KLATEN, Merdekapostnews.top
Festival Desa Palar tahun ini menjadi ajang kebanggaan warga masyarakat Palar Klaten dan sekitarnya. Sejak malam sebelumnya, seluruh panitia berkolaborasi mempersiapkan acara, mulai dari dekorasi hingga logistik. Nuansa gotong-royong terasa kental saat mahasiswa KKN dan warga desa saling membantu. Fokus utama kegiatan kali ini adalah workshop dan pelatihan anyaman dengan bahan rotan, kertas daur ulang, hingga pelepah pisang serta eceng gondok. Kegiatan terbuka bagi peserta umum dan penyandang disabilitas untuk memastikan inklusivitas (24/07/2025).
Panitia Festival Desa Palar telah memetakan setiap sudut ruang PKK untuk dekorasi panggung. Nurbertus Trisno Nugroho, Pembina Sanggar Seni Mewarnai Dunia Palar Trucuk, memimpin tim mahasiswa dalam merancang nuansa artistik. Berbagai hiasan daun kering, kain, dan aksesori kertas daur ulang menghiasi ruang belajar. Sementara itu, beberapa perwakilan mahasiswa mendampingi pemateri dan mempersiapkan modul pelatihan. Semangat kekeluargaan tumbuh saat mereka mengecek ulang daftar hadir menata kursi serta berbagai perlengkapan sebelum hari H.
Pelatihan ini difokuskan pada teknik anyaman berbahan lokal yang beragam, mulai dari rotan yang klasik, lentur, dan tahan lama, kertas daur ulang yang diolah menjadi lembaran anyaman artistik, eceng gondok kering sebagai alternatif ramah lingkungan untuk anyaman modern, serat pisang yang diekstraksi dari pelepahnya untuk anyaman ringan berbobot, biji jali kering yang memperkaya variasi tekstur dan warna pada ragam souvenir, hingga sesi memasak beras jali dan tepung jali sebagai bahan pangan alternatif rendah gula. Para peserta diajak mengeksplorasi keunikan setiap bahan, mengasah keterampilan anyaman, serta memahami potensi ekonomi dan ekologisnya, sehingga hasil karya tidak hanya estetik tetapi juga berkelanjutan.
Ketika ayam berkokok waktu yang ditentukan telah datang dan peserta KKN serta kepanitiaan telah bersiap. Maka tepat pukul 8 pagi, acara dimulai dengan simbolik penanaman tanaman Jali sebagai kenang kenangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) par mahasiswa/i dari Kelompok 219 dan 220 dari Universitas Negeri Islam (UIN) Raden Mas Said Surakarta 2025. Ibu-ibu PKK juga sudah mulai bersiap serta para pemateri telah menyiapkan sampel produk dan bahan baku di meja workshop, guna memberikan gambaran hasil akhir yang memukau.
Sutiyono, crafter profesional rotan dan produk recycle, menjadi narasumber utama. Ia membagikan teknik dasar menganyam pola segi empat, diagonal, hingga jalinan kompleks. Setiap langkah ditunjukkan secara langsung, membantu peserta memahami tekstur dan kekuatan bahan. Materi pelatihan juga mencakup tips memilih bahan berkualitas dan merawat produk jadi agar tahan lama. Peserta diberikan kebebasan bereksperimen, mendorong kreativitas pribadi dalam kerajinan anyaman.
Rundown acara yang telah dirancang padat namun fleksibel untuk menyerap antusiasme peserta. Kegiatan dibuka pukul 08.00 WIB dengan penanaman jali di area terbuka desa oleh tim mahasiswa KKN. Aktivitas simbolis ini mengajak warga untuk merawat lingkungan sekaligus menggambarkan benih kreativitas yang akan tumbuh. Selanjutnya, sesi pendaftaran ulang dan sambutan resmi dari Kepala Desa Palar, dan panitia satu persatu mengalir berjalan lancar. Setelah itu, workshop anyaman dimulai dengan pengenalan bahan dan alat, yang dilanjutkan praktik langsung di ruang kerja bagian dalam Aula Gedung TP PKK Desa Palar dan diikuti oleh komunitas disabilitas dan umum. Sementara untuk Workshop memasak dan pengolahan Jali bersama ibu-ibu PKK berlangsung di pelataran luar aula.
