Bandung, Merdekapostnews.top
Pernyataan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terkait peran media sosial yang disebutnya mampu menggantikan peran media massa atau pers, memicu kontroversi di kalangan jurnalis dan pegiat demokrasi. Pernyataan tersebut dinilai berpotensi mereduksi peran pers yang selama ini menjadi pilar keempat demokrasi.
Dalam sebuah acara di Bandung, Selasa (2/7/2025), Dedi menyebutkan bahwa masyarakat saat ini bisa langsung mendapatkan informasi dari media sosial, sehingga kehadiran media konvensional disebutnya “tidak lagi terlalu krusial”.
“Era sekarang semua orang bisa menjadi sumber informasi, bahkan lebih cepat dari media konvensional. Kita harus realistis melihat perkembangan ini,” ujar Dedi di hadapan peserta forum diskusi tersebut.
Namun, pernyataan itu langsung mendapat sorotan tajam dari sejumlah organisasi pers dan pemerhati kebebasan berekspresi. Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung, Arif Supriyono, menilai pernyataan tersebut keliru dan berbahaya jika dibiarkan tanpa klarifikasi.
“Media sosial memang cepat, tapi tidak ada mekanisme verifikasi yang ketat seperti di media profesional. Kalau peran pers direduksi, maka yang berkembang adalah informasi yang belum tentu benar atau bahkan hoaks. Ini jelas ancaman bagi kualitas demokrasi kita,” tegas Arif.
Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Demokrasi dan Media (LSDM), Fitri Hidayati, menyebut bahwa pernyataan Gubernur Jabar bisa memicu persepsi publik yang salah mengenai peran pers.
“Pers bukan sekadar penyampai informasi, tapi memiliki fungsi kontrol, edukasi, dan advokasi yang tidak bisa digantikan oleh media sosial yang sifatnya instan dan rawan manipulasi,” kata Fitri.
Fitri juga mengingatkan bahwa data dari Kominfo menunjukkan sepanjang tahun 2024 terdapat lebih dari 13 ribu konten hoaks yang tersebar di media sosial di Indonesia. Fakta ini, menurutnya, menunjukkan bahwa peran media profesional yang terverifikasi justru semakin dibutuhkan, bukan diremehkan.
Menanggapi kontroversi tersebut, Dedi Mulyadi akhirnya memberikan klarifikasi melalui akun resminya di Instagram pada Rabu (3/7/2025) malam. Ia menyatakan tidak bermaksud meremehkan pers, namun lebih menyoroti pentingnya semua pihak beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi.
“Saya tidak pernah mengatakan pers tidak penting. Justru saya selalu mendorong insan pers untuk tetap jadi garda terdepan melawan disinformasi. Tapi kita semua juga harus sadar bahwa dunia sudah berubah, dan semua pihak harus beradaptasi,” tulis Dedi.
Meski begitu, sejumlah kalangan tetap berharap Dedi lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan terkait peran media, mengingat posisinya sebagai kepala daerah memiliki pengaruh besar terhadap persepsi publik.(Red)













