap pekan seolah, selalu menjadi magnet wisata bagi warga sekitar dan pengunjung luar daerah. Sejak pagi hingga sore hari, jalanan pinggir desa berubah menjadi hiruk-pikuk lapak pedagang dadakan. Dari jajanan tradisional seperti klepon, jadah, dan sego kucing, hingga tumpukan barang bekas, peralatan pertanian, dan aneka satwa, semuanya terasa meriah di bawah langit cerah Kecamatan Tulung ini.
Setiap sudut lapangan pasar menampilkan ragam produk lokal. Pedagang membuka dagangan di atas tikar plastik, keranjang bambu, atau meja kayu sederhana. Suara tawar-menawar bergema, membuat suasana semakin hidup. Namun di antara keramaian itu, tak jauh dari pasar tepatnya di pinggir jalan satu sudut panggung kerja tempa besi selalu berhasil mencuri perhatian, yakni stand kerajinan arit dan pisau milik Pak Bagong dari Koripan Delanggu.
Pak Bagong, sosok yang sudah malang-melintang di dunia tempa besi selama lebih dari tiga dekade, memang telah lama memulai usahanya di dusun Koripan Delanggu, tempat sentra kerajinan pandai besi dan pembuatan pisau. Di rumahnya yang sederhana, ia menjadikan gudang kecil bagian belakang sebagai bengkel kerajinan. Keterampilan menempa besi untuk menghasilkan arit dan pisau yang kokoh serta sudah diwariskan secara turun-temurun dalam keluarganya.
Setiap Pasaran Pon, ia beserta satu orang asisten setia memindahkan “bengkel jalanan nya” ke area Ngentak, tak jauh dari pasar Cokro, persis di pinggir jalan menuju objek wisata River Tubing Taman Banyu Gemblindhing (TBG). Langkah ini tidak hanya memperluas pangsa pasar, tapi juga memperkenalkan kerajinan lokal ke pengunjung wisata yang melintas.
Di lapak berdimensi sekitar lima meter persegi tersebut, tersusun barisan arit dan pisau dengan bentuk serta ukuran beragam. Ada arit tipis untuk membersihkan rumput muda, ada pisau cekung untuk memotong umbi-umbian, hingga pisau lipat kecil untuk kebutuhan rumah tangga. Berikut segenap perlengkapan pembuatan pisau tradisional. Harga yang ditawarkan sangat bersahabat, berkisar antara puluhan hingga ratusan ribu rupiah sesuai ukuran dan model.
Proses pembuatan sederhana namun memerlukan ketelitian tinggi, Menyiapkan bilah besi tua pilihan sebagai bahan baku, memanaskan besi di atas tungku arang hingga kemerahan, menempa besi dengan palu tangan hingga menipis sesuai bentuk, lalu melancipkan ujung bilah dengan menajamkan pada batu asah. Memasang gagang kayu jati atau mahoni yang telah dibentuk ergonomis, Setiap tahap dikerjakan berulang hingga kualitas optimal, memenuhi harapan petani dan ibu rumah tangga setempat.
Keberadaan stand kerajinan Pak Bagong yang bersebelahan dengan angkringan Sardot bukan sekadar lapak dagang biasa. Bagi petani, arit dan pisau hasil tempa lokal menjadi penolong utama di sawah, kebun, atau ladang. Bagi ibu-ibu rumah tangga, pisau kecilnya membantu menyiapkan sayuran, buah, dan bumbu masakan sehari-hari. Harga terjangkau membuat alat ini lebih mudah diakses daripada produk pabrikan bermerek.
Secara ekonomi, usaha ini menyerap tenaga kerja lokal, walau hanya satu asisten tetap. Uang yang berputar dari transaksi kerajinan ikut mendukung ketahanan rumah tangga dan UMKM di kediaman asalnya Koripan. Di sela-sela kesibukan, Pak Bagong juga menerima pesanan khusus, arit lebar untuk petani tebu, pisau dapur dengan pola ukir, hingga koleksi miniatur golok hias.
Meskipun memanfaatkan teknik dan peralatan sederhana, semangat Pak Bagong tidak pernah padam. Setiap pekan, ia membuktikan bahwa kearifan lokal mampu bertahan di tengah gempuran produk impor. Melalui workshop langsung di lapak, pengunjung dapat menyaksikan sendiri proses tempa besi, dari bara api menyala hingga cipratan percikan keluar saat palu bertemu besi.

Ritual sederhana di balik setiap hentakan palu itu jadi daya tarik tersendiri. Anak-anak berkerumun ingin melihat ‘api merah’, beberapa wisatawan lokal, dan warga kota juga penasaran seberapa tajam bilah yang baru dibuat. Interaksi spontan ini menjadi media edukasi tentang sejarah kerajinan tradisional Jawa yang semakin langka.
Bila Anda kebetulan melintas saat Pasaran Pon, sempatkan langkah untuk berhenti di stand workshop kerajinan pisau Pak Bagong, sebelah warung angkringan Sardot Karanglo Polanharjo. Sambil menyeruput wedang jahe, dengarkan cerita masa lalunya, tanya proses pembuatan, atau bicarakan desain yang Anda inginkan. Pengalaman ini tak hanya memanjakan mata, tapi juga menambah pengetahuan tentang warisan budaya tradisi tempa besi.
Heru Budi Santosa Kepala Desa Tjokro yang kebetulan juga sedang menservice ulang bendo atau pisau khusus buat menebang alang alang, di lapak Pak Bagong, berpesan “Jika berkelana sambil berburu oleh-oleh, pertimbangkan membawa pulang satu atau dua pisau buatan tangan ini. Selain fungsional, ia menyimpan nilai sentimental dan cerita desa Koripan Delanggu yang hadir di Tjokro dan Polanharjo. Sebuah kenang-kenangan yang bukan sekadar benda, melainkan simpul antara pembuat, pengguna, dan sejarah panjang warisan lokal.” pesannya.
Dirinya juga mengapresiasi Pak Bagong, “Melalui tekad dan ketekunan nya, tradisi tempa besi di Polanharjo tetap berdenyut. Seiring tanggapan positif pelanggan, ada harapan kelak terjalin kerjasama dengan pelaku pariwisata, pemerintah desa, atau lembaga budaya untuk memfasilitasi pelatihan generasi muda. Model integrasi wisata budaya dan produksi lokal semacam ini berpotensi meningkatkan daya tarik desa, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat identitas regional.” paparnya.
Lebih lanjut dikatakan “Dengan dukungan berkelanjutan, baik lewat pembelian, promosi di media sosial, maupun agenda festival kerajinan, keberadaan arit dan pisau tempa ini akan terus lestari. Semoga kelak cucu dan cicit Pak Bagong masih bisa merasakan vibration palu di atas landasan tempa, menjaga api tradisi ini agar tetap hidup.” ujarnya
Di balik setiap pamor barang antik atau berteknologi tinggi, ada kisah sederhana seperti di Ngentak Polanharjo ini, api bara yang menyala, palu yang beradu, dan tangan terampil yang menyulam besi menjadi alat bantu sehari-hari. Mari hargai dan lestarikan kerajinan arit dan pisau tradisional ini, agar warisan Pak Bagong terus menginspirasi generasi mendatang.
Terima kasih Pak Ipunk rekan Tour Guide yang membawa kami mengunjungi stand kerajinan tradisional ini, sekali lagi pak Ipunk dan Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community membuka wawasan wisata baru dan memperkenalkan kerajinan pembuatan pisau tradisional desa ini, yang menambah satu lagi perbendaharaan destinasi wisata layak kunjung di sekitar Cokro.
( Pitut Saputra )













