KLATEN, merdekapostnews.top
Yupi Let’s Speak Up mengunjungi dua sekolah dasar swasta di Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, untuk mengembangkan sosialisasi anti-bullying yang sebelumnya hanya berlangsung di sekolah negeri. Acara ini menjangkau total hampir 800 siswa di SDIT Taruna Teladan Delanggu dan SDI Muhammadiyah Delanggu, Jumat 01 Agustus 2025.
Setiap sesi sosialisasi berlangsung sekitar dua jam. Tim edukasi Yupi membuka dengan pengenalan berbagai bentuk bullying, fisik, verbal, hingga siber, menggunakan bahasa sederhana dan ilustrasi menarik. Peserta diajak berdiskusi mengenali kata dan tindakan yang dapat menyakiti teman, lalu mempraktikkan asertivitas untuk menolak ajakan negatif.
Metode pembelajaran memadukan storytelling animasi, drama simulasi, dan kuis interaktif. Karakter animasi lucu memperkenalkan skenario bullying, dilanjutkan siswa memerankan adegan dalam kelompok kecil. Kuis berbasis humor menguji pemahaman, di mana setiap jawaban tepat diganjar permen Yupi, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus informatif.
“Kami ingin anak-anak belajar dalam suasana seru, bukan ceramah. Interaksi langsung dan permainan membuat materi anti-bullying lebih mudah diingat,” ujar Ayu Koordinator Tim Edukasi Yupi Klaten.
Di SDIT Taruna Teladan yang memiliki kurang lebih 425 siswa, antusiasme terlihat dari keberanian beberapa anak bercerita pengalaman mereka menjadi sasaran ejekan. Sementara di SDI PK Muhammadiyah Delanggu yang berjumlah kurang lebih 345 siswa, murid-murid aktif mengangkat tangan menandakan solidaritas untuk membantu teman yang kesulitan.
Guru pendamping mengapresiasi program ini. Kepala Sekolah SDIT Taruna Teladan, Iping Priyatna, mengatakan, “Anak-anak jadi terbiasa mengungkapkan perasaan dan berani melaporkan jika melihat atau mengalami bullying. Kami berencana menjadikan sosialisasi ini bagian dari program tahunan.”
Penyelenggaraan di kedua sekolah swasta ini merupakan kolaborasi sinergis Yupi produsen permen sari buah dengan Instansi Pendidikan Sekolah Dasar di Klaten, serta Agency Xsell. Setelah sesi praktik di kelas, tim Yupi juga memberikan materi pendampingan singkat bagi guru dan orang tua, memaparkan tanda-tanda bullying dan strategi pencegahan di rumah.
“Penyelarasan antara sekolah dan keluarga penting agar pesan anti-bullying tidak berhenti di ruang kelas,” kata Damang Leader team edukasi Yupi Klaten. Ia menyambut baik rekomendasi sesi curhat rutin dan modul deteksi konflik untuk orang tua.
Delanggu menjadi salah satu titik roadshow Yupi Let’s Speak Up yang dilaksanakan serentak di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah Timur Indonesia. Setiap daerah menyesuaikan program dengan karakteristik budaya dan tantangan lokal.

Program ini mengusung lima nilai dasar, yakni saling mendengarkan, berani bersuara, mendukung teman, menjunjung toleransi, dan memanfaatkan keberagaman sebagai kekuatan. Kelima nilai tersebut dikemas dalam permainan dan seni kreatif untuk memudahkan anak-anak menerapkannya dalam keseharian.
Meski respons positif tinggi, tim Yupi mencatat sejumlah tantangan, kebiasaan guyonan kasar yang mengakar, waktu guru terbatas untuk kegiatan non-akademik, dan disparitas akses informasi antar sekolah. Untuk mengatasi hal ini, Yupi juga tengah merencanakan pemberian materi lanjutan bagi guru pendamping sebagai bagian pengembangan modul, untuk sosialisasi mandiri, serta evaluasi berkala bersama sekolah dan orang tua.
“Program ini bukan sekadar acara sekali jalan, melainkan fondasi ekosistem pendidikan karakter yang berkelanjutan,” tegas Budi Project Leader Yupi Let’s Speak Up Klaten.
Terpisah Kepala Sekolah SD Islam PK Muhammadiyah Delanggu Badri SE. S.Pd juga turut mengapresiasi jalannya kegiatan di sekolahnya oleh team edukasi Yupi. Dirinya sempat berpesan bahwasanya basic dari sekolah ini adalah Agama, karenanya nilai-nilai yang terkait dengan kaidah keagamaan Islam tentunya akan mendapat tempat dan hati tersendiri di hati siswa. Bila team edukasi bisa mentransfer materi dengan bahasa yang sederhana dan santun.

Antusiasme puncak tersaji saat seluruh siswa menutup kegiatan dengan yel-yel “Stop Bullying” dan “Ayo Peduli”. Dengan hampir 800 anak terlibat di dua sekolah swasta Delanggu, Yupi menegaskan komitmennya bahwa setiap anak, tanpa memandang status sekolah, berhak belajar di lingkungan yang aman, inklusif, dan penuh keceriaan.
Roadshow selanjutnya akan menyasar beberapa wilayah sekolah di pusat kota klaten lainnya, membuka peluang bagi sekolah negeri dan swasta di daerah terpencil maupun perkotaan untuk bergabung dalam gerakan Speak Up, Be Safe, Stay Happy.
( Pitut Saputra )













