KLATEN, Merdekapostnews.top
Pagi itu Joglo Latar Tjokro menyambut kehadiran Budi yang mewakili Yupi Jakarta dan Damang yang mewakili Yupi Solo Raya. Keduanya baru saja memantau pelaksanaan program Yupi Let’s Speak Up di Sekolah Dasar Negeri SDN 1 Delanggu (15/07/2025).
Setelah itu rombongan bergerak menuju kantor desa Tjokro dengan semangat menyalurkan gagasan sinergi antara program literasi anti bullying dan potensi pariwisata lokal. Suasana awal tampak hangat ketika Didik yang mewakili kepala desa Heru Budi Santosa menyambut tim Yupi. Obrolan ringan berubah menjadi diskusi yang mendalam tentang bagaimana arsitektur joglo yang tradisional dan lanskap asri desa dapat menjadi titik tolak bagi pengalaman belajar yang inspiratif bagi anak-anak.
Pertemuan hari itu membuka lembaran baru dalam menjalin kemitraan antara sektor swasta dan pemerintahan desa. Tim Yupi memaparkan latar belakang inisiatif edukasi tentang toleransi dan keterampilan sosial dalam menghadapi bullying. Mereka menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk memadukan interaksi langsung, latihan berbicara di depan kelompok, dan kegiatan refleksi dengan pendekatan yang menyenangkan sehingga anak-anak tidak merasa tertekan. Sementara itu Didik mengungkapkan kesiapan sekolah di desa Tjokro yang sudah merencanakan ruang kelas di luar bangunan utama dan memprioritaskan pedagogi berbasis pengalaman. Diskusi berkembang pada gagasan membawa beberapa modul langsung ke teras Joglo Latar Tjokro agar nuansa tradisi dapat memperkuat daya tarik belajar.
Sejak siang hingga menjelang sore, peserta rapat pertemuan membayangkan bagaimana konsep edu tourism dapat dibangun secara terpadu. Joglo Latar Tjokro yang dikelilingi pepohonan rindang dan hamparan persawahan menawarkan panggung alami untuk sesi Yupi Let’s Speak Up. Anak-anak akan duduk melingkar lesehan di lantai joglo sambil menikmati pemandangan alam yang asri. Dengan latar arsitektur yang memancarkan kehangatan tradisi, materi tentang empati dan penghormatan terhadap perbedaan dapat diterima lebih mudah. Setelah sesi utama selesai, kelompok akan diajak berjalan kaki singkat menuju beberapa potensi wisata Desa Tjokro. Di sana setiap siswa diajak berdiskusi tentang pentingnya melindungi lingkungan sekaligus melatih keterampilan berkomunikasi dengan saling mendengarkan.
Desa Tjokro memiliki kekayaan kearifan lokal yang beragam mulai dari tradisi gotong royong membersihkan saluran irigasi hingga ritual adat panen padi dan bersih sungai. Semua itu menjadi sarana bagi anak-anak untuk memahami nilai tanggung jawab dan solidaritas. Saat mempraktekkan simulasi kegiatan bersama warga, siswa belajar menyusun strategi menghadapi situasi konflik sederhana dan menerapkan pola komunikasi yang mengedepankan perdamaian. Di sela eksplorasi lapangan mereka juga diajak mengenal potensi desa TJokro sembari menggabungkan tema anti bullying, karena pendidikan karakter dapat lahir dari interaksi dengan alam dan budaya.

Gagasan lebih jauh mencakup pagelaran pentas kreasi di akhir rangkaian program. Meski masih dalam perencanaan dan konsolidasi lebih lanjut. Sebagai gambaran, anak-anak akan menampilkan kreativitas dan bercerita tentang pengalaman sehari hari di sekolah, atau puisi yang mengejawantahkan suara hati yang tertekan akibat bullying, serta tarian kolaborasi dengan akrobatik sederhana di atas panggung Joglo Latar Tjokro.
Pastinya masih banyak ide dan beragam gagasan lain dalam ajang ini yang bertujuan memberi kesempatan bagi mereka untuk mengekspresikan pemahaman tentang harmoni sosial secara kreatif. Lebih penting lagi orang tua, guru, tokoh masyarakat, dan perwakilan swasta akan hadir sebagai pengisi kegiatan sekaligus panelis yang memberikan umpan balik konstruktif. Dengan begitu suasana belajar bergeser melampaui ruang kelas formal menjadi pengalaman hidup yang mempersatukan pesan toleransi dan saling menghargai.
Pembicaraan terkait program tentunya tak cukup dalam satu hari, namun setidaknya dari hasil survey dan pemantauan lokasi sudah ada sedikit gambaran terkait kolaborasi sinergis kedepannya.
Tentu saja membangun kolaborasi antar sektor bukan tanpa tantangan. Sinkronisasi jadwal program Yupi dengan agenda pemerintahan desa memerlukan perencanaan matang. Ketersediaan fasilitas, materi, sound system, dan materi ajar harus disiapkan jauh hari. Kualitas koneksi internet yang terbatas di beberapa sudut desa juga dapat menjadi hambatan saat mengintegrasikan konten multimedia. Selain itu budaya kerja instansi swasta dan pemerintahan desa memiliki ritme yang berbeda sehingga adaptasi tim menjadi kunci sukses. Untuk mengatasi hal ini ke depan memang perlu dibuat jadwal rapat koordinasi berkala, modul pelatihan tim gabungan, serta kerangka kerja sama yang jelas memuat tanggung jawab masing masing pihak.

Sebagai langkah lanjutan kedua belah pihak sepakat menggelar pertemuan resmi setelah rombongan Yupi menyelesaikan roadshow literasi dan sosialisasi Anti Bullying di berbagai sekolah di Klaten. Dalam pertemuan itu nantinya akan dirumuskan nota kesepahaman berisi alur anggaran, alokasi sumber daya, dan indikator keberhasilan program. Tim desa akan menyiapkan data demografi sekolah dan pemetaan infrastruktur, sedangkan tim Yupi akan memfinalisasi rincian materi ajar serta kebutuhan logistik. Setelah itu tim gabungan akan melakukan survei lapangan lebih detail dan merancang jadwal schedule kerja beesama relawan lokal agar mereka mampu memfasilitasi setiap sesi dengan baik.
Harapan utama dari sinergi ini adalah tumbuhnya generasi muda desa Tjokro yang tidak hanya cerdas akademis tetapi juga kuat berkarakter. Dengan memadukan pengalaman budaya dan wawasan anti bullying, anak anak akan lebih memahami arti kebersamaan serta mampu mengatasi konflik dengan kepala dingin. Program edu tourism ini juga diharapkan meningkatkan kunjungan wisata edukatif ke desa sehingga memberi multiplier effect bagi ekonomi lokal. Keberhasilan upaya ini akan menjadi contoh nyata bagi desa-desa lain bahwa kemitraan Pentahelix antara swasta dan pemerintahan dapat menghasilkan inovasi pendidikan yang memperkaya hidup masyarakat dan melestarikan warisan budaya.
( Pitut Saputra )