Salah satu kekuatan workshop ini adalah metode interaktif. Peserta dibagi berkelompok dan masing masing membuat produk yang berlainan, panitia memfasilitasi diskusi dan tukar pengalaman. Mahasiswa pendamping siap membantu setiap kesulitan teknis, mulai dari mengukur panjang rotan hingga mengikat simpul. Sutiyono berkeliling untuk memberi masukan personal, meningkatkan kepercayaan diri peserta. Bagi penyandang disabilitas, panitia menyediakan meja dan kursi khusus, serta panduan berbasis lisan dan bahasa khusus bagi peserta tuna wicara.
Antusiasme peserta terlihat saat waktu tepat pukul 10.00 WIB, suasana ruang workshop semakin meriah. Alunan musik pengiring santai dan lembut menemani ketukan ujung rotan saat peserta menganyam. Senyum dan gelak tawa muncul tiap kali benang kertas terurai tidak sempurna, menciptakan momen belajar bersama. Beberapa ibu-ibu PKK berbagi resep anyaman tradisional yang diwariskan turun-temurun. Mahasiswa dan warga saling memamerkan hasil sementara, meningkatkan semangat untuk menyelesaikan produk. Sementara di luar ruang momentum pengolahan jali juga berlangsung seru dan menarik.

Penyajian Produk dan Evaluasi
Setelah kurang lebih dua jam praktek intensif, setiap peserta menata karya mereka di meja display. Juri internal panitia menilai berdasarkan kreativitas, kerapihan, dan pemanfaatan bahan. Ada keranjang rotan multifungsi, tatakan gelas dari enceng gondok, hingga kap lampu dari kertas daur ulang berdesain kontemporer. Para peserta mendapatkan pengalaman dan umpan balik langsung untuk pengembangan ke depan. Diskusi singkat menyuntikkan ide kolaborasi antara UMKM lokal dan pelaku kreatif desa.
Salah satu nilai utama festival adalah memastikan akses bagi penyandang disabilitas. Ruang workshop yang ramah roda memungkinkan peserta kursi roda bergerak leluasa. Materi pelatihan disiapkan juga dalam format bahasa yang mudah dipahami beserta pendampingan penerjemah tunanetra. Pendamping disabilitas juga hadir untuk memastikan setiap peserta mendapatkan bantuan optimal. Model inklusif ini diharapkan menjadi contoh bagi desa lain di Klaten.
Pelatihan anyaman dan pengolahan Jali ini, membuka wawasan baru bagi UMKM desa Palar. Karya anyaman bisa menjadi peluang dan produk unggulan untuk pasar wisata eco-culture tourism Desa Palar. Bahan lokal yang terjangkau menurunkan biaya produksi, sementara nilai artistik menambah harga jual. Kolaborasi antara crafter, mahasiswa, dan pengrajin desa memperkuat jaringan ekonomi kreatif. Dalam jangka panjang, inisiatif ini diharapkan meningkatkan pendapatan keluarga dan memberdayakan kelompok rentan.
Harapan dan langkah selanjutnya
sebagai bagian dari serangkaian kegiatan menuju Festival Desa Palar. Workshop dan pelatihan ini telah menanam benih semangat kolaborasi dan kreativitas. Ke depan, pelatihan lanjutan direncanakan mencakup teknik pewarnaan alam, desain produk, hingga pemasaran digital. Desa Palar akan menjadi salah satu pusat studi anyaman berbahan daur ulang di Klaten. Mahasiswa KKN berperan sebagai fasilitator program jangka panjang, mendampingi prototipe hingga menghasilkan produk jadi. Pemerintah desa pun diharapkan memberikan dukungan serta peluang skema bantuan permodalan.
Workshop dan pelatihan anyaman menuju Festival Desa Palar bukan sekadar ajang belajar teknik kerajinan. Ia menjadi wadah memperkuat jaringan sosial, merawat kearifan lokal, dan mendorong inklusivitas. Semangat gotong-royong peserta, dari mahasiswa hingga penyandang disabilitas, menjadi modal penting membangun ekonomi kreatif desa. Ketika setiap jalinan rotan dan kertas teranyam, begitu pula harapan baru tumbuh di tengah komunitas. Desa Palar siap menorehkan cerita inspiratif bagi Indonesia.
( Pitut Saputra )













