KLATEN, merdekapostnews.top
Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, setiap tahun sekali warga nya bergotong-royong dalam menyelenggarakan Merti Tirto Kenduri Banyu, sebagai ungkapan syukur, ruwatan, dan penghormatan terhadap air yang mengalir di ladang, sumur, dan sawah warga (27/07/2025).
Tradisi ini telah menjadi simbol ikatan kuat antara masyarakat dengan alam, sekaligus pengingat betapa setiap tetes air adalah anugerah yang wajib dirawat. Ritual yang dimulai sejak siang hingga malam hari dengan berkumpul di halaman kantor desa Ponggok tersebut, dimana semua lapisan warga, mulai anak-anak hingga sesepuh, bersama-sama menyiapkan sesaji, alat musik tradisional, dan dekorasi sederhana.
Tatkala senja mulai merunduk di ufuk barat, setelah penampilan berturut turut Hadroh, Marchingband SDN Ponggok, Jathilan Tari Gedruk dan Topeng Ireng yang memukau, serta serah terima SK perangkat RT RW Desa Ponggok lama ke yang baru periode 2025 -2018. Rombongan resmi dilepas oleh Kepala Desa Ponggok. Dengan itung iringan bebunyian, gamelan, serta alat musik sederhana, kirab budaya mengiringi langkah, para peserta kirab yang berjalan tertib membawa kendi dan tempayan berisi air suci. Pranata acara mengatur peran tiap orang, dari pembawa sapu yang melambangkan pembersihan lingkungan, cucuk lampah hingga barisan ibu-ibu PKK, perangkat desa, pemuda karang taruna, serta mahasiswa KKN yang menjaga alur prosesi. Atmosfer kebersamaan dan rasa cinta pada alam menjadi jiwa pawai, menghidupkan kembali semangat gotong-royong yang seakan mengalir bersama air yang diangkut.
Dalam perjalanan, kirab berhenti di tujuh mata air pilihan yang tersebar di wilayah Desa Ponggok. Setiap mata air memiliki karakter air jernih khasnya, mulai dari ujung barat desa hingga perbukitan di utara, yang semua memancarkan kesegaran berbeda. Para peserta mengambil air secara bergiliran dengan penuh khidmat, seolah menimba berkah langsung dari perut bumi. Doa dan mantra sederhana dipanjatkan oleh tokoh adat sebelum air diangkat, memperkuat makna bahwa setiap titik mata air adalah pusat kehidupan yang harus dilindungi.
Sambil berjalan, ragam kesenian tradisional menambah semarak kirab. Penari mengenakan busana warna-warni memerankan siklus alam dalam gerak yang lentik. Sementara pada malam hari nanti lakon wayang kulit direncanakan menuturkan kisah tokoh penjaga hutan dan mata air, menegaskan hubungan manusia dengan semesta yang dipercaya menjaga alam. Sementara itu, tembang macapat yang mengalun di sela langkah memuja Sang Pencipta, mengingatkan bahwa keindahan seni budaya dan keutuhan ekosistem harus berjalan beriringan tanpa saling merusak.
Sesampainya di halaman kantor desa, air yang diangkut dari berbagai sumber dituangkan bersama ke dalam sebuah wadah besar yang dilapisi kain batik. Prosesi penggabungan air ini menjadi simbol ruwatan kolektif, pengusiran segala energi buruk dan janji bersama untuk memelihara sumber kehidupan. Sebagian air kemudian disiramkan kepada peserta kirab sebagai tanda berkah bagi tubuh dan jiwa, sedangkan sisanya dikembalikan ke titik mata air atau dipendam di lokasi strategis untuk menjaga keberlanjutan debit dan kejernihan.
Kepala Desa Ponggok kemudian membuka prosesi dengan menegaskan makna mendalam kenduri banyu. Ia mengingatkan bahwa air di sekitar desa berasal dari resapan hujan di lereng gunung Merapi dan Merbabu, dan bahawa kebersihan serta kelestarian hutan penyangga amat menentukan kelangsungan aliran air. Kesadaran ini harus menjadi dasar tindakan nyata, meminimalkan penebangan liar dan mencegah konversi lahan yang merusak fungsi resapan, agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Secara geografis, posisi Desa Ponggok di zona hilir pegunungan membuatnya bergantung pada infiltrasi air hujan yang meresap melalui lapisan tanah vulkanik. Proses alami ini mendorong munculnya mata air yang kemudian mengairi sawah, kolam, dan sumur warga. Pemahaman akan siklus hidrologi desa menjadi landasan bagi berbagai program pelestarian, sehingga masyarakat tidak hanya merayakan momen tahunan, tetapi juga memahami urgensi menjaga kawasan tangkapan air agar fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi serta keberlanjutan terjamin.
Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, tradisi kenduri banyu diintegrasikan dengan sejumlah program pemberdayaan masyarakat. Pelatihan konservasi lahan, teknik pembuatan sumur resapan, reboisasi dan penebaran benih untuk menjaga ekosistem serta praktik pembuatan biopori rutin yang digelar untuk meningkatkan kapasitas warga. Forum warga juga diadakan untuk merumuskan kebijakan pengelolaan air berbasis komunitas, sementara penyuluhan sanitasi memastikan kualitas air tetap aman untuk dikonsumsi. Semua inisiatif ini bertujuan guna memperkuat kerjasama antarlembaga desa, kelompok tani, organisasi masyarakat setempat, serta akademisi dan kalangan bisnis.
Sugeng Raharjo selaku Koordinator acara menegaskan bahwa warga Ponggok tidak hanya bersaudara satu sama lain, tetapi juga memiliki ikatan batin dengan alam Merapi. Ia mengajak semua pihak menindaklanjuti momentum ritual dengan aksi nyata, seperti penanaman pohon di sekitar mata air, patroli kebersihan sumber air, dan pemeliharaan jalur resapan. Dengan demikian, kenduri banyu bukan sekadar simbol tahunan, melainkan gerakan ekologis yang berkelanjutan, membumikan semangat gotong-royong dalam merawat warisan alam bagi generasi yang akan datang.
Pagelaran wayang kulit pada malam puncak mengusung tema tentang perjuangan melawan kekeringan, menggambarkan manusia dan leluhur alam bersinergi melestarikan desa. Dalang menutup lakon dengan wejangan halus tentang pentingnya harmoni antara manusia dan lingkungan. Sebelum tirai diakhiri, air suci dibagikan kepada penonton, melambangkan harapan agar keberkahan air terus mengalir ke seluruh kehidupan Desa warga, memberi rasa aman, kesejahteraan, dan kelestarian untuk hari esok.
Lebih dari sekadar festival budaya, Merti Tirto, kenduri banyu di desa Ponggok menanamkan kesadaran kolektif akan tanggung jawab antar generasi. Setiap tetes air yang mengalir di ladang, sawah, dan sumur tak hanya menjamin masa kini, tetapi juga menyulam harapan bagi masa depan. Dengan semangat kekeluargaan, kecintaan pada alam, dan komitmen menjaga tradisi, warga Desa Ponggok meneguhkan tekad memelihara kehidupan agar nikmat berkah air terus dirasakan oleh anak cucu yang akan datang.(Pitut Saputra)













